Month: December 2018

Cara Menentukan Jumlah Sampel Penelitian Menggunakan Tabel

Cara Menentukan Jumlah Sampel Penelitian Menggunakan Tabel

 

Menentukan jumlah sampel penelitian

Cara Menentukan Jumlah Sampel Penelitian Menggunakan Tabel – Cara menentukan jumlah sampel penelitian menggunakan tabel ataupun rumus cukup bervariasi. Misalnya ada yang menggunakan rumus seperti rumus Slovin maupun tabel pengambilan sampel yang cukup populer yaitu Tabel Krejcie dan Morgan. Tulisan ini mengetengahkan pula cara menentukan sampel penelitian menggunakan tabel. Namun, tabel yang akan digunakan adalah tabel Cohen Manion dan Morrison.

 

Cara Menentukan Jumlah Sampel Penelitian Menggunakan Tabel

 

Tabel Cohen Manion dan Morrison

(satu tabel dengan tiga penulis) ini cukup menarik. Pertama, penentuan populasi yang diprediksi dalam pengambilan sampelnya hingga 1 juta anggota populasi. Kedua, tabel ini merinci Taraf Keyakinan penelitian dari 90%, 95% dan 99% yang masing-masing taraf memiliki jumlah sampel berbeda. Ketiga, tabel ini pun merinci Interval Keyakinan penelitian (alpha) yaitu dari 0,1, 0,05, hingga 0,01. Baiklah, tabel tersebut adalah sebagai berikut:

 

Perhatikan tabel di atas

Paling kiri terdapat kolom populasi. Kolom kedua berisikan Taraf Keyakinan penelitian 90% yang berisi subkolom (dari kiri ke kanan) alpha 0,1, 0,05, dan 0,01. Kolom ketiga berisikan Taraf Keyakinan penelitian 95% yang terdiri atas subkolom (dari kiri ke kanan) alpha 0,1, 0,05, dan 0,01. Kolom keempat berisikan Taraf Keyakinan penelitian 99% yang terdiri atas subkolom (dari kiri ke kanan) alpha 0,1, 0,05, dan 0,01.

Bagaimana cara menggunakannya? Caranya cukup mudah. Misalnya seorang peneliti bernama Sutarno menemukan bahwa populasi target penelitiannya berjumlah 7.500 orang. Taraf Keyakinan penelitian yang diterapkan Sutarno pada penelitiannya adalah 95% dengan alpha 0,01. Dengan demikian sampel penelitian yang harus diambil Sutarno adalah 934. Semakin tinggi taraf keyakinan maka semakin tinggi pula sampel yang harus diambil.

 

Artikel Terkait:

Proses Pembentukan Masyarakat dan Perubahan Masyarakat menurut Lenski Marx Weber dan Durkheim

Proses Pembentukan Masyarakat dan Perubahan Masyarakat menurut Lenski Marx Weber dan Durkheim

 

Proses Pembentukan Masyarakat

 

Proses pembentukan masyarakat dan perubahan masyarakat menurut Gerhard Lenski, Karl Marx, Max Weber dan Emile Durkheim mewakili empat sudut pandang. Gerhard Lenski menjelaskan bagaimana teknologi mengubah masyarakat sejak 10 ribu tahun yang lalu dan terus berlangsung hingga kini. Karl Marx menjelaskan bagaimana masyarakat mengalami perubahan akibat konflik cara produksi ekonomi. Max Weber menjelaskan bagaimana masyarakat terbentuk dan berubah akibat munculnya gagasan antara masyarakat tradisional (yang dicirikan kuatnya unsur kekeluargaan) dikontraskan dengan gagasan masyarakat kompleks (yang dicirikan unsur pemikiran rasional). Emile Durkheim menjelaskan bagaimana solidaritas sosial yang terbangun baik dalam masyarakat tradisional maupun modern agar mampu menciptakan hubungan antarstruktur yang harmonis.

 

Proses Pembentukan Masyarakat dan Perubahan Masyarakat menurut Lenski Marx Weber dan Durkheim

 

Gerhard Lenski dan Peran Teknologi dalam Perubahan Masyarakat

Gerhard Lenski menggunakan terawangan evolusi sosial budaya guna melihat perkembangan masyarakat. Lenski menjelaskan bagaimana perubahan dalam masyarakat terjadi segere setelah mereka memproduksi (atau mengadaptasi) teknologi baru. Bagi Lenski, masyarakat wilayah pedalaman tidak selalu berarti lebih terbelakang ketimbang urban. Masyarakat pedalaman menggunakan teknologi yang sekadar menjangkau jumlah anggota mereka yang memang kecil, sementara teknologi masyarakat urban (misalnya alat transportasi) mampu menjangkau jumlah yang lebih besar. Jangkauan ini berpengaruh terhadap pola perubahan masyarakat sehubungan intensitas interaksi sosial yang dihasilkannya.

Lewat teknologi, interaksi sosial meningkat kepadatan moralnya (moral density) dan membuka peluang masyarakat untuk saling bertukar gagasan. Pertukaran lalu mendorong perubahan sosial (social change). Teknologi pesawat terbang misalnya, memungkinkan manusia mengatasi sulitnya medan darat, sehingga mereka dapat melakukan penerbangan perintis untuk membuka wilayah yang sebelumnya terisolasi, baik oleh pegunungan maupun lautan. Datangnya manusia baru dari luar – baik untuk menetap atau sekadar singgah –menciptakan interaksi sosial jenis baru. Interaksi tersebut mendorong masyarakat yang awalnya terisolasi tadi menemukan sejumlah gagasan baru untuk mereka terapkan dalam hubungan sosial. Bagi Lenski, faktor material yaitu teknologi (pesawat terbang) meningkatkan interaksi, interaksi memunculkan gagasan, gagasan mendorong perubahan sosial.

Lewat kajiannya atas pengaruh teknologi atas evolusi sosial budaya, Lenski membagi masyarakat ke dalam lima kategori, yang terdiri atas: masyarakat pemburu dan peramu, masyarakat hortikultural dan pastoral, masyarakat agraris, masyarakat industri, dan masyarakat pos-industri. Klasifikasi kelima jenis masyarakat tersebut tampak pada tabel.

Pemburu dan Peramu. Masyarakat pemburu dan peramu adalah bentuk masyarakat paling sederhana. Kegiatan mereka umumnya sekadar berburu hewan (memburu) serta mengumpulkan hasil tanaman nonbudidaya dengan teknologi berupa peralatan sederhana (meramu). Kendati kini perkembangan teknologi sudah menciptakan masyarakat posindustri, masyarakat pemburu dan peramu masih ada di sejumlah wilayah Indonesia. Akibat teknologi diterapkan hanya mampu mengelola alam secara pasif, sebagian besar kegiatan sosial mereka habiskan untuk mencari makanan berupa hewan buruan ataupun tanam-tanaman demi pemenuhan kebutuhan subsisten.

Dalam aktivitasnya, masyarakat pemburu dan peramu bergantung pada keluarga. Ketergantungan berkisar pada distribusi makanan, perlindungan anggota, dan sosialisasi budaya. Perempuan biasanya berkegiatan meramu, sementara laki-laki memburu hewan. Umumnya, di masyarakat pemburu dan peramu terdapat seorang shaman (pemimpin spiritual, dukun) yang istimewa posisinya. Namun, bahkan shaman pun tetap harus mencari makan untuk keluarganya, sama seperti anggota masyarakat lain.

Sercombe and Sellato menyebut masih terdapat suku yang masuk kategori masyarakat pemburu-peramu di Kalimantan, yaitu: Punan Tubu dan Punan Malinau (sebelah utara Kalimantan Timur); Kayan-Tabang-Segah-Kelai (sebelah tengah-selatan Kalimantan Timur); Hovongan dan Kereho (perbatasan Kalimantan Barat, Tengah, dan Timur); Buket (ujung barat Kalimantan Timur dekat perbatasan dengan Kalimantan Barat); Buket (ujung timur Kalimantan Barat, dekat perbatasan Kalimantan Timur dan Serawak). Masyarakat pemburu dan peramu lainnya adalah Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi.

Hortikultural dan Pastoral. Masyarakat hortikultural menerapkan teknologi peralatan tangan untuk mengkoleksi hasil pertanian. Masyarakat pastoral menerapkan teknologi domestikasi hewan. Masyarakat hortikultural dan pastoral masih dapat ditemukan di wilayah Asia, Amerika Selatan, dan Afrika. Material surplus – jumlah kebutuhan subsisten lebih besar dari persyaratan hidup – masyarakat hortikultural dan pastoral berbeda dengan masyarakat sebelumnya. Tingkat produksi makanan mereka lebih besar karena teknologi yang mereka terapkan memungkinkan campur tangan manusia atas produksi tanaman dan hewan. Akibatnya, populasi masyarakat hortikultural dan pastoral mengalami peningkatan. Masyarakat pastoral hidup nomadik dengan menggembala ternak, sementara masyarakat hortikultural mulai mendirikan pemukiman permanen. Mereka baru pindah tatkala tanah tempat tumbuhnya tanaman tidak lagi subur atau ditemukan tanah garapan baru yang lebih subur dan mampu menampung jumlah populasi mereka.

