CMMI dan Agile : Lawan atau Kawan
Posted on: October 29, 2019, by : g3wgj
CMMI dan Agile Lawan atau Kawan

CMMI dan Agile Lawan atau Kawan

CMMI dan Agile Lawan atau Kawan
CMMI dan Agile Lawan atau Kawan

Semakin banyaknya organisasi yang bergantung pada model proseskematangan atau biasa disebut Capability Maturity Model Integration(CMMI) yang digunakan untuk menilai dan meningkatkan proses areamereka sendiri, karena semakin jelas bahwa kegagalan proyek yang palingumum biasanya disebabkan oleh tidak konsisten-nya suatu proses.  Maka sudah selayaknya bila di suatu organisasi yang besar akan selalu ada kebijakan baru yang mengharuskan setiap bagian organisasi dapat mencapai tingkat kematangan tertentu.

Namun pada penerapannya sifat CMMI yang birokratis (koordinasi yangbanyak melalui dokumentasi & tahapan yang kaku) mengakibatkan perkembangan yang lambat. Sehingga di saat yang bersamaan, metode Agile terus mengalami peningkatan di karenakan hal tersebut.

Metode Agile atau biasa disebut Agile software development method, memberikan keuntungan dan kepuasan kepada customer untuk memberikan hasil yang berkualitas dengan mempercepat proses saat pengembangannya. Disamping itu, perusahaan juga memerlukan usaha yang besar untuk meningkatkan proses produksi mereka dan lebih menyadari bahwa pendekatan agile dapat membantu jalannya proses tersebut. Dilain pihak, penerapan agile dapat dikritisi karena lemahnya disiplin dan hanya cocok untuk  aplikasi kecil atau aplikasi yang tidak begitu besar .

Di karenakan factor tersebut banyak organisasi mengandalkan CMMI sebagai indikator proses kematangan (maturity), sedangkan seharusnya hal itu diterjemahkan ke dalam kualitas produk.  Sehinga disisi lain metodologi Agile seperti xp dan scrum menjadi lebih menonjol.

Maka tinjauan harus dilakukan apakah metode Agile dapat disesuaikan untuk mencapai CMMI level. Penulisan ini dimaksudkan sebagai tahapan awal dalam upaya mengungkapkan mungkinkah metode agile dan CMMI dapat di pergunakan bersama-sama.

 

CMMI

CMMI adalah sebuah model/ konsep / framework yang menyediakan kumpulan ‘best practices’ untuk meningkatkan produktifitas, penyesuaian cost dan kepuasaan stakeholder.

Level 2 Proses area focus pada perubahan dan mengelola proyek. Level 3 berfokus pada ketrampilan teknik, pengelolaan berkembang dan organisai mulai memahami organisainnya sendiri dengan lebih baik. Level 4 dan 5 berfokus pada pengunaan statistic untuk meningkatkan kinerja organisai, dengan statistic dapat mengendalikan proses yang dipilih dan mengurangi variasi.

Metode Agile

Metode Agile hadir sebagai jawaban terhadap tantangan pengembangan perangkat lunak modern yang dalam banyak kasus tidak dapat diatasi dengan proses ‘tradisional’. Metode ini memungkinkan akan adanya kreativitas dan reaksi cepat dalam menyikapi perubahan dengan menekankan partisipasi stakeholder serta terjadinya rilis yang terus menerus.

Karakteristik metode Agile yang rumit akan didefinisikan ke dalam dua belas prinsip – prinsip :

  • Prioritas utama metode ini adalah untuk memuaskan Stakeholder dengan cara pengiriman awal dan terus berkesinambungan.
  • Menerima permintaan perubahan (change request) bahkan ketika perangkat lunak sedang di bangun.
  • Memberikan laporan perkembangan perangkat lunak ( setiap 2 sampai dengan 3 minggu)
  • Pemakai dan developers harus bekerja sama setiap hari sepanjang proyek berlangsung.
  • Komunikasi tatap muka, adalah metode yang paling efisien dan efektif untuk meyampaikan informasi ke dalam tim.
  • Perangkat lunak yang di gunakan dalam berkerja merupakan factor kemajuan.
  • Agile proses mempromosikan pembangunan secaraberkelanjutan.
  • Memperhatian secara terus-menerus akan keunggulan teknis dan desain yang baik sehingga dapat meningkatkan kelincahan.
  •  Kesederhanaan.
  •  Arsitektur terbaik, persyaratan, dan desain muncul dari dalam timyang mengorganisir itu sendiri.
  •  Pada interval reguler, tim mencerminkan tentang cara untukmenjadi lebih efektif dan menyesuaikan perilaku yang sesuai.

Sumber : https://sam-worthington.net/