Month: September 2019

Keuntungan dan Persiapan yang Harus Kamu Lakukan Saat Kuliah di Luar Negeri

Keuntungan dan Persiapan yang Harus Kamu Lakukan Saat Kuliah di Luar Negeri

Tingginya tingkat persaingan di dunia profesional membuat pendidikan tinggi menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Namun bagi sebagian orang berkuliah di negeri sendiri dirasa kurang dalam menjawab tantangan global di era ini. Kuliah di luar negeri pun menjadi pilihan yang menarik untuk dipertimbangkan.

Tidak hanya demi kebanggaan atau prestise semata, kuliah di luar negeri ternyata bisa menjadi pendongkrak bagi karier seseorang. Faktanya, orang-orang yang menempati posisi tinggi di manajemen perusahaan-perusahaan besar adalah mereka yang pernah berkuliah di luar negeri.

Banyak juga perusahaan dan startup sukses, seperti Go-Jek, Amartha, dan Cermati, yang didirikan oleh para mereka yang berkuliah di luar negeri. Masih ragu untuk berkuliah di luar negeri? Berikut beberapa alasan dan keuntungan kuliah di luar negeri yang bisa kamu pertimbangkan.

Melatih Kedewasaan
Berkuliah di luar negeri memang bisa melatih kedewasaan bagi anak muda. Apalagi bagi kamu yang sudah terbiasa hidup bersama orang tua sejak kecil. Jika kamu berkuliah di kota asal atau di mana pun di Indonesia dan kamu merasa tidak betah, kamu bisa meninggalkan tempat tersebut dan pulang ke rumah orang tua. Lain halnya jika kamu tinggal dan kuliah di luar negeri, kamu akan dipaksa untuk mandiri dan bersikap dewasa dalam menghadapi masalah-masalahmu. Inilah yang akan membentuk mentalmu menjadi lebih kuat dan dewasa.

Kesempatan Karier yang Besar
Setelah kamu lulus dari kuliah di luar negeri, kamu akan dipandang sebagai sumber daya manusia yang unggul di negeri sendiri. Kamu bisa memanfaatkan gelar atau nama kampus tempat kamu berkuliah di luar negeri dalam mencari pekerjaan di Indonesia. Kamu juga memiliki kesempatan yang sangat luas untuk berkarier dalam skala global. Salah satu caranya, dengan mencari pekerjaan di negara tempat kamu berkuliah di luar negeri.

Mengajari Kita untuk Mengatur Keuangan
Banyak orang yang mendapat kesempatan berkuliah di luar negeri menggunakan beasiswa. Jika kamu beruntung mendapatkan kesempatan tersebut, kamu harus pintar dalam mengatur keuangan agar beasiswamu cukup untuk berkuliah dalam hidup sehari-hari. Jika kamu merasa uang yang kamu punya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhanmu, kamu juga bisa berlatih mencari uang dengan melakukan pekerjaan sampingan di waktu luangmu sebagai mahasiswa, misalnya dengan menjadi asisten profesor di kampus tempatmu berkuliah.

Belajar dari Orang-orang Baru
Bergaul dengan orang dari seluruh penjuru dunia membuat mereka yang berkuliah di luar negeri memiliki rasa toleransi yang tinggi. Selain itu kamu juga bisa mempelajari etos kerja para profesional dan akademisi di negara tempatmu berkuliah. Sistem dan kebiasaan yang berbeda dengan Indonesia akan membuatmu harus beradaptasi dan mungkin bekerja lebih keras lagi.

Menambah Rasa Percaya Diri
Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, berkuliah di luar negeri bisa menambah rasa percaya diri bagi kita. Salah satunya dalam hal berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Dengan tinggal di negara lain, kamu akan dipaksa untuk menggunakan bahasa asing dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik di kampus maupun tempat-tempat lain seperti pasar, perpustakaan, atau restoran.

Masih ragu untuk berkuliah di luar negeri? Mungkin kamu masih belum membayangkan apa saja yang harus kamu persiapkan sebelum berkuliah di luar negeri. Berikut saya rangkum beberapa hal yang harus kamu perhatikan sebelum berangkat kuliah di luar negeri.

Baca Juga :

Karakter Anak Berdasarkan Golongan Darah

Karakter Anak Berdasarkan Golongan Darah

Setiap orang dicetuskan dengan setiap keunikannya. Pun demikian dengan karakter yang dimilikinya. Sebagai orang tua, betapa baiknya pola asuh yang diterapkan menurut sifatnya. Nah, di antara untuk mengenali karakter anak merupakan dengan menyaksikan tipe kelompok darahnya laksana berikut.

Golongan Darah A
Anak dengan kelompok darah A lebih taat pada aturan alias penurut dan selalu seksama dalam menggarap sesuatu. Tak heran bila karakter anak dengan kelompok darah A ini paling pantang melanggar aturan. Selain tersebut sifatnya yang tidak jarang kali berhati-hati saat mengerjakan sesuatu menciptakan ia mudah diandalkan oleh orang beda untuk menuntaskan tugas yang perlu ketelitian tinggi.

Golongan Darah AB
Karakter anak dengan kelompok darah AB terbilang unik. Mereka ingin misterius dan kadang pun plinplan. Sebagai orang tua, terkadang Anda bakal mudah diciptakan bingung dengan apa yang mereka pikirkan. Bila telah begitu, Anda mesti dapat memahaminya dan bertanya dengan lembut bila tidak memahami dengan apa yang mereka butuhkan.

Golongan Darah B
Berbeda dengan anak yang memiliki kelompok darah A, karakter anak dengan kelompok darah B tidak suka aturan atau dapat dibilang mereka bukan tipe anak yang penurut. Nah, sebagai orang tua Anda mesti lebih luwes bila tak hendak mereka mengerjakan pemberontakan. Di samping itu, biarkan mereka guna lebih berekspresi dan berkreasi. Kalaupun hendak memberi aturan, berikan yang sewajarnya.

