Karakteristik Hipotesis
Posted on: April 20, 2019, by : g3wgj
Karakteristik Hipotesis

Karakteristik Hipotesis

Karakteristik Hipotesis
Karakteristik Hipotesis

Karakteristik Hipotesis

Sesudah hipotesis untuk sementara dirumuskan maka, sebelum pengujian yang sebenarnya dilakukan, potensi hipotessi itu sebagai alat penelitian harus dinilai terlebih dahulu. Hipotesis harus memenuhi kriteria penerimaan tertentu. Harga terakhir suatu hipotesis tidak dapat dinilai sebelum dilakukan pengujian empiris, namun ada beberapa kriteria tertentu yang dapat memberikan ciri hipotesis yang baik. Peneliti hendaknya menggunakan kriteria-keriteria tersebut untuk menilai kelayakan hipotesis yang diajukan.

 

Hipotesis harus mempunyai daya penjelas

Suatau hipotesis harus merupakan penjelasan yang mungkin mengenai apa yang seharusnya diterangkan. Ini adalah ktriteria yang sudah jelas dan penting. Sebagi contoh, misalkan anda mencoba menstater mesin mobil anda, ternyata mesin tidak mau hidup. Hipotesis yang menyatakan bahwa mesin tidak mau hidup karena anda membiarkan air dikamar madi mengalir keselokan, bukan merupakan penjelasan tepat. Hipotesis yang mengatakan bahwa akinya mati adalah penjelasan yang tepat dan perlu diuji.

 

Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada diantara variabel-variabel

Suatu hipotesis harus menerka atau menduga hubungan antara dua atau lebih variabel. Dalam contoh kita diatas, tidak ada gunanya kita menyatakan bahwa “mesin mobil tersebut tidak akan hidup dan mesin mobil itu mempiunyai jaring-jaring kabel”. Karena sama sekali tidak ada hubungan antara variabel-variabel yang disebutkan itu. Sehingga tidak ada hubungan yang akan diajukan untuk diuji.

Hipotesis yang baik akan berbunyi “mesin mobil tidak mau hidup karena ada ketidak bersan pada jaringan kabelnya”. Kelihatannya kriteria ini sangat jelas tetapi lihat pernyataan berikut ini apabila anak-anak berbeda satu sama lain dalm konsep diri, mereka akan berbeda satu sama lain pula dalam hasil belajar ilmu pengetahuan sosial. Pernyataan ini tampaknya seperti suatu hipotesis, sampai anda sadar bahwa tidak ada pernyataan apapun tentang hubungan yang diharapkan.

Hubungan yang diharapkan dapat dituliskan dalam bentuk pernyataan konsep diri yang tinggi mungkin merupakan penyebab hasil belajar yang lebih tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan sosial. Hipotesis itu kemudian dirumuskan akan terdapat hubungan positif atara konsep diri dan hasil belajar ilmu pengetahuan sosial. Jika yang diramalkan adalah yang sebaliknya yakni konsep diri yang lebih tinggi menjurus pada hasil belajar ilmu pengetahuan sosial yang lebih rendah, maka hipotesis itu akan berbunyi akan terdapat hubungan negatif antara konsep diri dan hasil belajar ilmu pengetahuan sosial. Kedua pernyataan itu masing-masing akan memenuhi kriteria yang kedua ini.

 

Hipotesis harus dapat diuji

Dikatakan bahwa sifat terpenting dari hiotesis yang baik adalah kemampuannya untuk diuji. Suatu hipotesis yang dapat diuji berarti daat ditahkikan (verifiable)  artinya, deduksi, kesimpulan, dan prakiraan dapat ditarik dari hipotesis tersebut sedemikian rupa, sehingga dapat dilakukan pengamatan empiris yang akan mendukung atau tidak mendukung hipotesis tersebut. Kalau hipotesis ini benar, maka beberapa akibat tertentu yang dpaat diramalkan harus tampak nyata. Hipotesis yang dapat diuji memungkinkan peneliti menetapkan, berdasarkan pengamatan, apakah akibat yang tersirat secara deduktif itu benar-benar terjadi atau tidak. Kalau tidak demikian tidak mungkin kita akan dapat mengukuhkan atau tidak mengkuhakan hipotesis tersebut. Dalam contoh kita, hipotesis yang berbunyi “kerusakan mesin mobil itu adalah hukuman dosa-dosa saya“ rupanya tidak dapat diuji didunia ini.

Banyak hipotesis tau proposisi (pernyataan) yang pada dasarnya tidak dapat diuj. Misalnya hipotesis pendidikan taman kanak-kanak meningkatkan penyesuaian diri anak sekolah dasar secara menyeluruh“ akan sangat sulit diuji karaena sangat sulit merumuskan dan mengukur penyesuaian diri secara menyeluruh ini. Contoh yang lain hipotesis yang berbunyi “penggunaan karya Ditto dalam mata pelajaran seni, mematikan kreatifitas seni anak“, dalam hal ini kesulitan itu dapat berupa perumusan dan pengukuran kreativitas seni, disamping petnetapan kriteria untuk mentukan apakah telah terjadi proses pematian kreativitas atau tidak.

Agar dapat diuji hipotesis harus menghubungkan variabel-variabel yang dapat diukur. Apabila tidak terdapat alat atau cara untuk mengukur variabel-variabel itu, maka kita tidak mungkin dapat mengumpulkan data yang diperlukan untuk menguji validitas hipotesis tersebut. Ini tidak melebih-lebihkan, jika peneliti dapat merumuskan secara spesifik indikator tiap-tiap variabel dan kemudian mengukur variabel-variabel ini, maka hipotesis itu tidak dapat diuji.

Indikator variabel tersebut disebut batasan operasional. Seperti telah diterangkan sebelumnya batasan operasional adalah batasan yang menetapkan suatu variabel dengan menyatakan opresi atau prosedur yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut. Sebagai contoh hipotesis yang berbunyi “ada hubungan positif antara rasa harga diri anak dan hasuil belajar membacanya di kelas satu”. Agar hipotesis ini memenuhi kriteria dapat diterima, maka variabel-variabel dalam hipotesis ini harus didefenisikan secara operasional. Rasa harga diri mungkin dirumuskan sebgai skor yang diperoleh pada skal harga diri (menurut Coppersmith), sedangkan hasil belajar membaca dirumuskan sebagai skor yang diperoleh pada tes membaca dari california atau penilaian hasil belajar membaca yang dilakukan oleh guru-guru kelas satu.

Pertimbangan pertama dalam perumusan hipotesis adalah memastikan vabhwa variabel-variabel dalam hipotesis tersebut telah diberi batasan secara operasional. Hindarilah pemakaian pengertian yang akan sulit atau tidak mungkin diukur secara memadai. Pengertian-pengertian seperti kreativitas, otoriterisme, demokrasi, dan sebagainya telah mempunyai arti yang macam-macam, sehingga kesepakatan mengnai batasan-batasanoperasioanl konsep semacam itu akan sulit dicapai, atau bahkan tidak mungkin salma sekali. Ingatlah bahwa variabel harus dirumuskan berdasarkan tingkah laku yang dapat diidentifikasi dan diamati.

Perlu dihindari adanya pernyataan nilaidalam hipotesis. Pernyataan seperti suatu program penyuluhan di sekolah dasar sangat diperlukan tidak dapat diselidiki dalam studi penelitian. Akan tetapi hipotesis murid-murid SD yang telah menerima penyuluhan akan mengungkapkan secara lisan rasa puas yang lebih besar terhadap sekolah mereka dari pada mereka yang tidak menerima penyuluhan, ini merupakan hipotesis yang dapat diuji. Kita dapat mengukur kepuasan secara lisan, tetapi apakah hal tersebut diperlukan atau tidak, hal tersebut merupakan pertimbangan nilai.

Baca Juga :