Guru-guru Al-Jaṣaṣ

Posted on: September 3, 2020, by :

Guru-guru Al-Jaṣaṣ

Al-Jaṣaṣ memiliki guru yang masing-masing guru tersebut mempunyai disiplin ilmu tersendiri, di antaranya yaitu:
1. Abi al-Hasan al-Karahy. Dari Abi al-Hasan al-Karahy-lah beliau mendapat ilmu zuhud.
2. Aby Ali al-Farisy dan Aby Amr Ghulam Tsa’lab tentang ilmu lughat
3. Aby Sahl al- Zarjaji tentang ilmu fiqh
4. Al- Hakim al-Naysaburi tentang hadits.

2.2 Metodologi Penafsiran Al-Jaṣaṣ

Sekilas Tentang Kitab Ahkamul Qur’an
Karangan yang paling monumentalnya ialah Tafsir Ahkam Al-Qur’an atau yang dikenal dengan tafsir al-Jaṣhaṣ. Kitab Tafsīr Ahkām Al-Qur’an adalah kitab tafsir yang dikarang oleh Ahmad ibn ‘Ali al-Razy. Kitab tafsir ini merupakan kitab tafsir yang dijadikan rujukan oleh ulama’-ulama’ Hanafi tentang fikih, karena tafsir Ahkam al-Qur’an ini adalah kitab Tafsir yang isinya atau tafsirannya mengarah kepada permasalahan fikih atau bisa dibilang kitab ini adalah kitab fikih. Khususnya fikih Hanafi.

Kitab Tafsīr Ahkām Al-Qur’an merupakan kitab tafsir yang istimewa, karena penafsirannya menggunakan metode bil Ma’tsūr (penafsiran dengan metode mengutip keterangan yang ada dalam Al-Qur’an, Sunnah, atau kata-kata sahabat sebagai penjelasan terhadap firman Allah) sedangkan biasanya orang yang bermazhab hanafi lebih condong kepada ra’yi dari pada riwayat. Al-Jaṣaṣ adalah penganut aliran ahlu as-Sunnah wal Jama’ah tetapi ada sebagian orang yang memandang beliau sebagai penganut aliran muktazilah, dengan dalil dalam tafsirannya beliau ada tafsiran yang mengarah pada aliran muktazilah.

2.3 Tafsir Sholat Jum’at dalam QS. Al-Jumu’ah : 9-11

(9) Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (10) apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (11) dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik pemberi rezeki”.
Allah berfirman,

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at”
Menurut kesepatan mereka mengenai maksud dari seruan (panggilan) disini adalah mengumandankan adzan, dan tata cara adzan tidak dijelaskan dalam ayat ini. Tetapi dijelaskan dalam hadits Rasul tentang mimpi Abdullah bin Zaid, bahwasanya di dalam mimpi tersebut Rasulullah mengumandangkan adzan. Dan Umar pun juga bermimpi seperti halnya mimpi Ibnu Zaid.
Dalam Al-Qur’an. Nabi mengajari Abu Mahdzurah, lalu beliau pun menyebutkan takbir berkali-kali dalam permulaan adzan, dan telah kami sebutkan hal itu di dalam firman Allah
“Dan apabila kita diseru (dipanggil) untuk mengerjakan sholat” (Al-Ma’idah:58).
Dalam hadits Nabi. Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Hasan, di dalam firman Allah

“Apabila diseru (dipanggil) untuk mengerjakan sholat di hari jum’at”.
Nabi bersabda “Apabila imam sudah keluar dan mu’adzin telah mengumandangkan adzan, maka hal itu menandakan seruan kepada kita untuk segera melaksanakan sholat”.
Allah berfirman,
“Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan meninggalkan jual beli”
Dalam hadits Nabi, telah diriwayatkan az-Zuhri dari Ibnu Musayyib dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda : “Apabila hari Jum’at tiba, maka disetiap pintu masjid terdapat malaikat yang mencatat siapa saja yang hadir lebih dahulu (untuk menghadiri sholat jum’at). Apabila imam telah duduk (di atas mimbar), mereka menutup lembaran catatan untuk turut mendengarkan khutbah. Misal orang yang datang pada awal jum’at bagaikan orang yang berkurban seekor unta, kemudian (orang yang datang berikutnya) bagaiakan orang yang berkorban seekor sapi, kemudian (orang yang datang berikutnya) bagaikan orang yang berkurban seekor domba, kemudian (orang yang datang berikutnya) bagaikan orang yang berkurban seekor ayam, kemudian (orang yang datang berikutnya) bagaikan orang yang berkurban sebutir telur”

Recent Posts