Golongan Darah O
Sifat aktif, hendak tahu dengan tidak sedikit hal, serta gampang bergaul bisa Anda jumpai pada anak yang memiliki kelompok darah O. Ya, untuk mereka, hidup seorang diri adalahhal yang membosankan. Mereka lebih suka berkelompok. Jadi, tidak boleh heran bila di hari kesatu masuk sekolah, ia telah mendapatkan tidak sedikit teman baru.

Sumber : http://www.volvoonline.ru/bitrix/redirect.php?event1=&event2=&event3=&goto=https://www.pelajaran.co.id

Dampak dari Masa Lalu Orang Tua yang Belum Selesai Untuk Anak

Dampak dari Masa Lalu Orang Tua yang Belum Selesai Untuk Anak

Sebagai orang tua, pasti ada kalanya Anda bercita-cita lebih bakal keberhasilan si kecil sampai-sampai tidak jarang memaksakan kehendak yang selesai dengan permainan fisik. Akan tetapi, sadar atau tidak, pemaksaan asa tersebut bermula dari perlakuan yang didapat di kehidupan masa kemudian orang tua. Bagi itu, saat Bunda dan Ayah menyimpulkan untuk membangun rumah tangga dan dikaruniai seorang anak, betapa lebih baik andai menuntaskan seluruh yang menjadi persoalan yang terjadi. Agar anak tidak menjadi korban, laksana berikut:

Anak Mengalami Kekerasan Fisik
Akibat masa kemudian orang tua yang belum selesai, orang tua dapat saja dengan gampang bermain jasmani terhadap anak saat sesuatu tidak cocok harapan. Contoh, orang tua mempunyai harapan dan cita-cita guna anak mendapat peringkat kesatu di kelas. Akan tetapi, peringkat yang didapatkan justru jauh dari asa bahkan barangkali buruk. Saat itulah, emosi bakal memuncak dan dengan gampang orang tua mengayunkan tangan guna memukul atau bahkan mencubit.

Selain sebab ketidakpuasan bakal pencapaian si kecil, perlakuan kasar yang terjadi pun dapat diakibatkan oleh perlakukan yang dulu pernah diperoleh dari orang tua. Anggapan anak mesti merasakan hal yang serupa justru melulu akan menjadikan si kecil korban kekerasan dan dapat selesai trauma.

Anak Terabaikan
Dikarenakan sikap masa kemudian orang tua yang selalu melalaikan lantaran kegiatan bekerja, urusan yang sama pun dapat terjadi kembali ketika sudah mempunyai anak. Akibatnya, anak bakal merasa terabaikan dan tidak mendapat kasih sayang secara penuh. Buruknya, anak bisa menjadi sosok yang minder, memblokir diri, dan tak mau bersosialisasi dengan orang beda lantaran fobia akan pulang terabaikan. Di samping itu, ada pun anak yang malah sibuk mengerjakan tindak kriminal atau sering melakukan ulah melulu untuk unik perhatian orang tua.

Cenderung Memaksakan Kehendak Terhadap Anak
Akibat paksaan yang pernah dirasakan di masa lalu, sebagai orang tua pun barangkali akan berperilaku sama, yakni memaksakan kehendak terhadap si kecil untuk seluruh hal. Misalnya masalah sekolah, tidak peduli anak nyaman atau tidak, orang tua bakal tetap memasukkannya ke sekolah opsi mereka lantaran reputasi yang bagus atau guru-guru dengan keterampilan tinggi dalam mengajar. Padahal, anak belum tentu mengharapkan hal itu. Akibatnya, anak menjadi stres sekitar menjalani sekolah dan memilih guna kabur atau bahkan tak mau bersekolah lagi.

Tidak sedikit permasalahan anak malah memilih guna melawan dengan tetap bersekolah, namun nilai yang didapat tidak jarang kali buruk, sebagai format protes terhadap orang tua yang terus mengedepankan ego dan masa kemudian yang belum selesai.

Bersikap Terlalu Keras
Di kehidupan masa lalu, orang tua barangkali berperilaku keras dan disiplin. Bahkan, tidak sedikit memakai bentakan guna memerintah dan menggunakan tangan bila tidak dituruti. Akibatnya, sesudah mempunyai anak, urusan yang sama secara terbius terjadi, laksana suka berbicara kasar, berteriak, bahkan main tangan saat memerintah atau meminta perhatian si kecil. Tidak terdapat sikap lembut yang terpancar dari orang tua yang malah dapat menjauhkan si kecil. Anak akan berpikir jika orang tua tidak menyayanginya dan selalu mengawal jarak. Bahkan, trauma yang dapat membuat si kecil depresi pun bisa terjadi.

Sumber : http://www.thienantech.com/?https://www.pelajaran.co.id

Berharga Bagiku, Namun Segalanya Bagimu

Berharga Bagiku, Namun Segalanya Bagimu

Berharga Bagiku, Namun Segalanya Bagimu
Berharga Bagiku, Namun Segalanya Bagimu

Bicara tentang konsep berharga, setiap orang pasti memiliki standar ‘apa yang bernilai’ bagi dirinya masing-masing. Sesuatu hal/ barang mungkin sama sekali tak penting bagi kita, namun bagi orang lain, itu bisa jadi harta karun yang tak ternilai. Bahkan apa yang kita anggap sampah sekalipun, bisa jadi keuntungan bagi orang lain.

Contoh sederhana, makanan sisa. Bagi kita yang berlimpah uang dan makanan, membuang makanan karena merasa kenyang mungkin tak jadi masalah. Namun bagi mereka yang kelaparan dan tak punya uang, mengais dan mendapatkan makanan sisa dari pembuangan bisa jadi merupakan berkah tersendiri.

Selain makanan sisa, kertas, baju, bungkus makanan, koran, atau bahkan mantan pacar sekalipun, semua hal yang tak lagi berarti bagi kita, bisa terhitung penting bagi pihak lain.

