Menjelang Datangnya Islam Di Nusantara
Posted on: February 27, 2019, by : g3wgj
Menjelang Datangnya Islam Di Nusantara

Menjelang Datangnya Islam Di Nusantara

Menjelang Datangnya Islam Di Nusantara
Menjelang Datangnya Islam Di Nusantara

A.Disintergrasi Politik

Islam datang ke Indonesia pada saat ketika pusat-pusat kekuasaan Hindu mulai mengalami kemunduran. Awal kedatangan islam sekitar abad ke-12 dan ke-13 Sriwijaya  sebagai pusat kekuasaan Hindu di Indonesia bagian barat mulai menunjukan tanda- tanda kemerosotan. Demikian pula islam mengalami mulai berkembang secara luas sekitar abad ke-15 kerajaan Majapahit sebagai pusat kerajaan hindu di indonesia bagian timur sudah menghadapi saat-saat keruntuhan.

1.Di Masa Kerajaan Sriwijaya

kemunduran kerajaaan Sriwijaya dimulai sejak dari serangan Colamandala pada abad ke-11. Colamandala melakukan serangan 3 kali terhadap Sriwijaya; serangan pertama tahun 1023 Rajendra Coladewa menyerbu Kadaram (Kataha), serangan kedua pada tahun 1030 dan ketiga pada tahun 1068.
Politik Nusantara dari Raja-Raja Jawa juga ikut mempercepat runtuhnya kerajaan Sriwijaya. Hal tersebut berdampak; Sriwijaya mulai melemah kekuasaan politik dan ekonominya serta banyak daerah-daerah yang menyatakan diri untuk lepas dari kerajaan tersebut. Kelemahan tersebut memberikan kesempatan Islam untuk berkembang dan selanjutnya tumbuh menjadi kekuasaan politik.

2.Di Masa Kerajaan Majapahit

Agama islam datang dan memasuki pulau Jawa pada saat Majapahit berkembang menuju puncak kekuasaannya. Pertumbuhan dan berkembanganya agama Islam di Majapahit terutama di daerah pesisir diperkirakan erat dengan hubungannya dengan kerajaan-kerajaan Islam. Majapahit memandang perkembangan Islam tersebut bukan sebagai ancaman politik yang membahayakan, malahan Majapahit bersikap toleran terhadap Islam. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya makam-makam Islam di dekat Ibu Kota Majapahit sendiri. Proses islamisasi hingga terbentuk politik baru setelah pusat Majapahit menunjukan kelemahan-kelemahan. Meninggalnya Gadjah Mada pada 1364 dan tidak lama kemudian disusul dengan meninggalnya Raja Hayam Wuruk pada 1389 mulai menggoncang kekuasaan pusat Majapahit. Terjadi pemberontakan dan perebutan kekuasaan di kalangan keluarga itu sendiri membuat Majapahit semakin rapuh. Akhirnya kekacauan akibat perang Paregreg (1401-1406) mengantarkan Majapahit kepada keruntuhannya.
Disintergrasi kekuasaan pusat dari struktur memiliki hierarki piramida seperti halnya kerajaan Majapahit dapat mengalikan supremasi kepada kekuasaan lain sehingga timbul kekuasaan-kekuasaan baru.

B.Degenerasi Sosial-Budaya

Merosotnya kekuasaan pusat-pusat kerajaan Indonesia Hindu seperti Sriwijaya dan Majapahit berpengaruh besar kepada kehidupan ekonomi dan sosial-budaya. Perang berkepanjangan dan pemberontakan serta perebutan kekuasaan berdampak pada kemunduran perekonomian negara dan rakyat.  Rakyat tidak bisa mengarap sawahnya karena harus pergi berperang. Perahu yang seharusnya untuk berdagang justru digunakan untuk mengangkut tentara. Perekonomian golongan bangsawan juga menjadi sangat merosot, karena perang jelas hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan bahan-bahan keperluan hidup. Kemunduran dibidang ekonomi juga berdampak pada kemunduran di bidang budaya. Karena tidak ada biaya lagi untuk merawat bangunan-bangunan suci, wihara-wihara. Dalam masa krisis kepercayaan dalam situasi yang kacau datanglah Islam menjadi harapan baru bagi kedudukannya sebagai pribadi manusia dan karena islam mememiliki daya tarik tersendiri.
Agama islam tidak mengajarkan bahwa raja adalah titisan dewa. Maka dengan sendirinya tidak di bangun candi sebagai makam raja. Yang mematikan seni pahat dan seni bangunan ialah larangan dalam agama islam untuk membuat gambar (arca) orang hidup. Seni pahat hanya terbatas pada seni hias ( ornamentik) saja. Dalam pengertianya itulah maka datangnya Islam pada hakikatnya berarti mengakhiri kerajaan Indonesia Hindu.
Baca Artikel Lainnya: