Emosi Tidak Selalu Negatif
Posted on: August 30, 2019, by : g3wgj

Emosi Tidak Selalu Negatif

Ada tidak sedikit orang percaya bahwa seorang pemimpin yang baik mesti pandai mengurangi emosi. Apalagi bila ia seorang wanita, yang tidak jarang dilabeli sebagai makhluk emosional. Dia mesti dapat menampilkan kesan sebagai seseorang yang dapat meredam apa yang sedang bergolak di hati dan pikirannya sampai-sampai yang terlihat di permukaan ialah pribadinya yang tenang dan stabil. Ternyata, urusan tersebut tidak benar sebab yang lebih urgen dikuasai ialah bagaimana seseorang mempunyai emotional agility, yakni bagaimana dengan luwes dapat memilih emosi yang sangat tepat menurut kondisi dan situasi yang sedang dihadapi. Ilmu urgen untuk sukses untuk tiap orang.

Sheryl Sanberg, COO Facebook, pernah mengatakan, “Bawalah borongan dirimu ke lokasi kerja. Saya tidak percaya dengan ungkapan bahwa anda mempunyai pribadi profesional dari Senin ke Jumat, dan individu sebenarnya di hari-hari sesudahnya. Ini mengenai segala profesionalisme dan pun semua hal-hal personal.”

Sheryl, penulis kitab Lean In: Women, Work and the Will to Lead, ialah sosok perempuan karier yang menginspirasi sebab ia berbagi kepercayaan bahwa tiap wanita dapat berkarier berkilauan di umur berapa juga mereka. Sheryl benar adanya bahwa tiap orang mesti menjadi diri sendiri di lokasi kerja, dan tidak butuh merasa guna menjadi profesional. Itu dengan kata lain seseorang dilarang mengekspresikan perasaan dan personal life-nya di lokasi kerja.

Vina G. Pendit, Direktur Daya Lima, lembaga konsultan SDM, mengatakan, “Sejak anda lahir, kita telah diperkenalkan dengan sekian banyak macam jenis emosi, laksana marah, sedih, dan gembira. Emosi memengaruhi kualitas hidup anda dan tidak jarang kali ada dalam tiap hubungan yang anda miliki, entah tersebut hubungan pekerjaan, teman, keluarga, benda-benda ataupun orang-orang terdekat.” Karena itu, omong kosong bila ada yang mengatakan, begitu Anda hingga di kantor, bantu letakkan emosi dan perasaan kita di luar pintu.

Yang mesti dipahami, emosi tersebut tidak tidak jarang kali negatif. Emosi ialah reaksi seseorang terhadap situasi, peristiwa, keadaan, benda, dan beda sebagainya. Bersifat paling manusiawi. Emosi dapat ‘membantu’ kita, namun juga dapat ‘menjerumuskan’ kita.

Sebagai contoh, saat kita dihadapkan pada keputusan bahwa kantor pindah gedung, maka respons seseorang dapat dipengaruhi oleh emosinya. Untuk seseorang yang lebih tidak sedikit mengenal emosi marah dan kecewa, sikapnya bakal lebih tidak sedikit diwarnai kemarahan dan kekecewaan. Misalnya mengeluh capek sebab harus beberes barang-barang, kian jauh dari rumah, atau dapat juga komplain bahwa lokasi yang baru tidak nyaman dan beda sebagainya.

“Padahal, sekiranya dia mengenal emosi-emosi beda yang lebih beragam, laksana semangat, hendak tahu (curious), sabar, maka bisa jadi pindah kantor tersebut disikapi dengan teknik lain. Dia contohnya akan jadi orang yang penuh gagasan untuk kantor barunya,” ujar Vina.

Ibarat lemari baju, dalam diri seseorang sarat dengan ‘baju’ emosi, laksana ‘baju’ marah, sedih, sarat harapan, iri hati, bersemangat, bangga, kecewa, dan lain-lain. “Karena itu, anda dituntut untuk dapat mengenali ‘baju-baju’ emosi yang anda miliki untuk lantas memilih ‘baju’ emosi yang sangat tepat guna dikenakan dalam kondisi yang sesuai,” ujar Vina.

Untuk itu, urgen mengenali emosi diri sendiri dan emosi yang tepat guna menghadapi kondisi yang tepat. Jadi, emosi marah, sedih, atau kecewa sah-sah saja guna ditampilkan, andai situasinya tepat. Yang tak kalah penting ialah cara mengekspresikan emosi pun perlu anda sesuaikan dengan kebiasaan tempat anda berada.

“Wanita sering dianggap sebagai makhluk yang emosional, sampai-sampai di lokasi kerja diminta untuk mengurangi emosinya. Padahal, seluruh manusia, baik lelaki maupun perempuan mempunyai emosi. Yang membedakan ialah seberapa tidak sedikit ‘baju’ emosi yang dipunyai dan dikenali seseorang dan bagaimana mengekspresikannya,” ujar Vina.

Baca Juga: