KHUTBAH IDUL ADHA
Posted on: March 20, 2020, by : g3wgj
KHUTBAH IDUL ADHA

KHUTBAH IDUL ADHA

KHUTBAH IDUL ADHA
KHUTBAH IDUL ADHA

Assalaamualiakum  warahmatullah wabarakaatuhu

Allahu akbar allaahu akabar allahu akbar

Allahu akbar walillaahilhamdu

Alhamdullillahi hamdan kasiira wasubhannallahi bukratawaasiila…..

Ashadu allailaahaillallah waashadu anna muhammadarrasuulullah

Allahumma salli ala sayidina Muhammad waalaa alihi wasahbihi ajmangiin

Itaqullaha haqqa tuqaatihi wala tamutunna illa waantum muslimuun

Qolallahu taala fikitaabil kariim  a`udubillahiminassyaitoonirrojiim

Inna a` toinaa kal kausar…

Sodaqollaahul a` diim

Amma ba`du

Hadirin jamaah idul adha yang dimuliakan Allah SWT

Marilah kita sama-sama meningkatkan taqwa kita kepada Allah yaitu dengan melaksanakan semua perintah Allah SWT semaksimal mungkin dan meninggalkan semua yang dilarangnya titik. Maaf bukan saya kurang pandai membaca sehingga titik saya baca titik . tetapi maksudnya adalah bahwa dalam usaha bertaqwa itu memerlukan daya dan energy  kekuatan  menurut kemampuan kita. Tetapi dalam meninggalkan larangan tentu tidak memerlukan sama sekali daya dan usaha, sehingga tentu tidak perlu ditambahi dengankalimat meninggalkan larangan Allah menurut kemampuannya.ketakwaan menjadi tolak ukur tinggi rendahnya derajat kita di sisi Allah. maka orang yang paling mulya derajatnya adalah orang  yang paling bertaqwa kepada AllahSWT.

Hadirin yang dimulyakan Allah

Pada hari ini 3 juta ummat muslim dari seluruh penjuru dunia  berkumpul ditempat yang sama ,memakai pakaian yang sama, bertakbir dengan takbir yang sama   dan melaksanakan ibadah yang sama yaitu ibadah haji di makkah almukarromah,kumandang takbir menggema di seluruh pejuru dunia , sebagai bukti kebesaran Allah. Kita yang barang kali pada kesempatan ini belum mampu untuk memenuhi panggilan Allah ke tanah  suci  juga tidak ketinggalan untuk sama-sama bertakbir, shalat dan berkurban sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang telah kita peroleh.

Jamaah yang dimulyakan  Allah

Ada hikmah yang besar yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari perayaan idul adha ini , dalam rangkaian manasik haji dan perintah berkurban  merupakan syari`at dan teladan dari nabi Ibrahim AS.

Nabi Ibrahim adalah salah seorang nabi yang mendapat gelar ulul azmi. Dia adalah nabi yang selalu lulus dalam setiap ujian dari Allah, sehingga Allah sendiri yang menyatakan kelulusannya  sebagaimana tercantum dalam surat  Albaqarah ayat 124  Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya….” (Al-Baqarah: 124). 
Allah memerintah Ibrahim as berhijrah ke Mekah. Perintah ini, bukan kali pertama bagi Ibrahim. Sebelumnya beliau telah menunaikan hijrah beberapa kali: dari Babilon ke Palestina; dari Palestina ke Mesir; dari Mesir ke Palestina lagi. Semua beliau lakukan demi risalah suci. Hijrah ke Mekah kemudian menjadi peristiwa yang monumental, di dalamnya syarat dengan pelajaran untuk sebuah pengorbanan sejati. Sekurang-kurangnya ada tiga aktor yang berperan penting: Ibrahim, Hajar, Isma’il. Ketinganya mewakili tiga unsur keluarga: bapak, istri, dan anak.
Adalah Ibrahim as yang sudah berumur mengharapkan keturunan. Allah kemudian memberinya Isma’il. Bukan main girang dan bersyukurnya Ibrahim, ia mendapat karunia yang selama ini selalu dimintanya. Sampai akhirnya datang perintah hijrah ke tempat yang kini dikenal dengan Mekah. Ibrahim, Hajar, dan Isma’il pergi menuju padang gersang yang tak bertuan itu. Tiada penduduk, tiada tempat tinggal, tiada tanaman, tiada air. Di tempat itulah Ibrahim rela meninggalkan istri dan bayinya. Semua ia lakukan demi perintah Allah. Tak banyak bekal yang beliau tinggalkan, kecuali seteko air dan sekantong makanan.
Ibnu Katsir menceritakan, saat Nabi Ibrahim hendak berlalu, sang istri menarik (menahan) tali kekang tunggangannya dan bertanya, “Apakah Kanda akan meninggalkanku bersama anakmu di tempat yang tiada tanaman lagi (tak bertuan)?” Ibrahim as terdiam. Hajar mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali dan tetap saja Ibrahim diam. Sampai akhirnya Hajar mengganti pertanyaan, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan hal ini?” “Benar,” jawab Ibrahim. Hajar menimpali, “Jika demikian, Allah tidak akan mempersulit kami.” 
Sungguh sebuah dialog yang menusuk hati. Merefleksikan kedalaman iman. Tercermin ketundukan sekaligus pengorbanan yang menakjubkan. Berhijrah meninggalkan kemapanan, dan barangkali rumah, pekerjaan, sanak keluarga serta nilai materi dunia lain, menuju tempat yang gersang tak bertuan, tak ada jaminan keamanan, tidak juga makanan dan minuman, apalagi sanak keluarga dan handai taulan. Sebuah sikap dan keputusan yang memancarkan nilai tawakal dan iman yang begitu tinggi, bahwa hanya Allah yang Maha Menghidupkan, Maha Mematikan, Maha Memberi Rezeki. Meyakini dan mewujudkan keyakinan tersebut dalam praktik, tentu tidak semudah meyakininya dalam teori. Tidak semudah menghafal lafaz-lafaz asmaul husna. Ibrahim beserta keluarga tidak sedang berteori, tetapi tangah mengartikulasikan sebuah teori.

Sumber : https://forbeslux.co.id/