Goes To International Film Festival
Posted on: May 31, 2019, by : g3wgj
Goes To International Film Festival

Goes To International Film Festival

Goes To International Film Festival
Goes To International Film Festival

BANDUNG–Film-film karya anak bangsa anti mainstream (indie)

diputar seharian penuh di Institut Français d’Indonésie (IFI) Bandung pada Sabtu pekan lalu. Film yang diputar bukan sembarang film indie, namun film yang sudah mendapatkan pengakuan dari sineas internasional.

Sebagai local partner, Bandung Film Council (BFC) dan Institut Français d’Indonésie (IFI) Bandung dipercayai kolektif sebagai penggerak acara pemutaran kolaboratif pada Indonesian Film, Goes To
International Film Festival.

Pemutaran film ini hadir karena adanya inisiatif dari Kolektif

yang bekerjasama dengan IFI di Indonesia untuk melakukan pemutaran film-film non-mainstream di berbagai kota di Indonesia di antaranya di
Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

“Setidaknya kegiatan Indonesian Film Goes To International Film Festival menjadi bukti sineas dalam negeri sudah mampu melahirkan karya-karya berkualitas yang telah mendunia dan berprestasi di ajang festival film mancanegara tak seperti anggapan masyarakat kebanyakan yang underestimate terhadap film Indonesia,” ujar Koordinator Bandung Film Council Sofyana Ali Bindiar.

Ia mengatakan film lokal bisa diapresiasi di luar rumahnya, Indonesia,

telah mendorong semangat sineas lokal untuk membuat karya-karya lain agar menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri.

Acara pemutaran alternatif ini adalah bentuk apresiasi terhadap karya-karya tersebut untuk bisa dinikmati masyarakat, selain juga dapat menjadi bentuk edukasi bagi sineas-sineas muda Bandung melalui film-film berkualitas. Baik dari segi penggarapan teknis maupun ide cerita yang tidak mengangkat isu yang sama dan monoton.

Film yang akan diputar dalam acara tersebut antara lain film The Fox Exploits The Tigers Might yang pada tahun ini lolos ke Cannes Film Festival. Lalu film –film pendek seperti Following Diana (Toronto
Internasional Film Festival), Kisah Cinta yang Asu (Busan Internasional Film Festival) dan Rocket Rain (Karlovy Vary Internasional Film Festival).

Ia mengatakan dalam semangat hari Pahlawan yang akan diperingati pada 10 November mendatang, acara ini pun mencoba menciptakan semangat, bahwa saat ini kita sedang mengalami pertempuran ide dan gagasan di tengah persaingan dunia.

“BFC sebagai organisasi film di Kota Bandung yang ingin menjadikan karya dalam bentuk film sebagai gerbong penggerak industri kreatif lainnya agar bisa guyub ide, rembuk karya, sehingga semua elemen yang ada dalam sebuah film dapat berdampak nyata, tidak hanya dalam bentuk keuntungan kapital, tetapi juga dalam bentuk gotong royong dalam menciptkan sebuah karya. “

Di mana di lain pihak, negara-negara maju di dunia telah melihat karya dalam bentuk film tidak hanya sebagai mesin pencetak uang. Lebih jauh dari itu, film bisa menjadi alat propaganda, pengenalan budaya, dan mengangkat isu-isu lokal yang tabu dibicarakan dalam bentuk media lainnya.

“Para pembuat film sebagai pejuang kebudayaan, tentu harus kita dukung dalam bentuk apresiasi kepada karya-karya mereka,” tuturnya.

Menurut dia, tidak menutup kemungkinan, apresiasi melalui pemutaran alternatif atau anti mainstream di luar jaringan bioskop ini dapat memberikan banyak inspirasi dan menstimulus terciptanya ide serta gagasan. jo

 

Baca Juga :