Peran dan Fungsi Guru Pendidikan Agama Islam
Posted on: September 17, 2019, by : g3wgj

Peran dan Fungsi Guru Pendidikan Agama Islam

Peranan Guru Pendidikan Agama Islam pada dasarnya sama dengan peran guru lazim lainnya, yaitu sama-sama berusaha untuk memindahkan ilmu ilmu yang ia punya kepada anak didiknya, supaya mereka lebih banyak paham dan paham ilmu ilmu yang lebih luas. Akan tetapi peranan guru pendidikan agama Islam selain berusaha memindahkan ilmu (transfer of knowledge), ia termasuk perlu menanamkan nilai- nilai agama Islam kepada anak didiknya supaya mereka mampu mengaitkan antara ajaran-ajaran agama dan ilmu pengetahuan.

Mengacu pada pendapat Syaiful Bahri Djamarah (2000: 31), dikemukakan bahwa sehubungan dengan peranan guru sebagai “pengajar”, “pendidik” dan “pembimbing”, tetap dapat melukiskan pola tingkah laku yang diharapkan dalam beraneka interaksinya, baik dengan siswa, guru maupun dengan staf yang lain, berasal dari beraneka aktivitas jalinan belajar mengajar, mampu dipandang guru sebagai sentral bagi peranannya, karena baik disadari atau tidak bahwa beberapa berasal dari sementara dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap sistem belajar mengajar dan jalinan dengan siswanya.

Selanjutnya, Syaiful Bahri Djamarah (2000: 37) dalam bukunya yang berjudul “Guru Dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif”, menjelaskan dan menjelaskan peranan guru pendidikan agama Islam adalah seperti diuraikan dalam sejumlah peran di bawah ini:

1. Korektor

Sebagai korektor, seorang guru perlu mampu membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk, ke-2 nilai yang berlainan itu perlu serius dimengerti dalam kehidupan di masyarakat, ke-2 nilai kemungkinan anak didik udah mempengaruhinya sebelum akan anak didik masuk sekolah. Latar belakang kehidupan anak didik yang berbeda-beda sesuai dengan sosiokultural masyarakat di mana anak didik tinggal dapat mewarnai kehidupannya.
Semua nilai yang baik perlu guru pertahankan dan semua nilai yang buruk perlu disingkirkan berasal dari jiwa dan watak anak didik. Bila guru membiarkannya, berarti guru udah meniadakan peranannnya sebagai seorang korektor, yang menilai dan mengoreksi semua sikap, tingkah laku, dan tingkah laku anak didik, koreksi yang perlu guru laksanakan pada sikap dan cii-ciri anak didik tidak cuma disekolah, tetapi diluar sekolahpun perlu dilakukan.

2. Inspirator

Guru sebagai inspirator, maknanya guru perlu mampu beri tambahan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik, masalah belajar adalah masalah utama anak didik, guru perlu mampu beri tambahan arahan bagaimana cara belajar yang baik, arahan itu tidak perlu perlu bertolak berasal dari sejumlah teori-teori belajar, berasal dari pengalaman pun mampu dijadikan arahan bagaimana cara belajar yang baik. Yang perlu bukan teorinya, tetapi bagaimana melepaskan masalah yang dihadapi anak didik.

3. Informatory

Sebagai infomatory, guru perlu mampu beri tambahan Info perkembangan ilmu ilmu dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk tiap-tiap mata pelajaran yang udah diprogramkan dalam kurikulum, Info yang baik dan efektif diperlukan berasal dari guru. Kesalahan Info adalah bagaikan sebuah racun bagi anak didik, untuk jadi informatory yang baik dan efektif, penguasaan bahasalah sebagai kunci, yang ditopang dengan penguasaan bahan yang dapat diberikan kepada anak didik, informatory yang baik adalah guru yang paham apa kebutuhan anak didik dan mengabdi untuk anak didik.

4. Organisator

Sebagai organisator, adalah segi lain berasal dari peranan yang diperlukan berasal dari guru, dalam bidang ini guru punya kegiatanpengelolaan aktivitas akademik, menyusun tata teratur sekolah, menyusun kelender akademik, dan sebagainya, yang seutuhnya diorganisasikan supaya mampu meraih efektivitas dan efesiensi dalam belajar pada diri anak didik.

5. Motivator

Sebagai motivator guru hendaknya mampu mendorong anak didik supaya bergairah dan aktif belajar, dalam usaha beri tambahan motivasi, guru mampu menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah, tiap-tiap sementara guru perlu bertindak sebagai motivator, karena dalam jalinan mendidik tidak mustahil tersedia salah satu anak didik yang malas dan sebagainya.

Motivasi mampu efektif bila dijalankan dengan mencermati kebutuhan anak didik untuk lebih bergairah dalam belajar. Peranan guru sebagai motivator terlampau perlu dalam jalinan edukatif, karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang butuh kemahiran social, menyangkut performance dalam personalisasi dan sosialisasi diri.

