Dua Peserta Berkebutuhan Khusus Ikut UMPTKIN
Posted on: July 12, 2019, by : g3wgj
Dua Peserta Berkebutuhan Khusus Ikut UMPTKIN

Dua Peserta Berkebutuhan Khusus Ikut UMPTKIN

Dua Peserta Berkebutuhan Khusus Ikut UMPTKIN
Dua Peserta Berkebutuhan Khusus Ikut UMPTKIN

Ujian masuk perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (UMPTKIN) berlangsung Selasa (23/5). Ujian itu merupakan seleksi atau tes tulis bagi calon mahasiswa yang mendaftar prodi-prodi agama dan sosial. Di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), ada 5.050 peserta yang menjalani ujian.

Wakil Rektor I UINSA Syamsul Huda mengatakan, animo peserta yang mendaftar atau ingin mengambil pagu di UINSA cukup tinggi. Yakni, mencapai 9.576 orang. Padahal, kuota yang tersedia hanya sekitar 800 kursi. Itu tersebar untuk 25 prodi. ”Persaingannya ketat. Kalau lolos, akan ada tes baca Alquran,” katanya.

Hasil tes tulis diumumkan pada Juni. Syamsul menyebutkan, soal-soal UMPTKIN

berbeda dengan soal ujian tulis seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN). Perbedaannya terletak pada soal tes kemampuan dasar (TKD). Pada UMPTKIN, di TKD-nya terdapat soal tentang kebahasaan dan keislaman.

Soal-soal yang disajikan juga bersifat high order thinking (HOT). Soal-soal mengikuti standar internasional. Menurut dia, salah satu karakter soal yang muncul adalah tidak bakal bisa ditebak. ”Karena pakai logika yang baik, multiliterasi data, tidak bisa dengan hafalan, logikanya harus bagus,” terangnya.

Karakter soal-soal itu diharapkan bisa menyaring mahasiswa sebaik-baiknya. Dengan begitu, saat perkuliahan, mereka sudah memiliki standar menjadi mahasiswa. ”Kami tidak mengevalusasi, tapi memprediksi kemampuan peserta,” jelasnya. Jika hasil ujian bagus, kualitas mahasiswa juga bagus.

Selama ini kualitas mahasiswa yang dihasilkan antara jalur prestasi dan jalur tes tulis tidak berbeda. Padahal, mahasiswa yang terseleksi dari jalur prestasi mestinya lebih baik. Namun, ternyata mahasiswa yang terseleksi dari jalur prestasi tidak jauh lebih baik daripada mahasiswa jalur tes tulis. ”Malah jalur tes tulis lebih baik. Mungkin karena benar-benar selektif dari ujian,” katanya.

Karena itu, pihaknya akan menyampaikan kepada pemerintah untuk merevisi kuota

. Selama ini UMPTKIN atau tes tulis menyumbang porsi 30 persen dalam proses seleksi mahasiswa. Sebanyak 50 persen lainnya berasal dari SPANPTKIN (jalur prestasi) dan 20 persen dari jalur mandiri. ”Kuota 50 persen terlalu besar, usulannya 35:35:30 itu cukup baik,” terangnya.

Meski begitu, mutu para mahasiswa tetap harus ditingkatkan. Mulai proses pendekatan atau metode pembelajaran hingga pembelajaran yang mengarah pada kemandirian, memecahkan masalah (problem solving), serta pembelajaran melalui penelitian (learning by research). ”Memacu agar bisa berprestasi dan lebih maju,” tuturnya.

Dalam ujian itu, ada dua peserta penyandang disabilitas. Mereka adalah Zakiyatur Rosyidah dan Naufaldi Pradana. Zakiyatur merupakan peserta yang memiliki keterbatasan pada penglihatannya, sedangkan Naufaldi tunarungu. Bedanya, Naufaldi masih bisa mengerjakan soal sendiri bersama peserta lain. Sementara itu, Zakiya harus dibantu untuk mengarsir lembar jawabannya. Karena itu, dia menjalani ujian di ruang khusus.

Zakiya merupakan siswa asal SMAN 1 Waru, Sidoarjo. Meski jarak mata dan soal sangat dekat

, dia bisa membaca sendiri 95 soal itu. Dia membawa lampu meja untuk memperjelas tulisan-tulisan yang ada di kertas. Setelah membaca dengan saksama, dia menjawabnya. Lalu, pendamping mengarsir jawaban di lembar jawaban komputer.

Zakiya memilih bimbingan dan penyuluhan Islam. ”Saya suka dunia kerjanya, memberikan penyuluhan seperti psikolog,” katanya. Zakiya memang ingin berkuliah. Bahkan, dia juga sempat mengikuti SBM PTN. ”Harus kuliah tanpa harus minder,” ujarnya

 

Baca Juga :