Delirium Gambaran Klinis, Etiologi, Faktor Risikonya

Posted on: July 28, 2020, by :
Delirium Gambaran Klinis, Etiologi, Faktor Risikonya

Delirium Gambaran Klinis, Etiologi, Faktor RisikonyaDelirium Gambaran Klinis, Etiologi, Faktor Risikonya

Delirium (acute confusional state) merupakan kondisi kegawatdaruratan yang sering ditemui dan berpotensi menimbulkan morbiditas dan mortalitas. Diagnosis delirium sering kali sulit ditegakkan, karena kondisi ini berada di antara kesadaran penuh (awake) dan stupor. (Yudofsky SC, et al, 2008)

Definisi delirium adalah awitan akut dari gangguan kognitif dan gangguan kesadaran yang berfluktuasi. Delirium umumnya terjadi pada lanjut usia dan memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Para lanjut usia sangat rentan terhadap delirium bahkan dalam perjalanan penyakit fisik ringan atau sebagai efek samping obat.

Kejadian delirium pada lanjut usia empat kali lebih tinggi dibandingkan dewasa muda. Delirium akan mencapai angka tertinggi pada usia diatas 70 tahun. Masalah ini menjadi fokus perhatian karena meningkatnya biaya perawatan serta dampak yang sangat besar terhadap penderita delirium.

Selain itu delirium juga menjadi masalah kesehatan di masyarakat yang cukup signifikan, karena berhubungan dengan adanya penurunan kognitif dan fungsional bagi penderita, komplikasi penyakit medis yang dialami, serta meningkatkan penggunaan sumber dana, tenaga maupun risiko kematian. (Samuels CS, et al, 2005; Khurana PS, et al., 2002)

Ditemukan pada hasil penelitian tahun 2004 bahwa pasien lanjut usia yang pernah mengalami delirium menunjukkan angka kematian dua kali lebih besar, dibandingkan yang tidak mengalami delirium. (Duppils GS & Wikblad K, 2004) Hal inilah yang mendorong minat peneliti untuk melakukan upaya deteksi dini delirium pada kelompok lanjut usia.

Prevalensi delirium di komunitas orang dewasa terjadi sekitar 1%. Prevalensi delirium pada kasus gawat darurat 10% dan kasus penyakit terminal 40%. Penelitian lain melaporkan prevalensi delirium yang berada di rumah sakit sekitar 15%-25%. Di USA sekitar 25-60% pasien perawatan adalah pasien lanjut usia. Tingkat kematian terjadi sekitar 25-33% pada pasien lanjut usia tersebut. (Leentjens AFG, et al., 2005) Hal ini menjadi sangat penting karena 48% dari semua hari perawatan di rumah sakit merupakan kasus delirium lanjut usia.

Berdasarkan statistik kesehatan USA (1994), jumlah delirium lebih dari 2,3 juta lanjut usia dengan 17,5 juta hari perawatan setiap tahun. Biaya kesehatan yang dikeluarkan sekitar USD 8 miliar per tahun. Bila lama hari perawatan dari setiap pasien delirium lanjut usia dikurangi satu hari, maka biaya perawatan dapat dikurangi USD 1-2 milyar per tahun. Oleh karena itu diagnosis yang cepat dan tepat serta pengelolaan delirium yang baik, dirasakan sangat diperlukan

Delirium berasal dari bahasa Latin “deliro—to be crazy”. Delirium adalah suatu sindrom yang etiologinya tidak khas. Delirium ditandai dengan gangguan kesadaran disertai dengan gangguan atensi, kognitif, persepsi, daya ingat, perilaku psikomotor, emosi, dan gangguan siklus tidur yang terjadi secara akut dan fluktuatif. (Samuels CS, et al., 2005)

Gejala utama dari delirium adalah gangguan kesadaran atau kebingungan mendadak yang terjadi bersama-sama dengan perubahan kognitif yang berkembang dengan periode yang sangat singkat biasanya dalam beberapa jam hingga hari dan cenderung berfluktuasi dalam periode satu hari. (Samuels CS, et al., 2005)