Guru sebagai motivator hendaknya mampu mendorong supaya siswa mau laksanakan aktivitas belajar, guru perlu menciptakan suasana klas yang merangsang siswa laksanakan aktivitas belajar, baik aktivitas individual maupun kelompok. Stimulasi atau rangsangan belajar para sisa mampu ditumbuhkan berasal dari dalam diri siswa dan mampu ditumbuhkan berasal dari luar diri siswa.

6. Inisiator

Dalam peranan guru sebagai inisiator, guru perlu mampu jadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses jalinan mendidik yang tersedia saat ini perlu diperbaiki sesuai perkembangan ilmu ilmu dan teknologi di bidang pendidikan. Kompetensi guru perlu diperbaiki, ketrampilan penggunaan tempat pendidikan dan pengajaran perlu diperbaharui sesuai dengan kemajuan tempat komunikasi dan Info pada sementara ini, terlebih jalinan mendidik supaya lebih baik berasal dari yang dulu-dulu, bukan ikuti terus tanpa mencetuskan ide-ide inovasi bagi kemajuan pendidikan dan pengajaran.

7. Fasilitator

Sebagai fasilitator guru hendaknya mampu menyediakan fasilitas yang sangat mungkin kemudahan aktivitas belajar anak didik, lingkungan belajar yang tidak menyenangkan, suasana ruang kelas yang pengap, meja dan kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang tidak cukup tersedia, sebabkan anak didik malas belajar. Oleh karena itu jadi tugas guru bagaimana menyediakan fasilitas, supaya dapat tercipta lingkungan belajar yang mengasyikkan anak didik. Guru cuma berperan sebagai fasilitator, seperi yang diungkapkan Piaget (Paul Suparno, 2001:145) belajar yang baik terletak pada keaktifan siswa dalam membentuk pengetahuan, peran guru di sini adalah sebagai mentor atau fasilitator dan bukan mentrasfer ilmu pengetahuan.

8. Pembimbing

Peranan guru yang tidak kalah pentingnya berasal dari semua peran yang udah disebutkan di atas, adalah guru sebagai pembimbing, peranan yang perlu lebih dipentingkan, karenakehadiran guru disekolah adalah untuk membimbing anak didik jadi manusia dewasa susila yang cakap, tanpa pembimbing, anak didik dapat mengalami ada problem dalam menghadapi perkembangan dirinya, kekurang mampuan anak didik sebabkan lebih banyak tergantung pada perlindungan guru, tetapi makin lama dewasa, ketergantugan anak didik makin lama berkurang. Jadi, bagaimanapun termasuk bimbingan berasal dari guru terlampau diperlukan pada sementara anak didik belum mampu berdiri sendiri (mandiri).

9. Pengelolaan kelas

Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah area berhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka terima bahan pelajaran berasal dari guru. Kelas yang dikelola dengan baik dapat menunjang jalannya jalinan edukatif. Sebaliknya, kelas yang tidak dikelola dengan baik dapat menghambat aktivitas pengajaran, anak didik tidak mustahil dapat jadi jenuh untuk tinggal lebih lama di kelas. Hal ini dapat berakibat mengganggu jalannya sistem jalinan edukatif, kelas yang tetap padat dengan anak didik, pertukaran udara kurang, penuh kegaduhan, lebih banyak tidak mengantungkan bagi terlaksananya jalinan mendidik yang optimal.

Hal ini tidak seiring dengan obyek lazim berasal dari pengelolaan kelas, yaitu menyediakan dan memakai fasilitas kelas bagi bermacam macam aktivitas belajar mengajar supaya tercapai hasil yang baik dan optimal. Jadi maksud berasal dari pengelolaan kelas adalah supaya anak didik betah tinggal di kelas dengan impuls yang tinggi untuk tetap belajar di dalamnya.

10. Evaluator

Sebagai evaluator, guru dituntut untuk jadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan beri tambahan penilaian yang menyentuh segi ekstrinsik dan instrinsik, penilaian pada segi intrinsik lebih menyentuh pada segi kepribadian anak didik. Berdasarkan perihal ini guru perlu mampu beri tambahan penilaian dalam demensi yang luas, jadi penilaian itu pada hakikatnya diarahkan pada pergantian kepribadian anak didik supaya jadi manusia susila yang cakap.

Sebagai evaluator, guru tidak cuma menilai produk hasil pengajaran tetapi termasuk menilai sistem (jalannya pengajaran). Dari ke-2 aktivitas ini dapat beroleh umpan balik (feed back) tentang pelaksanaan jalinan mendidik yang udah dilakukan.

Sumber : https://tutorialbahasainggris.co.id/

Baca Juga :