Para Khalifah yang memerintah Dinasti Abbasiyyah Periode Kedua

Posted on: September 10, 2020, by :

Para Khalifah yang memerintah Dinasti Abbasiyyah Periode Kedua

Periode kedua Dinasti Abbasiyyah merupakan periode kemunduran Dinasti abbasiyyah. Hal itu terjadi dikarenakan Khalifah yang memimpin lemah dan hidup bermewah-mewahan, luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyyah yang harus dikendalikan sementara komunikasi sangat lambat, ketergantungan yang berlebih terhadap tentara militer yang terdiri dari orang-orang Turki, dan kesulitan keuangan dikarenakan gaji tentara sangat tinggi.

Adapun khalifah-khalifah pada periode ini diantaranya yaitu :

1. Al-Mutawakkil (232 H/847 M – 247 H/861 M)
Al Mutawakkil adalah putra dari khalifah Al-Mu’tashim yang menjabat sebagai Khalifah pada tahun 232 H/847 M setelah menggantikan saudaranya Al-Watsiq. Al Mutawakkil memerintah selama 14 tahun 9 bulan.
Sejak masa pemerintahan al-Mutawakkil telah ada usaha-usaha menjauhi kekuasaan orang-orang Turki. Ia juga menentang faham mu’tazilah, ia membebaskan orang-orang ahlussunnah yang dipenjarakan pada peristiwa mihnah. Para tawanan perang pun baru dapat ditebus jika telah memberi kesaksian bahwa Alquran bukanlah makhluk Allah. Ia mendekati para petani dan pedagan, memperbaiki kanal, menunda pembayaran pajak tanaman sampai buahnya matang, akan tetapi kekuasaan khlaifah belum begitu kuat sehingga ia kembali didominasi oleh oragn-orang turki. Revolusi revolusi yang terjadi pada era ini adalah revolusi Babak al-Kharmi, revolusi al-Maziar, revolusi Zang, dan revolusi Arab. Sementara itu, kondisi ekonomi yang awalnya sangat melimpah dan kaya mulai mengalami penyusutan karena banyaknya pengeluaran, khususnya keharusan memberi gaji atau upah bagi tentara turki.[4]
Usaha perbaikan ekonomi telah dimulai oleh khalifah pertama dari periode ini, ia menangguhkan pembayaran pajak tanaman hingga tanaman tersebut matang. Akan tetapi, sebelum kebijakan ini menjadi sebuah tradisi atau kebijakan, khalifah al-Mutawakkil telah dibunuh. Dengan demikian, keadaan ekonomi-politik kembali seperti sebelumnya bahkan menjadi lebih parah.
2. Al-Muntashir
Al-Muntashir ialah khalifah Abbasiyah di Baghdad dari 861 hingga 862M. Al-Muntashir naik secara mulus ke tahta kekhalifahan pada 861 dengan dukungan faksi Turki setelah pembunuhan ayahandanya oleh seorang perwira Turki. Berlawan dengan pendirian ayahnya Khalifah Al Mutawakkil yang lebih memihak sunni, Al-Muntashir atas saran dari wazir Ahmad ibn Khashib mengeluarkan dekrit yang mengizinkan para pengikut sekte Syi’ah untuk melakukanziarah kembali kepada tempat-tempat yang terpandang suci oleh sekta syiah sehinggaAl-muntashir sangat di puji-puji oleh golongan syiah.
Al-Muntashir meninggal pada tahun 248 H/862 M menjelang hari raya Idul Adha di usia 26 tahun. Masa pemerintahannya hanya berlangsung selama enam bulan. Masih belum pasti penyebab kematiannya namun ada yang mengatakan penyebabnya adalah karena diracun.[5]
3. Al-Musta’in
Al-Musta’in naik menjabat khalifah dalam usia 27 tahun pada tahun248 H/862 M menggantikan Khalifah Al-Muntashir atas penunjukan dari bangsa Turki. Di masa pemerintahannya banyak terjadi kerusuhan dan pembebasan diridari kekuasaan-kekuasaan setempat. Terjadi pula kudeta terhadap Al-Muntashir hingga akhirnya Al-Muntashir diturunkan dari jabatannya dan diangkatlah Al-Mu’tazz sebagai khalifah. kemudian ia pun dikirim ke kota Wasith dan disana ia pun dibunuh orang. Masa pemerintahannya berlangsung hanya tiga tahun dan berakhir pada tahun 252 H/ 866 M. [6]
4. Al-Mu’tazz
Al-Mu’tazz mulai menjabat sebagai khalifah pada tahun 252 H/ 866 M dan berusia 20 tahun pada saat itu. ia langsung dari kegelapan relung penjara naik memegang tambuk kekuasaan. Saudaranya Al-Muayyad yang sama-sama keluar dari penjara kemudian diangkatnya menjadi Panglima Besar kerajaan. Al-Muayyad sangat dihormati dan dimuliakan oleh penduduk ibukota Baghdad. Hal ini menilbulkan kecemburuan khalifah Al-Mu’tazz. Menjelang pengunjung tahun 252 H/866 M khalifah Al-Mu’tazz memerintahkan untuk menangkap adiknya tersebut. akhirnya Al-Muayyad di tangkap dan dipenjarakan sampai meninggal.
Pada masa pemerintahannya terjadi berbagai kerusuhan diantaranya yaitu kerusuhan yang dilakukan oleh golongan khawarij. Golongan khawarij tersebut melakukan pemborantakan di wilayah Mosul, Irak Utara dibawah pimpinan Musamir Al-Khariji. Kerusuhan ini terjadi selama enam tahun lamanya dengan kemenangan yang silih berganti hingga akhirnya Musamir Al-Khariji tewas dalam pertempuran pada tahun 258 H/ 872 M dan sisa-sisa pengikutnya porak poranda. Pada masa ini pula lahir dua buah dinasti baru yaitu dinasti shaffariah dalam wilayah Iran dan dinasti thuluniah di Mesir. Al –Mu’tazz meninggal pada usia 24 tahun karena siksaan yang sangat kejam yang dilakukan kaum pemberontak dari tentara ibu kota Samarra yang menyerbu ke dalam istana secara langsung.
5. Al-Muhtadi
Al-Muhtadi adalah putra dari Khalifah Al-Watsiq. ia diangkat menjadi khalifah menggantikan Al-Mu’tazz pada usia 37 tahun. Ia bukanlah seorang militer akan tetapi seorang ulama yang menyerahkan kehidupannya untuk kepentingan agama dan sikap hidupnya taat dan warak.[7]
Pada masa awal pemerintahannya, Al-Muhtadi mengeluarkan dekrit yang melarang segala jenis hiburan kepelesiran dan seluruh perbuatan munkarat. Ia pun menyingkirkan seluruh penyanyi wanita (al-Mughniat) dari istana khalifah. Pada masanya juga muncul gerakan Zangi di Basrahyang lambat laun semakin meluas.
Akhir dari kekuasaannya yaitu kekalahannya dalam melawan panglima Musa ibn Begha salah satu kaum elite yang dirugikan oleh Al-Muhtadi. Pasukan Al-Muhtadi merasa tidak sebanding dengan pasukan Musa ibn Begha yang ahli dalam strategi perang. Namun Al-Muhtadi tetapmemaksakan melawan hingga maka terjadilah kudeta. Al-Muhtadi berusaha melarikan dirinamun berhasil tertangkap dan di bunuh. Al-Muhtadi memerintah hanya selama 11 bulan. Ia meninggal pada usia 38 tahun pada tahun 256 H/870 M.

Recent Posts