Para ahli neurologi ataupun penyakit dalam, lebih cenderung menyatakan bahwa delirium itu suatu acute confusional state, ensefalitis atau ensefalopati. Beberapa istilah yang digunakan untuk menggambarkan delirium menyebabkan kebingungan pemahaman kondisi ini. Gambaran delirium juga sering tersamar dengan gangguan jiwa lainnya. Tabel di bawah memperlihatkan perbedaan antara delirium dengan diagnosis banding lainnya. (Samuels CS, et al., 2005) Hal ini penting karena pengenalan dini delirium dapat memperbaiki prognosis. (Yudofsky SC, et al., 2008)

Tabel Diagnosa Banding Delirium

Tabel Diagnosa Banding Delirium

Pada pasien demensia, diagnosis delirium mungkin sulit ditegakkan karena gejala kedua gangguan tersebut saling bertumpang tindih. Terdapat penelitian yang mencoba untuk mengidentifikasi gejala spesifik delirium pada pasien demensia. Dari hasil temuan tersebut dikatakan bahwa pasien demensia yang mengalami delirium lebih menunjukkan agitasi psikomotor, disorientasi dan pikiran disorganisasi. (Duppils GS & Wikblad K, 2004)

► Gambaran Klinis Delirium

Kondisi delirium mengakibatkan kesadaran menjadi berkabut dan kesulitan untuk memberikan perhatian serta berkonsentrasi. berhalusinasi atau menjadi paranoid dialami beberapa orang, disebabkan karena kesulitan untuk melakukan interpretasi lingkungan. Gejala delirium lainnya, dapat dalam bentuk bicara melantur dan pikiran yang kacau.

Gejala tersebut cenderung berfluktuatif selama satu periode sepanjang hari. Kebingungan yang terjadi adalah kebingungan terhadap kejadian atau peristiwa sehari-hari yang merupakan rutinitas bagi dirinya. Bahkan pada delirium dapat terjadi suatu perubahan kepribadian. Individu dapat menjadi sangat tenang atau menarik diri, sedangkan di waktu lain bisa menjadi sangat agitasi. Gangguan juga terjadi pada pola tidur dan makan penderita delirium.

Penelitian di Belanda tahun 2005, mengatakan tidak ada bukti bahwa gambaran klinis delirium pada lanjut usia berbeda dari yang pasien yang lebih muda. Gejala delirium lanjut usia mungkin lebih persisten dan perjalanan penyakitnya yang lebih kronis. (Duppils GS & Wikblad K, 2004)

Dalam penelitian yang dilakukan di USA pada tahun 2007 membagi Delirium menjadi 3 subtipe psikomotor: hiperaktif, hipoaktif dan campuran. (Han JH, et al., 2007) Delirium dikatakan sebagai subtipe hiperaktif, bila selama perawatan terdapat 3 gejala atau lebih sebagai berikut: hypervigilance, gelisah, bicara cepat dan keras, iritabilitas, agresif, euphoria, tidak kooperatif, marah, respon motornya cepat, distraktibilitas, mudah terkejut, tertawa-tawa, bernyanyi, mimpi buruk, sumpah-serampah (swearing), berkeliaran (wandering) dan tangensial.

Delirium subtipe hipoaktif adalah apabila selama perawatan terdapat empat gejala atau lebih, sebagai berikut: penurunan kewaspadaan, pembicaraan lambat dan jarang, letargi, gerakan melambat, tatapan menerawang (staring), tidak siaga (unawareness) dan apatis. Sedangkan delirium subtipe campuran adalah delirium yang memperlihatkan fluktuasi dari aktivitas menunjukkan gejala hiperaktif. (Han JH, et al., 2007)

Delirium yang sering dilaporkan adalah subtipe hipoaktif dan campuran. Sedangkan delirium subtipe hiperaktif memiliki lama perawatan dan mortalitas yang paling rendah dibandingkan subtipe lainnya setelah diobservasi selama 6 bulan.

► Etiologi Delirium

● Faktor Risiko dan Faktor Presipitasi

Diagnosis delirium harus berdasarkan penyebab etiologinya. Saat ini tidak ada standar pedoman atau algoritma untuk tes diagnostik, karena etiologi delirium yang multifaktorial. Dalam etiologi delirium, dibuat perbedaan antara faktor predisposisi dan presipitasi. Faktor predisposisi atau risiko membuat individu lebih rentan untuk delirium. Faktor presipitasi atau pencetus merupakan penyebab somatik langsung dari delirium. (Duppils GS & Wikblad K., 2004)

 

Sumber: https://bobhenneman.info/apple-watch-terbaru-dirancang-untuk-olah-raga/