12 Pahlawan Wanita Indonesia Lengkap
Posted on: March 22, 2019, by : g3wgj
12 Pahlawan Wanita Indonesia Lengkap

12 Pahlawan Wanita Indonesia Lengkap

12 Pahlawan Wanita Indonesia Lengkap
12 Pahlawan Wanita Indonesia Lengkap

Pahlawan berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “phala-wan” yang memiliki arti “orang yang dari dalam dirinya telah menghasilkan sesuatu (phala) yang berkualitas untuk bangsa, negara dan agama” atau bisa juga diartikan sebagai orang yang terkenal akan keberanian dan pengorbanannya dalam usaha untuk membela kebenaran, atau yang disebut juga dengan pejuang yang gagah berani.

Berkat semangat juang para pahlawan yang sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan, membuat negara ini menjadi negara yang berdaulat dan bebas dari penjajahan. Dari sekian banyak pahlawan negeri ini (159 Pahlawan Nasional), diantaranya merupakan para wanita tangguh yang selalu siap mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk negara Indonesia tercinta.

Sesuai dengan ketetapan yang telah diterbitkan oleh pemerintah hingga saat ini ada sekitar 12 pahlawan wanita yang telah diakui sebagai pahlawan nasional yang semasa hidup mereka selalu berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya. Diantaranya adalah: Tjoet Nja’ Dhien, Tjoet Nja’ Meutia, Raden Adjeng Kartini, Raden Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, Maria Walanda Maramis, Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan, Nyi Ageng Serang, Hj. Rangkayo Rasuna Said, Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto, Hj. Fatmawati Soekarno, dan Opu Daeng Risadju.

Dengan tidak mengesampingkan peranan para pahlawan yang mungkin belum pernah disebut namanya melalui ketetapan pemerintah atau apapun itu, marilah kita do’a kan semoga para pahlawan yang berjuang untuk negeri ini senantiasa mendapat rahmat di sisi Allah SWT. Semoga jiwa semangat juang mereka bisa merasuk membasahi jiwa para pemimpin kita sekarang. Berikut nama-nama pahlawan nasional wanita sesuai dengan ketetapan pemerintah Republik Indonesia.

1. Nyi Ageng Serang (penetapan 13 Desember 1974)

Nyi Ageng Serang lahir di Purwodadi, Jawa Tengah, 1752 dan wafat di Yogyakarta, 1828. Beliau ini merupakan pemimpin daerah Serang, yang memimpin pasukan dari tandu untuk membantu Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajahan Belanda selama kurang lebih 3 tahun.

2. Raden Dewi Sartika (penetapan 1 Desember 1966)

Raden Dewi Sartika lahir di Bandung, Jawa Barat, 4 Desember 1884 dan wafat di Tasikmalaya, 11 September 1947. Beliau ini merupakan tokoh perintis pendidikan kaum wanita lewat sebuah yayasan yang bernama Saloka Istri pada tahun 1904. Semangat Dewi Sartika dalam memberi pelajaran kepada masyarakat khususnya untuk kaum perempuan di sekitar tempat tinggalnya, membuat semangat dan cita-cita tersebut terus bergelora hingga saat ini.

3. Raden Ajeng Kartini (penetapan 2 Mei 1964)

Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dan wafat di Rembang, 17 September 1904. Beliau ini merupakan pelopor kebangkitan perempuan dengan beberapa pemikiran dan pandangannya yang sangat kritis tentang emansipasi wanita. Terbitnya beberapa surat R.A. Kartini, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda yang menetap di Indonesia. Pemikiran-pemikiran tersebut secara perlahan mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi dan khususnya di daerah Jawa. Pemikiran Kartini yang tertuang dalam beberapa suratnya tersebut telah menjadi inspirasi para tokoh kebangkitan nasional, diantaranya adalah W.R. Soepratman yang kemudian menciptakan sebuah lagu yang berjudul “Ibu Kita Kartini”.

4. Opu Daeng Risadju (penetapan 3 Nopember 2006)

Opu Daeng Risadju lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, 1880 dan wafat di Palopo, Sulawesi Selatan, 10 Februari 1964. Beliau ini melakukan pemberontakan kepada tentara NICA pada tahun 1946. Tetapi, beliau berhasil ditangkap oleh para penjajah beberapa bulan kemudian. Saat menjalani hukuman karena pemberontakan yang beliau lakukan, beliau disiksa dengan sangat keji hingga menyebabkan beliau menjadi tuli sampai akhir hayatnya.

5. Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan (penetapan 22 September 1971)

Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Jogjakarta, 1872 dan wafat di Kauman, Jogjakarta, 31 Mei 1946. Beliau ini lebih dikenal dengan panggilan Nyai Ahmad Dahlan. Beliau ini juga merupakan pahlawan yang berjuang dalam pendidikan untuk kaum wanita di bidang pengetahuan agama. Beliau sering mengadakan pengajian untuk para kaum wanita, pengajian tersebut akhirnya berkembang dan kini menjadi wadah organisasi ibu-ibu yang bernama “Lembaga ‘Aisyiyah” dalam organisasi Muhammadiyah. (http://www.tribunnews.com/member/ojelhtcmandiri/)

6. Martha Christina Tiahahu (penetapan 20 Mei 1969)

Martha Christina Tiahahu lahir di Nusa Laut, Maluku, 4 Januari 1800 dan wafat di Laut Banda, Maluku, 2 Januari 1801. Beliau ini ikut serta mengangkat senjata dan terjun langsung ke medan perang melawan para penjajah Belanda dalam upayanya membantu sang ayah yang juga merupakan pembantu dari Kapitan Pattimura.

7. Maria Walanda Maramis (penetapan 20 Mei 1969)

Maria Walanda Maramis lahir di Kema, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872 dan wafat di Maumbi, Sulawesi Utara, 22 April 1924. Beliau ini bercita-cita memberdayakan kaum ibu dan mendirikan sebuah organisasi yang bernama Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya (PIKAT) pada tahun 1917, dengan tujuan untuk memperjuangkan pendidikan kaum wanita, khususnya para kaum ibu agar mereka dapat meningkatkan kesehatan anak dan kesejahteraan keluarganya. Pada tahun 1919, beliau juga aktif memperjuangkan agar kaum wanita juga memiliki hak suara di lembaga perwakilan Minahasa Raad.

8. Hj. Rangkayo Rasuna Said (penetapan 13 Desember 1974)

Hj. Rangkayo Rasuna Said lahir di Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910 dan wafat di Jakarta, 2 November 1965. Beliau pernah dipenjara oleh penjajah Belanda pada tahun 1932 karena memprotes ketidakadilan yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia-Belanda. beliau juga pernah menjabat sebagai anggota DPR-RIS dan Dewan Pertimbangan Agung.

9. Hj. Fatmawati Soekarno (penetapan 4 Nopember 2000)

Hj. Fatmawati Soekarno lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923 wafat di Kuala Lumpur, Malaysia, 14 Mei 1980. Beliau ini adalah orang yang menjahit bendera pusaka “Sang Saka Merah Putih” yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Beliau juga merupakan salah satu istri dari Ir. Soekarno dan merupakan Ibu Negara RI yang pertama. Beliau juga aktif menggalang dana untuk membangun sebuah rumah sakit yang kini bernama RSUP Fatmawati.

10. Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto (penetapan 30 Juli 1996)

Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 23 Agustus 1923 dan wafat di Jakarta, 28 April 1996. Beliau ini adalah salah satu Laskar Putri Indonesia pada masa perang revolusi kemerdekaan RI, menyediakan dapur umum dan P3K untuk para pejuang. Beliau juga merupakan Ibu Negara pada masa pemerintahan Presiden Suharto. Beliau ini juga seorang pengusaha yang mendirikan beberapa usaha, diantaranya Taman Mini Indonesia Indah, Taman Buah Mekarsari, Perpustakaan Nasional, Rumah Sakit Kanker Dharmais dan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.

11. Tjoet Nja’ Meutia “Cut Nyak Meutia” (penetapan 2 Mei 1964)

Tjoet Nja’ Meutia (Cut Nyak Meutia) lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, 1870 dan wafat di Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910. Pada awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan kepada para penjajah Belanda bersama dengan suaminya Teuku Muhammad (Teuku Tjik Tunong). Namun, pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong ditangkap oleh penjajah Belanda dan kemudian dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sepeninggal suaminya Tjoet Meutia tetap gigih melakukan perlawanan kepada para penjajah Belanda bersama dengan Pang Nagroe, hingga akhirnya beliau tewas ditangan penjajah pada tanggal 26 September 1910.

12. Tjoet Nja’ Dhien “Cut Nyak Dien” (penetapan 2 Mei 1964)

Tjoet Nja’ Dhien (Cut Nyak Dien) lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848 dan wafat di Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908. Cut Nyak Dien bersama dengan Teuku Umar (suaminya), memimpin berbagai peperangan di tanah rencong (Aceh) melawan pasukan penjajah Belanda sejak tahun 1880. Penjajah Belanda mengaku sangat kewalahan menghadapi perlawanan duet pemimpin ini. Perjuangan Cut Nyak Dien juga pernah di film-kan dalam sebuah drama epos yang berjudul “Tjoet Nja’ Dhien” pada tahun 1988 yang disutradarai oleh Eros Djarot dan dibintangi oleh Christine Hakim sebagai Tjoet Nja’ Dhien, Piet Burnama sebagai Pang Laot, Slamet Rahardjo sebagai Teuku Umar dan didukung juga oleh Rudy Wowor. Film tersebut berhasil memenangkan Piala Citra sebagai film terbaik. Film tersebut juga merupakan film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes (tahun 1989).