Lalu, nilai apakah yang bisa kita petik dari renungan kali ini?

Pertama, semua yang kita miliki hanyalah bagian dari siklus kehidupan saja. Saat seseorang kehilangan, lainnya pasti mendapat. Saat seorang meninggal, ingatlah bahwa selalu ada bayi yang lahir. Ada duka, namun pasti ada tawa, sebab roda kehidupan selalu berputar, sehingga kita bisa merasakan semua sisi hidup.

Kedua, hargai apa yang kita punya, dan relakan yang telah hilang. Uang saku hilang misalnya, memang membuat bete, namun coba pikir, siapa tahu orang yang menemukannya sedang sangat butuh uang…dan batal mencuri hanya gara-gara mendapat uang ‘dari’ Anda.

Atau, mantan pacar. Dulu penting, sekarang mungkin tidak, namun jelas ia tetap penting bagi keluarga dan pacar barunya. Ehm…

Dengan memiliki hati lapang seluas samudera, maka kita takkan pernah merasa rugi atau dirugikan. Sebab dengan kondisi hati ikhlas dan nerimo, kita bisa lebih mudah untuk mensyukuri segala yang terjadi. Dan akibatnya, hidup pun jadi lebih indah. 🙂

Baca Juga : 

Everyday is a Miracle

Everyday is a Miracle

Everyday is a Miracle
Everyday is a Miracle

Saya pernah bertemu seorang berusia 65 tahun. Waktu itu saya bekerja sebagai pelayan gift-shop di hotel. Setelah customer selesai berbelanja dan akan meninggalkan toko, biasanya saya mengucapkan salam “have a nice day” dan itu saya ucapkan juga kepada nenek tersebut sehabis ia membayar di kasir.

Nenek itu berhenti dan berpaling ke arah saya sambil berkata, “Anakku, setiap hari adalah miracle day, bukan nice day!”

Lalu ia bercerita bahwa ia telah operasi jantung dua kali. Yang pertama ia menerima donor jantung anak usia 14 tahun tetapi tidak kompartibel dan sempat koma selama tiga hari. Lalu kedua kali ia menerima jantung pria berusia 35 tahun dan ternyata cocok hingga saat itu.

Nenek itu menambahkan sejak peristiwa tersebut ia merasakan hidup yang kedua kalinya. Baginya setiap saat adalah “miracle”; setiap tarikan dan hembusan nafas adalah keajaiban. Jadi hidup bukan hanya “nice day” tetapi hidup adalah “miracle every second”.

Pertemuan singkat dengan nenek tersebut telah membuat saya lebih menghargai arti hidup, dan nenek itu datang sebagai guru bagi saya agar lebih menghargai hidup. Hidup akan jauh lebih berarti bila kita bisa memanfaatkannya dengan baik daripada sekadar menghitung hari.

Mengutip kata Tom Hanks dalam film Forrest Gump: “Life is like a box of chocolate, we never know what we gonna get”. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan tetapi dengan mempersiapkan diri dan attitude every day is miracle seperti nenek tersebut mungkin akan membuat hidup kita lebih hidup dan lebih berwarna baik bagi diri kita maupun bagi lingkungan sekitar kita.

Sumber : https://mayleneandthesonsofdisaster.us/

Mie Yang Terlalu Matang

Mie Yang Terlalu Matang

Inflasi adalah
Inflasi adalah
Mie Yang Terlalu Matang
Mie Yang Terlalu Matang

Pelajaran tentang membina sebuah hubungan, saya dapatkan dari kebiasaan makan pagi saat masih kecil dulu. Ibu selalu menekankan pentingnya sarapan bersama sebelum berangkat beraktivitas, padahal beliau sendiri harus berangkat bekerja di pagi hari. Untuk itu, ibu bangun lebih pagi dari kami semua dan melakukan beberapa hal sekaligus sambil bersiap-siap untuk berangkat kerja.

Satu hal yang selalu saya keluhkan saat itu adalah, mie yang dimasak terlalu matang sehingga tidak lagi terasa teksturnya dan membuat menu mie kami terasa memuakkan. Saya tahu Ayah juga tidak suka dengan sesuatu yang lembut seperti itu. Ayah benci bubur, pasta dan mie yang terlalu matang, namun anehnya Ayah tidak pernah sekalipun menegur ibu.

Ketika saya memberanikan diri mengatakannya, Ibu berjanji akan mengurangi waktu memasak mie agar tidak terlalu matang. Namun tidak ada perubahan, walaupun Ibu selalu berkata ‘oops.. maaf, mienya terlalu matang lagi’ dan Ayah akan berkata ‘masih enak kok’. Maka saya berpikir Ayah harus mengatakan pendapatnya agar ibu benar-benar mengusahakan agar mie itu tidak terlalu matang lagi. Lagipula saya penasaran mengapa Ayah nampak tidak keberatan dengan mie itu, padahal dia sendiri pasti tidak menyukainya.

Dalam satu kesempatan, saya pun menanyakan pada Ayah dan dia memegang pundak saya sambil menjelaskan. Ayah berkata bahwa Ibu harus melakukan banyak hal di pagi hari, dan mie itu terlalu matang karena Ibu memberi banyak air dan merebusnya agak lama sehingga Ibu punya waktu yang cukup untuk berpakaian.

Kemudian Ayah melanjutkan, mengapa kita harus mengeluh? Mie yang terlalu matang masih tetap membuat kita kenyang dan tidak membuat sakit. Hidup itu penuh dengan hal-hal dan orang-orang yang tidak sempurna, seperti Ayah dan saya yang sering lupa menutup pintu, lupa membereskan barang-barang dan banyak lagi.

Waktu itu, saya hanya menangkap bahwa kelalaian Ibu harus dimaklumi. Namun seiring usia, saya menangkap makna yang lebih dalam dari itu. Ada banyak ketidaksempurnaan dalam hidup ini, dan ada banyak kesalahan yang kita buat sebanyak orang lain berbuat kesalahan di mata kita. Tidak semua kesalahan ini harus dipermasalahkan dan diselesaikan, banyak di antaranya hanya perlu untuk dipahami dan diterima.

Apa yang Anda lihat sebagai kesalahan, mungkin bukan sebuah kesalahan namun perbedaan. Menerima perbedaan dan memahami ketidaksempurnaan adalah dasar untuk menciptakan hubungan yang sehat, tahan lama dan tidak pernah membosankan.

Sumber : https://icanhasmotivation.com/

Memahami 4 Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam

Memahami 4 Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam

Sesuai bersama bahan syarat-syarat dan bahan pengajar, guru harus punya kualifikasi kompetensi tertentu cocok bersama bidang tugas dan selanjutnya dapat menghasilkan lulusaan yang bermutu. Adapun kualifikasi kompetensi guru yang harus dimiliki berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) RI No.19 th. 2005 adalah sebagai berikut:

1. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik adalah kapabilitas mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan beraneka potensi yang dimilikinya. Jadi, dalam kaitannya bersama guru Pendidikan Agama Islam (PAI), yakni kapabilitas guru PAI dalam mengajarkan moral lewat perencanaan pembelajaran seperti dukungan teori dan juga evaluasi yang terselubung dalam aktivitas belajar mengajar dikelas, baik secara langsung maupun tidak langsung.

2. Kompetensi Kepribadian

Merupakan keadaan guru sebagai individu yang punya kepribadian yang mantap sebagai contoh seorang pendidik yang beriwaba. Adapun kompetensi kepribadian ini mencakup beraneka segi yakni punya kepribadian sebagai pendidik yang layak diteladani, dan punya sikap dan juga kapabilitas kepemimpinan dalam interaksi yang berwujud demokratis dalam mengayomi peserta didik. Jadi dalam hubungannya bersama peran guru PAI, yakni dalam memberi tambahan bimbingan moral, guru harus mempunyai kepribadian yang dapat dijadikan teladan oleh siswa dikelas. Dengan kata lain, baiknya kepribadian seorang guru dalam mengajar, akan berpengaruh baik pula bagi siswa yang diajarnya.

3. Kompetensi Profesional

Merupakan penguasaan materi ilmu ilmu dan teknologi yang luas dan mendalam mengenai bidang belajar atau mata pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik bersama mengfungsikan sistem intruksional dan langkah pembelajaran yang tepat. Kompetensi profesional ini mencakup:
Penguasaan materi pembelajaran atau bidang belajar yang mencakup ilmu pengetahuan, teknologi dan seni secara teriris dan praktis.
Penguasaan ilmu cara mengajar dan kapabilitas melaksanakannya secara efektif.
Penguasaan ilmu mengenai cara dan sistem belajar dan dapat membimbing peserta didik secara berkualitas.
Memiliki ilmu dan pemahaman professional mengenai perilaku individu dan kelompok dalam jaman perkembangan dan dapat melaksanakannya dalam sistem pembelajaran untuk keperluan peserta didik, juga aktivitas bimbingan.
Menguasai ilmu kemasyarakatan dan ilmu lazim yang memadai.
Menguasai kapabilitas mengevaluasi hasil atau prestasi belajar peserta didik secara obyektif.
Jadi, dalam kaitannya bersama guru pendidikan agama islam yakni merupakan penguasaan materi ilmu ilmu dan teknologi yang luas dan mendalam mengenai bidang belajar atau mata pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik bersama mengfungsikan sistem intruksional dan langkah pembelajaran yang pas dalam memberi tambahan pembinaan moral tersebut.

4. Kompetensi Sosial

Kaitannya bersama efek peran guru terhadap pembinaan moral merupakan kapabilitas guru sebagai anggota dari suatu kelompok sosial yang dapat berkomunikasi secara efisien dan efisien bersama peserta didik, sesama guru, orang tua atau wali peserta didik dan juga masyarakat lebih kurang dalammemberikan pendidikan moral. Adapun aspek-aspek dalam kompetensi ini meliputi:
Memiliki perilaku yang terpuji bersama sikap dan kepribadian yang mengasyikkan dalam pergaulan disekolah dan masyarakat.
Memiliki kapabilitas menghargai dan menghargai orang lain khususnya peserta didik bersama kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Memiliki ahlak yang mulia cocok agama yang dianut.
Dari keempat kompetensi di atas, kompetensi kepribadian yang berhubungan langsung bersama pembentukan moral anak didik dan erat kaitannya bersama peran guru pendidikan agama islam. Guru harus menjadi teladan dan memberi tambahan contoh yang baik dari segala sisi kepada anak didik karena apa yang kita berikan dapat ditiru anak didik.
Demikian gambaran empat kompetensi guru khususnya dikaitkan bersama kompetensi guru pendidikan agama islam .

Sumber : https://tokoh.co.id/

Baca Juga :

Peran dan Fungsi Guru Pendidikan Agama Islam

Peran dan Fungsi Guru Pendidikan Agama Islam

Peranan Guru Pendidikan Agama Islam pada dasarnya sama dengan peran guru lazim lainnya, yaitu sama-sama berusaha untuk memindahkan ilmu ilmu yang ia punya kepada anak didiknya, supaya mereka lebih banyak paham dan paham ilmu ilmu yang lebih luas. Akan tetapi peranan guru pendidikan agama Islam selain berusaha memindahkan ilmu (transfer of knowledge), ia termasuk perlu menanamkan nilai- nilai agama Islam kepada anak didiknya supaya mereka mampu mengaitkan antara ajaran-ajaran agama dan ilmu pengetahuan.

Mengacu pada pendapat Syaiful Bahri Djamarah (2000: 31), dikemukakan bahwa sehubungan dengan peranan guru sebagai “pengajar”, “pendidik” dan “pembimbing”, tetap dapat melukiskan pola tingkah laku yang diharapkan dalam beraneka interaksinya, baik dengan siswa, guru maupun dengan staf yang lain, berasal dari beraneka aktivitas jalinan belajar mengajar, mampu dipandang guru sebagai sentral bagi peranannya, karena baik disadari atau tidak bahwa beberapa berasal dari sementara dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap sistem belajar mengajar dan jalinan dengan siswanya.

Selanjutnya, Syaiful Bahri Djamarah (2000: 37) dalam bukunya yang berjudul “Guru Dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif”, menjelaskan dan menjelaskan peranan guru pendidikan agama Islam adalah seperti diuraikan dalam sejumlah peran di bawah ini:

1. Korektor

Sebagai korektor, seorang guru perlu mampu membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk, ke-2 nilai yang berlainan itu perlu serius dimengerti dalam kehidupan di masyarakat, ke-2 nilai kemungkinan anak didik udah mempengaruhinya sebelum akan anak didik masuk sekolah. Latar belakang kehidupan anak didik yang berbeda-beda sesuai dengan sosiokultural masyarakat di mana anak didik tinggal dapat mewarnai kehidupannya.
Semua nilai yang baik perlu guru pertahankan dan semua nilai yang buruk perlu disingkirkan berasal dari jiwa dan watak anak didik. Bila guru membiarkannya, berarti guru udah meniadakan peranannnya sebagai seorang korektor, yang menilai dan mengoreksi semua sikap, tingkah laku, dan tingkah laku anak didik, koreksi yang perlu guru laksanakan pada sikap dan cii-ciri anak didik tidak cuma disekolah, tetapi diluar sekolahpun perlu dilakukan.

2. Inspirator

Guru sebagai inspirator, maknanya guru perlu mampu beri tambahan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik, masalah belajar adalah masalah utama anak didik, guru perlu mampu beri tambahan arahan bagaimana cara belajar yang baik, arahan itu tidak perlu perlu bertolak berasal dari sejumlah teori-teori belajar, berasal dari pengalaman pun mampu dijadikan arahan bagaimana cara belajar yang baik. Yang perlu bukan teorinya, tetapi bagaimana melepaskan masalah yang dihadapi anak didik.

3. Informatory

Sebagai infomatory, guru perlu mampu beri tambahan Info perkembangan ilmu ilmu dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk tiap-tiap mata pelajaran yang udah diprogramkan dalam kurikulum, Info yang baik dan efektif diperlukan berasal dari guru. Kesalahan Info adalah bagaikan sebuah racun bagi anak didik, untuk jadi informatory yang baik dan efektif, penguasaan bahasalah sebagai kunci, yang ditopang dengan penguasaan bahan yang dapat diberikan kepada anak didik, informatory yang baik adalah guru yang paham apa kebutuhan anak didik dan mengabdi untuk anak didik.

4. Organisator

Sebagai organisator, adalah segi lain berasal dari peranan yang diperlukan berasal dari guru, dalam bidang ini guru punya kegiatanpengelolaan aktivitas akademik, menyusun tata teratur sekolah, menyusun kelender akademik, dan sebagainya, yang seutuhnya diorganisasikan supaya mampu meraih efektivitas dan efesiensi dalam belajar pada diri anak didik.

5. Motivator

Sebagai motivator guru hendaknya mampu mendorong anak didik supaya bergairah dan aktif belajar, dalam usaha beri tambahan motivasi, guru mampu menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah, tiap-tiap sementara guru perlu bertindak sebagai motivator, karena dalam jalinan mendidik tidak mustahil tersedia salah satu anak didik yang malas dan sebagainya.

Motivasi mampu efektif bila dijalankan dengan mencermati kebutuhan anak didik untuk lebih bergairah dalam belajar. Peranan guru sebagai motivator terlampau perlu dalam jalinan edukatif, karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang butuh kemahiran social, menyangkut performance dalam personalisasi dan sosialisasi diri.

Guru sebagai motivator hendaknya mampu mendorong supaya siswa mau laksanakan aktivitas belajar, guru perlu menciptakan suasana klas yang merangsang siswa laksanakan aktivitas belajar, baik aktivitas individual maupun kelompok. Stimulasi atau rangsangan belajar para sisa mampu ditumbuhkan berasal dari dalam diri siswa dan mampu ditumbuhkan berasal dari luar diri siswa.

6. Inisiator

Dalam peranan guru sebagai inisiator, guru perlu mampu jadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses jalinan mendidik yang tersedia saat ini perlu diperbaiki sesuai perkembangan ilmu ilmu dan teknologi di bidang pendidikan. Kompetensi guru perlu diperbaiki, ketrampilan penggunaan tempat pendidikan dan pengajaran perlu diperbaharui sesuai dengan kemajuan tempat komunikasi dan Info pada sementara ini, terlebih jalinan mendidik supaya lebih baik berasal dari yang dulu-dulu, bukan ikuti terus tanpa mencetuskan ide-ide inovasi bagi kemajuan pendidikan dan pengajaran.

7. Fasilitator

Sebagai fasilitator guru hendaknya mampu menyediakan fasilitas yang sangat mungkin kemudahan aktivitas belajar anak didik, lingkungan belajar yang tidak menyenangkan, suasana ruang kelas yang pengap, meja dan kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang tidak cukup tersedia, sebabkan anak didik malas belajar. Oleh karena itu jadi tugas guru bagaimana menyediakan fasilitas, supaya dapat tercipta lingkungan belajar yang mengasyikkan anak didik. Guru cuma berperan sebagai fasilitator, seperi yang diungkapkan Piaget (Paul Suparno, 2001:145) belajar yang baik terletak pada keaktifan siswa dalam membentuk pengetahuan, peran guru di sini adalah sebagai mentor atau fasilitator dan bukan mentrasfer ilmu pengetahuan.

8. Pembimbing

Peranan guru yang tidak kalah pentingnya berasal dari semua peran yang udah disebutkan di atas, adalah guru sebagai pembimbing, peranan yang perlu lebih dipentingkan, karenakehadiran guru disekolah adalah untuk membimbing anak didik jadi manusia dewasa susila yang cakap, tanpa pembimbing, anak didik dapat mengalami ada problem dalam menghadapi perkembangan dirinya, kekurang mampuan anak didik sebabkan lebih banyak tergantung pada perlindungan guru, tetapi makin lama dewasa, ketergantugan anak didik makin lama berkurang. Jadi, bagaimanapun termasuk bimbingan berasal dari guru terlampau diperlukan pada sementara anak didik belum mampu berdiri sendiri (mandiri).

9. Pengelolaan kelas

Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah area berhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka terima bahan pelajaran berasal dari guru. Kelas yang dikelola dengan baik dapat menunjang jalannya jalinan edukatif. Sebaliknya, kelas yang tidak dikelola dengan baik dapat menghambat aktivitas pengajaran, anak didik tidak mustahil dapat jadi jenuh untuk tinggal lebih lama di kelas. Hal ini dapat berakibat mengganggu jalannya sistem jalinan edukatif, kelas yang tetap padat dengan anak didik, pertukaran udara kurang, penuh kegaduhan, lebih banyak tidak mengantungkan bagi terlaksananya jalinan mendidik yang optimal.

Hal ini tidak seiring dengan obyek lazim berasal dari pengelolaan kelas, yaitu menyediakan dan memakai fasilitas kelas bagi bermacam macam aktivitas belajar mengajar supaya tercapai hasil yang baik dan optimal. Jadi maksud berasal dari pengelolaan kelas adalah supaya anak didik betah tinggal di kelas dengan impuls yang tinggi untuk tetap belajar di dalamnya.

10. Evaluator

Sebagai evaluator, guru dituntut untuk jadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan beri tambahan penilaian yang menyentuh segi ekstrinsik dan instrinsik, penilaian pada segi intrinsik lebih menyentuh pada segi kepribadian anak didik. Berdasarkan perihal ini guru perlu mampu beri tambahan penilaian dalam demensi yang luas, jadi penilaian itu pada hakikatnya diarahkan pada pergantian kepribadian anak didik supaya jadi manusia susila yang cakap.

Sebagai evaluator, guru tidak cuma menilai produk hasil pengajaran tetapi termasuk menilai sistem (jalannya pengajaran). Dari ke-2 aktivitas ini dapat beroleh umpan balik (feed back) tentang pelaksanaan jalinan mendidik yang udah dilakukan.

Sumber : https://tutorialbahasainggris.co.id/

Baca Juga :

Pengertian Menyontek, Faktor Penyebab & Indikatornya

Pengertian Menyontek, Faktor Penyebab & Indikatornya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2008), berasal dari kata sontek yang berarti melanggar, mencontoh, menggocoh yang berarti mengutip tulisan, dan lain sebagainya sebagaimana aslinya, menjiplak. Bower (dalam Purnamasari, 2013), mendeskripsikan menyontek adalah perbuatan yang memakai cara-cara yang tidak sah untuk obyek yang sah dan terhormat yaitu beroleh keberhasilan akademik untuk jauhi kegagalan akademik atau didalam teks aslinya cheating is manifestation of using illigitimate means to achieve a legitimate end (achieve academic success or avoid academic failure).

Senada bersama dengan Deighton (1971) yang memperlihatkan “Cheating is attempt an individuas makes to attain success by unfair methods.” Maksudnya, cheating adalah usaha yang ditunaikan seseorang untuk beroleh keberhasilan bersama dengan cara-cara yang tidak jujur. Sementara itu, menurut Pincus & Schemelkin (2003:196) perilaku menyontek merupakan suatu tindakan curang yang sengaja ditunaikan dikala seseorang mencari dan membutuhkan adanya pengakuan atas hasil belajarnya dari orang lain meskipun bersama dengan langkah yang tidak sah seperti memalsukan Info terutama dikala dilaksanakannya evaluasi akademik.

Berdasarkan lebih dari satu pengertian menyontek di atas maka mampu disimpulkan bahwa perilaku menyontek adalah kegiatan, tindakan atau perbuatan yang ditunaikan secara sengaja bersama dengan memakai cara-cara yang tidak jujur atau curang untuk memalsukan hasil belajar bersama dengan memakai perlindungan atau memakai Info dari luar secara tidak sah pada waktu ditunaikan tes atau evaluasi akademik untuk raih obyek tertentu.

Faktor-faktor Penyebab Menyontek

Salah satu alasan yang mendorong individu untuk menyontek adalah untuk memuaskan harapan orang tua. Santrock (2003) menyebutkan bahwa tidak jarang orang tua didalam mengasuh atau mendidik anak-anaknya terbujuk oleh permohonan atau ambisi dari orang tua tanpa menyaksikan kebolehan anaknya. Orang tua punya niat idamkan beri tambahan yang terbaik bagi anak-anaknya, tetapi permohonan selanjutnya tidak mencermati kebolehan anak.

Sikap orang tua yang menginginkan terlalu terlalu berlebih pada anak dapat menahan anak untuk memperlihatkan prestasi sesuai bersama dengan potensi yang dimiliki. Menurut Gunarsa & Gunarsa (1991) biasanya anak jelas harapan orang tuanya. Oleh dikarenakan itu sikap yang terlalu menuntut mampu membuat anak mulai takut kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Hal ini menimbulkan rasa rendah diri, problem tingkah laku, berkurangnya stimulan untuk belajar serta ketegangan atau ketakutan didalam diri anak.

Agustin (2014) menyebutkan lebih dari satu faktor yang membuat siswa menyontek pada waktu ujian. Faktor-faktor penyebab menyontek adalah:
Tekanan yang terlalu besar yang diberikan kepada “hasil studi” berbentuk angka dan nilai yang diperoleh siswa didalam tes formatif atau sumatif.
Pendidikan moral, baik di rumah maupun di sekolah kurang diterapkan didalam kehidupan siswa.
Sikap malas yang tertanam didalam diri siswa sehingga ketinggalan didalam menguasai mata pelajaran dan kurang bertanggung jawab.
Anak remaja kerap menyontek daripada anak SD, dikarenakan masa remaja bagi mereka mutlak sekali miliki banyak teman dan populer di kalangan teman-teman sekelasnya.
Kurang jelas makna dari pendidikan.
Disadari atau tidak, siswa yang menyontek pada waktu ujian disebabkan oleh satu atau lebih faktor-faktor di atas. Perilaku menyontek ini dapat membuat perilaku atau watak tidak yakin diri, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, tidak senang membaca buku pelajaran tetapi rajin membuat catatan kecil-kecil untuk bahan menyontek, menghalalkan segala macam cara, dan pada akhirnya menjadi koruptor. Dengan demikianlah kelihatan bahwa perilaku menyontek secara tidak langsung membelajarkan pada siswa untuk menjadi seorang koruptor.

Indikator Menyontek

Menyontek sebagai perilaku ketidakjujuran akademis yang kerap ditunaikan oleh mahasiswa miliki lebih dari satu indikator. Sejumlah indikator menyontek yang kerap digunakan para peneliti yang jalankan penelitian berkenaan bersama dengan perilaku menyontek yang berlangsung pada pelajar maupun mahasiswa merujuk pada pendapat Dody Hartanto (2012:23-29) yang menguraikan bahwa terdapat delapan indikator menyontek sebagai berikut:

a. Prokrastinasi dan efikasi diri

Gejala yang kerap ditemui pada seseorang yang menyontek adalah prokrastinasi dan juga rendahnya efikasi diri. Prokrastinasi (kegiatan menahan-nahan kegiatan atau tugas) merupakan gejala yang paling kerap ditemui pada orang yang menyontek dikarenakan orang yang terbiasa menahan-nahan pekerjaan dapat miliki kesiapan yang rendah didalam hadapi ujian.

Efikasi diri rendah yang dimiliki seseorang juga merupakan indikasi lain bagi perilaku menyontek. Efikasi diri merupakan sebuah keyakinan diri seseorang didalam menyelesaikan tugas atau permasalahan. Orang yang miliki tingkat efikasi diri yang tinggi dapat condong lebih yakin diri dan mampu menyelesaikan tugas yang diberikan bersama dengan baik dan menolak untuk jalankan kegiatan menyontek.

b. Kecemasan yang berlebihan

Munculnya ketakutan yang terlalu berlebih juga merupakan indikator bagi seseorang yang jalankan kegiatan menyontek. Gejala yang keluar pada seorang pencontek adalah munculnya ketakutan yang terlalu berlebih waktu tes. Kecemasan selanjutnya mampu merubah otak sehingga otak tidak mampu bekerja sesuai bersama dengan kemampuannya. Keadaan selanjutnya membuat orang terdorong didalam jalankan kegiatan menyontek untuk menciptakan ketenangan pada dirinya.

c. Motivasi belajar dan berprestasi

Orang yang miliki stimulan untuk berprestasi dapat mengusahakan menyelesaikan tugas maupun pekerjaan yang diberikan kepadanyadengan usahanya sendiri dan sebaik-baiknya. Hal ini mampu berarti bahwa orang yang miliki stimulan berprestasi condong mengerjakan tugas sendiri dan jauhi perilaku menyontek. Sebaliknya orang yang miliki stimulan belajar yang rendah dapat banyak menemui ada masalah didalam belajar, sehingga miliki tingkat ilmu dan pemahaman yang kurang didalam hadapi tes.

d. Keterikatan bersama dengan kelompok

Orang yang miliki keterikatan didalam suatu grup dapat condong jalankan kegiatan menyontek. Hal itu berlangsung dikarenakan orang selanjutnya merasakan keterikatan yang kuat di pada mereka sehingga mendorong untuk saling menolong dan share juga juga didalam menyelesaikan ujian atau tes. Biasanya seseorang dapat condong menyontek kepada teman yang dikenal atau teman dekatnya.

e. Keinginan nilai tinggi

Keinginan seseorang untuk beroleh nilai yang tinggi juga mampu menjadi pendorong seseorang jalankan kegiatan menyontek.Orang berpikir bahwa nilai adalah semuanya dan mengusahakan untuk beroleh nilai yang baik meskipun harus memakai langkah yang tidak benar (menyontek).

f. Pikiran negatif

Pikiran negatif yang dimiliki siswa seperti ketakutan dianggap bodoh dan dijauhi teman, ketakutan dimarahi guru atau orang tua dikarenakan nilai jelek juga menjadi indikator perilaku menyontek pada siswa. Adanya perilaku menyontek berlangsung dimulai dikarenakan jalinan orang tua dan siswa yang kurang baik. Orang tua mestinya beri tambahan stimulan dan keyakinan kepada siswa sehingga mampu meminimalisir perilaku menyontek.

g. Perilaku implusive dan cari perhatian

Dody Hartanto (2012:28) menyebutkan bahwa orang yang jalankan kegiatan menyontek memperlihatkan indikasi mereka terlalu menuruti kata hati (implusive) dan terlalu mencari perhatian (sensation seeking). Individu mampu dikatakan implusive kecuali ketentuan yang dibuathanya berdasarkan stimulan untuk beroleh keuntungan pribadi dibandingkan berkhayal alasan. Individu yang miliki keperluan dapat sensasi (perhatian) yang terlalu berlebih adalah dikala individu yang sedang didalam tumbuh dan berkembang selanjutnya jalankan perbuatan menyontek sebagai sesuatu yang alami untuk bertahan hidup.

h. Harga diri dan kendali diri

Seseorang yang miliki harga diri yang tinggi atau terlalu berlebih dapat condong memilih untuk jalankan kegiatan menyontek. Perbuatan menyontek selanjutnya ditunaikan untuk melindungi harga diri siswa tetap terjaga bersama dengan beroleh nilai yang tinggi meskipun bersama dengan menyontek. Selain itu orang yang miliki kendali diri (self control) yang rendah juga condong jalankan perbuatan menyontek.