Saat masyarakat mengalami material surplus memungkinkan adanya waktu luang (leissure time) bagi sebagian anggotanya. Waktu luang mendorong munculnya kreativitas teknologi dan mewujud dalam spesialisasi pekerjaan baru seperti membuat peralatan rumah tangga, berdagang hewan dan tanaman, membuat rumah, membuat jalan, dan sebagainya. Teknologi baru bisa ditemukan karena banyak individu yang tidak perlu lagi terlibat langsung dalam kegiatan ekonomi subsisten (menyediakan pangan) karena teknologi sudah dapat membantu penyelesaian pekerjaan. Secara akumulatif, kemunculan sebuah teknologi baru disusul teknologi lain yang sifatnya lebih rumit karena sumber daya yang memungkinkan untuk itu tersedia lebih banyak.

Akibat pokok perkembangan teknologi di dalam masyarakat hortikultural dan pastoral adalah munculnya kelompok yang lebih kaya dan lebih berkuasa. Ketimpangan sosial mulai muncul. Satu keluarga lebih berpengaruh ketimbang keluarga lainnya. Satu kelompok lebih mendominasi kelompok lain. Keluarga atau kelompok tersebut memanfaatkan sumber daya politik dan keamanan untuk menjamin posisinya. Perbedaannya dengan masyarakat yang lebih kemudian (masyarakat agraris, nanti dibahas) adalah jangkauan wilayah kekuasaannya yang relatif kecil karena pertumbuhan populasi masyarakat fase ini yang belum terlalu signifikan. Pertumbuhan agama juga berbeda di masyarakat hortikultural dan pastoral. Di masyarakat hortikultural, muncul gagasan satu tuhan tetapi intervensinya terhadap kehidupan tidak sebesar dalam masyarakat pastoral.

Agraris. Masyarakat agraris dicirikan kegiatan cocok tanam berskala besar. Cocok tanam skala besar dimungkinkan akibat ditemukannya teknologi pembantu produksi manusia, semisal tenaga hewan (sapi untuk menarik bajak, kuda untuk menarik pedati). Masyarakat ini juga ditengarai telah menemukan teknologi irigasi, teknik baca tulis, dan penggunaan peralatan yang terbuat dari logam. Lewat bantuan bajak, teknik irigasi, dan peralatan logam, masyarakat agraris dapat menetap di suatu wilayah, tidak perlu lagi berpindah layaknya masyarakat hortikultural. Mereka mampu melakukan refertilization tanah garapan. Populasi masyarakat agraris semakin menumpuk di suatu wilayah karena lahan tanaman dapat digunakan oleh beberapa generasi dengan tingkat kesuburan yang berkurang lambat. Produksi cocok-tanam masyarakat agraris berlipat ganda dibandingkan hortikultural. Peningkatan material-surplus membuat peningkatan serupa pada jumlah manusia yang tidak perlu terlibat langsung dalam kegiatan produksi subsisten. Waktu luang mereka manfaatkan untuk menemukan teknologi baru. Diferensiasi dan spesialisasi kerja yang lebih rumit ketimbang masyarakat sebelumnya (hortikultural dan pastoral) jadi tidak terelakkan. Diferensiasi dan spesialisasi kerja muncul akibat semakin banyak waktu luang yang dimanfaatkan dalam dalam masyarakat ini. Di dalam masyarakat agraris, jaringan perdagangan tumbuh lebih pesat, dan uang mulai digunakan sebagai alat tukar.

Penemuan uang mendorong pada meningkatnya ketimpangan sosial. Kelompok kategori ekonomi mampu memanfaatkan sumber daya ekonomi secara lebih efektif. Mereka muncul sebagai kelas ekonomi mapan lalu mendominasi kelas lain. Mereka juga punya waktu luang lebih banyak karena pekerjaan subsisten sudah dilakukan para subordinatnya: Petani penggarap dan budak. Mereka memperalat uang dan pranata hukum demi mengamankan keuntungan ekonomi komparatifnya. Ketimpangan sosial berangsur permanen. Dalam masyarakat agraris, segregasi peran perempuan dan laki-laki mulai terjadi. Laki-laki menjalankan peran-peran publik pengaturan masyarakat, sementara perempuan didorong lebih berkonsentrasi pada masalah domestik (rumah tangga).

Indonesia merupakan masyarakat agraris. Luas wilayah masyarakat ini – daratan dan lautan – mencapai 1.904.569 km2. Dari luas total tersebut, 24% merupakan daratan. Dari total daratan ini, 67 juta hektar (35%) digunakan sebagai kawasan lindung dan sisanya seluas 123 juta hektar (65%) digunakan untuk areal budidaya, baik untuk pertanian maupun non pertanian. Sebanyak 53,71 juta hektar lahan dari 123 juta hektar area budidaya digunakan sebagai lahan pertanian. Dalam konteks ini, Indonesia merupakan sebuah masyarakat agraris ketika 43,33% (hampir setengah) luas lahan daratan yang dapat dibudidaya digunakan untuk pertanian. Namun, masyarakat agraris ini lambat laun mulai tergusur oleh terbentuknya jenis masyarakat baru yang sudah mulai menggejala: Masyarakat industrial.

