Pengertian Menyontek, Faktor Penyebab & Indikatornya
Posted on: September 17, 2019, by : g3wgj

Pengertian Menyontek, Faktor Penyebab & Indikatornya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2008), berasal dari kata sontek yang berarti melanggar, mencontoh, menggocoh yang berarti mengutip tulisan, dan lain sebagainya sebagaimana aslinya, menjiplak. Bower (dalam Purnamasari, 2013), mendeskripsikan menyontek adalah perbuatan yang memakai cara-cara yang tidak sah untuk obyek yang sah dan terhormat yaitu beroleh keberhasilan akademik untuk jauhi kegagalan akademik atau didalam teks aslinya cheating is manifestation of using illigitimate means to achieve a legitimate end (achieve academic success or avoid academic failure).

Senada bersama dengan Deighton (1971) yang memperlihatkan “Cheating is attempt an individuas makes to attain success by unfair methods.” Maksudnya, cheating adalah usaha yang ditunaikan seseorang untuk beroleh keberhasilan bersama dengan cara-cara yang tidak jujur. Sementara itu, menurut Pincus & Schemelkin (2003:196) perilaku menyontek merupakan suatu tindakan curang yang sengaja ditunaikan dikala seseorang mencari dan membutuhkan adanya pengakuan atas hasil belajarnya dari orang lain meskipun bersama dengan langkah yang tidak sah seperti memalsukan Info terutama dikala dilaksanakannya evaluasi akademik.

Berdasarkan lebih dari satu pengertian menyontek di atas maka mampu disimpulkan bahwa perilaku menyontek adalah kegiatan, tindakan atau perbuatan yang ditunaikan secara sengaja bersama dengan memakai cara-cara yang tidak jujur atau curang untuk memalsukan hasil belajar bersama dengan memakai perlindungan atau memakai Info dari luar secara tidak sah pada waktu ditunaikan tes atau evaluasi akademik untuk raih obyek tertentu.

Faktor-faktor Penyebab Menyontek

Salah satu alasan yang mendorong individu untuk menyontek adalah untuk memuaskan harapan orang tua. Santrock (2003) menyebutkan bahwa tidak jarang orang tua didalam mengasuh atau mendidik anak-anaknya terbujuk oleh permohonan atau ambisi dari orang tua tanpa menyaksikan kebolehan anaknya. Orang tua punya niat idamkan beri tambahan yang terbaik bagi anak-anaknya, tetapi permohonan selanjutnya tidak mencermati kebolehan anak.

Sikap orang tua yang menginginkan terlalu terlalu berlebih pada anak dapat menahan anak untuk memperlihatkan prestasi sesuai bersama dengan potensi yang dimiliki. Menurut Gunarsa & Gunarsa (1991) biasanya anak jelas harapan orang tuanya. Oleh dikarenakan itu sikap yang terlalu menuntut mampu membuat anak mulai takut kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Hal ini menimbulkan rasa rendah diri, problem tingkah laku, berkurangnya stimulan untuk belajar serta ketegangan atau ketakutan didalam diri anak.

Agustin (2014) menyebutkan lebih dari satu faktor yang membuat siswa menyontek pada waktu ujian. Faktor-faktor penyebab menyontek adalah:
Tekanan yang terlalu besar yang diberikan kepada “hasil studi” berbentuk angka dan nilai yang diperoleh siswa didalam tes formatif atau sumatif.
Pendidikan moral, baik di rumah maupun di sekolah kurang diterapkan didalam kehidupan siswa.
Sikap malas yang tertanam didalam diri siswa sehingga ketinggalan didalam menguasai mata pelajaran dan kurang bertanggung jawab.
Anak remaja kerap menyontek daripada anak SD, dikarenakan masa remaja bagi mereka mutlak sekali miliki banyak teman dan populer di kalangan teman-teman sekelasnya.
Kurang jelas makna dari pendidikan.
Disadari atau tidak, siswa yang menyontek pada waktu ujian disebabkan oleh satu atau lebih faktor-faktor di atas. Perilaku menyontek ini dapat membuat perilaku atau watak tidak yakin diri, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, tidak senang membaca buku pelajaran tetapi rajin membuat catatan kecil-kecil untuk bahan menyontek, menghalalkan segala macam cara, dan pada akhirnya menjadi koruptor. Dengan demikianlah kelihatan bahwa perilaku menyontek secara tidak langsung membelajarkan pada siswa untuk menjadi seorang koruptor.