Bentuk-Bentuk Menyontek

Berhubungan bersama dengan bentuk-bentuk menyontek, Hetherington plus Feldman (1964; didalam Dody Hartanto, 2012:17) membagi perilaku menyontek ke didalam empat bentuk, yaitu:
Individual-opportinistic yang dimaknai sebagai perilaku di mana siswa mengganti suatu jawaban dikala ujian atau tes sedang berlangsung bersama dengan memakai catatan dikala guru keluar dari kelas.
Independent-planned yang diidentifikasikan sebagai memakai catatan dikala tes atau ujian berlangsung, atau mempunyai jawaban yang telah lengkap atau dipersiapkan bersama dengan menulisnya terutama dahulu sebelum berlangsungnya ujian.
Social-active yang merupakan perilaku di mana siswa mengcopi atau menyaksikan atau meminta jawaban bersama dengan orang lain.
Social-passive yaitu mengizinkan seseorang menyaksikan atau mengcopi jawaban.
Sebagaimana hasil penelitian Dody Hartanto (2010) kepada siswa di tidak benar satu sekolah swasta di kota Yogyakarta diketahui bahwa wujud perilaku menyontek yang paling dominan adalah social active. Pada kegiatan menyontek selanjutnya siswa lebih banyak memilih langkah berbentuk menyaksikan jawaban teman pada waktu tes berlangsung. Bentuk menyontek lainnya seperti meminta jawaban kepada teman, baik lewat perlindungan kode nonverbal maupun bersama dengan tulisan. Selain itu hasil penelitian yang ditunaikan oleh Friyatmi (2011) pada mahasiswa FE UNP juga ditemukan wujud perilaku menyontek yang paling dominan ditunaikan oleh mahasiswa, yaitu menyalin jawaban teman dan mengizinkan teman menyalin jawaban mereka.

Menurut Dody Hartanto (2012:37) lebih dari satu wujud dari perilaku menyontek diantaranya adalah (a) memakai bahan yang tidak sah pada tiap tiap kegiatan akademik, (b) membuat informasi, referensi atau hasil bersama dengan menipu orang lain, (c) plagiat, dan (d) menolong orang lain untuk terlibat didalam perilaku menyontek.

Dengan kemajuan dan kecanggihan teknologi zaman saat ini ini, timbul wujud perilaku menyontek yang baru. Hal ini seperti memakai kalkulator, memfoto materi yang dapat diujiankan bersama dengan kamera hand phone, membuka internet bersama dengan hand phone dikala ujian sedang berlangsung, berbalas sms bersama dengan teman, dan lain-lain. Hal ini dibuktikan bersama dengan temuan hasil penelitian McCabe (2001) di sebuah SMP swasta di Yogyakarta yang mana terdapat 74 prosen siswa dulu memakai dan memakai teknologi untuk menyontek.

Dari lebih dari satu wujud menyontek di atas, mampu disimpulkan bentuk-bentuk perilaku menyontek pada lain:
individual-opportinistic,
independent-planned,
social-active,
social-passive,
melihat jawaban teman dikala tes berlangsung,
meminta jawaban pada teman,
mengizinkan teman menyalin jawaban,
menggunakan bahan yang tidak sah pada tiap tiap kegiatan akademik,
plagiat,
membantu orang lain untuk terlibat didalam perilaku menyontek,
membuka buku waktu ujian,
membuat catatan sendiri,
membuat coret-coretan di kertas kecil, rumus di tangan, di kerah baju,
mencuri jawaban teman, dan
memanfaatkan teknologi.
Demikian penjelasan pengertian menyontek dan faktor-faktor penyebabnya serta lebih dari satu indikator menyontek yang kerap digunakan para peneliti juga beraneka wujud menyontek di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Baca Juga :

IPB Gandeng Perpusnas Latih Staf dan Pustakawan

IPB Gandeng Perpusnas Latih Staf dan Pustakawan

IPB Gandeng Perpusnas Latih Staf dan Pustakawan
IPB Gandeng Perpusnas Latih Staf dan Pustakawan

Perpustakaan Institut Pertanian Bogor (IPB) menyelenggarakan pelatihan Resource

Description and Access (RDA) bagi staf/tenaga di unit perpustakaan dan pustakawan di Kampus IPB Dramaga, Bogor (21-22/9). Pelatihan yang diikuti oleh 15 orang peserta dari berbagai jenjang jabatan ini dibuka oleh Kepala Perpustakaan IPB, Prof. Dr. Ir. Pudji Muljono, M.Si.

Pada kegiatan yang terselenggara berkat kerjasama antara IPB dengan Perpustakaan Nasional ini, Prof. Dr. Ir. Pudji menyampaikan pentingnya penerapan RDA dalam pengelolaan bahan perpustakaan yang terus berkembang khususnya koleksi digital. Untuk itu diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan mempunyai kompetensi dalam melakukan pengatalogan berbasis RDA.

“RDA merupakan pedoman dan instruksi untuk deskripsi akses ke sumber informasi

yang digunakan di perpustakaan yang dirancang untuk menggantikan AACR (Anglo American Cataloging Rules). Pedoman RDA di Indonesia dimaksudkan untuk memberikan petunjuk dasar, diterapkan sebagai acuan pengatalogan bahan perpustakaan dan untuk memudahkan kerja sama dalam pemanfaatan koleksi perpustakaan,” ujarnya.

Menurutnya, tujuan dari implementasi RDA adalah sebagai kerangka kerja

yang lebih fleksibel untuk mendeskripsikan semua jenis materi (analog dan digital) dan menyajikan data yang mampu beradaptasi dengan kemunculan struktur pangkalan data yang baru. Pelatihan ini dipandu oleh instruktur dari Perpustakaan Nasional RI

 

Baca Juga :