Indikator Menyontek

Menyontek sebagai perilaku ketidakjujuran akademis yang kerap ditunaikan oleh mahasiswa miliki lebih dari satu indikator. Sejumlah indikator menyontek yang kerap digunakan para peneliti yang jalankan penelitian berkenaan bersama dengan perilaku menyontek yang berlangsung pada pelajar maupun mahasiswa merujuk pada pendapat Dody Hartanto (2012:23-29) yang menguraikan bahwa terdapat delapan indikator menyontek sebagai berikut:

a. Prokrastinasi dan efikasi diri

Gejala yang kerap ditemui pada seseorang yang menyontek adalah prokrastinasi dan juga rendahnya efikasi diri. Prokrastinasi (kegiatan menahan-nahan kegiatan atau tugas) merupakan gejala yang paling kerap ditemui pada orang yang menyontek dikarenakan orang yang terbiasa menahan-nahan pekerjaan dapat miliki kesiapan yang rendah didalam hadapi ujian.

Efikasi diri rendah yang dimiliki seseorang juga merupakan indikasi lain bagi perilaku menyontek. Efikasi diri merupakan sebuah keyakinan diri seseorang didalam menyelesaikan tugas atau permasalahan. Orang yang miliki tingkat efikasi diri yang tinggi dapat condong lebih yakin diri dan mampu menyelesaikan tugas yang diberikan bersama dengan baik dan menolak untuk jalankan kegiatan menyontek.

b. Kecemasan yang berlebihan

Munculnya ketakutan yang terlalu berlebih juga merupakan indikator bagi seseorang yang jalankan kegiatan menyontek. Gejala yang keluar pada seorang pencontek adalah munculnya ketakutan yang terlalu berlebih waktu tes. Kecemasan selanjutnya mampu merubah otak sehingga otak tidak mampu bekerja sesuai bersama dengan kemampuannya. Keadaan selanjutnya membuat orang terdorong didalam jalankan kegiatan menyontek untuk menciptakan ketenangan pada dirinya.

c. Motivasi belajar dan berprestasi

Orang yang miliki stimulan untuk berprestasi dapat mengusahakan menyelesaikan tugas maupun pekerjaan yang diberikan kepadanyadengan usahanya sendiri dan sebaik-baiknya. Hal ini mampu berarti bahwa orang yang miliki stimulan berprestasi condong mengerjakan tugas sendiri dan jauhi perilaku menyontek. Sebaliknya orang yang miliki stimulan belajar yang rendah dapat banyak menemui ada masalah didalam belajar, sehingga miliki tingkat ilmu dan pemahaman yang kurang didalam hadapi tes.

d. Keterikatan bersama dengan kelompok

Orang yang miliki keterikatan didalam suatu grup dapat condong jalankan kegiatan menyontek. Hal itu berlangsung dikarenakan orang selanjutnya merasakan keterikatan yang kuat di pada mereka sehingga mendorong untuk saling menolong dan share juga juga didalam menyelesaikan ujian atau tes. Biasanya seseorang dapat condong menyontek kepada teman yang dikenal atau teman dekatnya.

e. Keinginan nilai tinggi

Keinginan seseorang untuk beroleh nilai yang tinggi juga mampu menjadi pendorong seseorang jalankan kegiatan menyontek.Orang berpikir bahwa nilai adalah semuanya dan mengusahakan untuk beroleh nilai yang baik meskipun harus memakai langkah yang tidak benar (menyontek).

f. Pikiran negatif

Pikiran negatif yang dimiliki siswa seperti ketakutan dianggap bodoh dan dijauhi teman, ketakutan dimarahi guru atau orang tua dikarenakan nilai jelek juga menjadi indikator perilaku menyontek pada siswa. Adanya perilaku menyontek berlangsung dimulai dikarenakan jalinan orang tua dan siswa yang kurang baik. Orang tua mestinya beri tambahan stimulan dan keyakinan kepada siswa sehingga mampu meminimalisir perilaku menyontek.

g. Perilaku implusive dan cari perhatian

Dody Hartanto (2012:28) menyebutkan bahwa orang yang jalankan kegiatan menyontek memperlihatkan indikasi mereka terlalu menuruti kata hati (implusive) dan terlalu mencari perhatian (sensation seeking). Individu mampu dikatakan implusive kecuali ketentuan yang dibuathanya berdasarkan stimulan untuk beroleh keuntungan pribadi dibandingkan berkhayal alasan. Individu yang miliki keperluan dapat sensasi (perhatian) yang terlalu berlebih adalah dikala individu yang sedang didalam tumbuh dan berkembang selanjutnya jalankan perbuatan menyontek sebagai sesuatu yang alami untuk bertahan hidup.

h. Harga diri dan kendali diri

Seseorang yang miliki harga diri yang tinggi atau terlalu berlebih dapat condong memilih untuk jalankan kegiatan menyontek. Perbuatan menyontek selanjutnya ditunaikan untuk melindungi harga diri siswa tetap terjaga bersama dengan beroleh nilai yang tinggi meskipun bersama dengan menyontek. Selain itu orang yang miliki kendali diri (self control) yang rendah juga condong jalankan perbuatan menyontek.

Bentuk-Bentuk Menyontek

Berhubungan bersama dengan bentuk-bentuk menyontek, Hetherington plus Feldman (1964; didalam Dody Hartanto, 2012:17) membagi perilaku menyontek ke didalam empat bentuk, yaitu:
Individual-opportinistic yang dimaknai sebagai perilaku di mana siswa mengganti suatu jawaban dikala ujian atau tes sedang berlangsung bersama dengan memakai catatan dikala guru keluar dari kelas.
Independent-planned yang diidentifikasikan sebagai memakai catatan dikala tes atau ujian berlangsung, atau mempunyai jawaban yang telah lengkap atau dipersiapkan bersama dengan menulisnya terutama dahulu sebelum berlangsungnya ujian.
Social-active yang merupakan perilaku di mana siswa mengcopi atau menyaksikan atau meminta jawaban bersama dengan orang lain.
Social-passive yaitu mengizinkan seseorang menyaksikan atau mengcopi jawaban.
Sebagaimana hasil penelitian Dody Hartanto (2010) kepada siswa di tidak benar satu sekolah swasta di kota Yogyakarta diketahui bahwa wujud perilaku menyontek yang paling dominan adalah social active. Pada kegiatan menyontek selanjutnya siswa lebih banyak memilih langkah berbentuk menyaksikan jawaban teman pada waktu tes berlangsung. Bentuk menyontek lainnya seperti meminta jawaban kepada teman, baik lewat perlindungan kode nonverbal maupun bersama dengan tulisan. Selain itu hasil penelitian yang ditunaikan oleh Friyatmi (2011) pada mahasiswa FE UNP juga ditemukan wujud perilaku menyontek yang paling dominan ditunaikan oleh mahasiswa, yaitu menyalin jawaban teman dan mengizinkan teman menyalin jawaban mereka.

Menurut Dody Hartanto (2012:37) lebih dari satu wujud dari perilaku menyontek diantaranya adalah (a) memakai bahan yang tidak sah pada tiap tiap kegiatan akademik, (b) membuat informasi, referensi atau hasil bersama dengan menipu orang lain, (c) plagiat, dan (d) menolong orang lain untuk terlibat didalam perilaku menyontek.

Dengan kemajuan dan kecanggihan teknologi zaman saat ini ini, timbul wujud perilaku menyontek yang baru. Hal ini seperti memakai kalkulator, memfoto materi yang dapat diujiankan bersama dengan kamera hand phone, membuka internet bersama dengan hand phone dikala ujian sedang berlangsung, berbalas sms bersama dengan teman, dan lain-lain. Hal ini dibuktikan bersama dengan temuan hasil penelitian McCabe (2001) di sebuah SMP swasta di Yogyakarta yang mana terdapat 74 prosen siswa dulu memakai dan memakai teknologi untuk menyontek.

Dari lebih dari satu wujud menyontek di atas, mampu disimpulkan bentuk-bentuk perilaku menyontek pada lain:
individual-opportinistic,
independent-planned,
social-active,
social-passive,
melihat jawaban teman dikala tes berlangsung,
meminta jawaban pada teman,
mengizinkan teman menyalin jawaban,
menggunakan bahan yang tidak sah pada tiap tiap kegiatan akademik,
plagiat,
membantu orang lain untuk terlibat didalam perilaku menyontek,
membuka buku waktu ujian,
membuat catatan sendiri,
membuat coret-coretan di kertas kecil, rumus di tangan, di kerah baju,
mencuri jawaban teman, dan
memanfaatkan teknologi.
Demikian penjelasan pengertian menyontek dan faktor-faktor penyebabnya serta lebih dari satu indikator menyontek yang kerap digunakan para peneliti juga beraneka wujud menyontek di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Baca Juga :