Industrial. Masyarakat industrial adalah masyarakat dengan ciri utama produksi barang – makanan, pakaian, bahan bangunan – dengan bantuan teknologi mesin yang digerakkan sumberdaya energi non hewani (sumber daya baru). Penggunaan energi hewan yang marak di tahap masyarakat agraris berkurang penggunaannya. Teknologi mesin yang operasinya didukung sumber daya energi baru (bahan bakar fosil), membuat proses produksi jauh lebih cepat dengan hasil jauh lebih banyak ketimbang yang bisa dilakukan masyarakat sebelumnya. Material-surplus dalam masyarakat ini terjadi berkali-kali lipat. Apalagi dengan turut ditemukannya teknologi kereta uap, kapal uap, listrik, rel-rel besi, juga komunikasi kawat, yang kesemuanya memungkinkan proses distribusi hasil produksi semakin cepat dan ekstensif. Perluasan pasar dan pencarian sumber daya mendorong munculnya imperialisme. Imperialisme memungkinkan pemilik alat produksi dari bangsa imperial mencapai keuntungan yang semakin besar. Akibatnya, ketimpangan sosial di dalam masyarakat industri jauh lebih besar dan rumit lagi.

Teknologi mobil ditemukan tahun 1900. Mobil adalah teknologi transportasi dan diproduksi secara massa. Kemampuan jelajah mobil jauh lebih tinggi ketimbang hewan (unta, kuda, keledai, sapi). Daya jelajah manusia meningkat dan mendorong banyak daerah baru dibuka, sumberdaya alam baru dieksploitasi, dan manusia baru ditemukan. Secara global, kolonialisme dan imperialisme membiak, proses produksi semakin murah dan kompleksitas sosial dari sentra-sentra produksi merambat ke wilayah non perkotaan. Percepatan produksi dan interaksi sosial baru, membuat hubungan antar manusia mulai anonim. Anonimitas kerap membuat orang yang tinggal bersebelahan tidak mengenal satu sama lain. Kepadatan primordial meningkat dalam tingkat yang tidak pernah ditemukan dalam masyarakat agraris sebelumnya. Kepadatan primordial membuat ketegangan antar kelompok – menurut garis budaya, agama, sosial, kelas – meningkat. Subkultur dan counterculture bermunculan menantang budaya mainstream. Lembaga-lembaga sosial nonkeluarga mulai mengambil peran lebih besar dalam sosialisasi budaya, pendidikan, dan pekerjaan individu. Struktur keluarga berubah, dengan indikasi maraknya perceraian, single-parents, atau keluarga-keluarga adopsi.

Untuk sebagian masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota besar, masyarakat industrial sudah atau paling tidak mulai terbentuk. Kendati masih terlokalisir di wilayah sentra pabrik dan kegiatan perdagangan, masyarakat industrial Indonesia nyata menampakkan wujudnya. Hingga kini pun telah dilihat, bahwa dalam alur pikir Lenski ternyata masyarakat Indonesia ditengarai beragam jenis masyarakat, tidak mono jenis.

Posindustrial. Masyarakat posindustrial dicirikan kegiatan produksi untuk menghasilkan informasi yang dimungkinkan oleh adanya teknologi komputer.[12] Jika masyarakat industri kegiatannya terpusat pada pabrik dan mesin penghasil barang material, maka masyarakat posindustri fokus pada pengelolaan dan manipulasi informasi, yang produksinya bergantung pada komputer dan peralatan elektronik lain. Teknologi utamanya digunakan untuk memproduksi, memproses, menyimpan, dan menerapkan informasi. Jika individu masyarakat industri belajar keahlian teknis, maka individu masyarakat posindustri mengembangkan kemampuan teknologi informasi menggunakan komputer dan perangkat teknologi informasi lain sebagai alat bantu kerja. Masyarakat posindustri cenderung mengembangkan softskill ketimbang hardskill. Percepatan pekerjaan masyarakat posindustri berkali-kali lipat masyarakat industri.

Produksi barang lewat tenaga manusia dalam masyarakat posindustri lebih sedikit. Akibatnya, terjadi peralihan besar-besaran tenaga kerja untuk menjalani profesi guru, penulis, sales, penjual pulsa, operator telepon, operator foreign-exchange, pialang saham, termasuk bisnis on-line (e-business dan e-commerce). Industri yang berkembang mengarah pada produksi soft-skill ketimbang hard-skill. Masyarakat posindustri dihadang oleh kian merenggangnya kohesi sosial, rumitnya varian kriminalitas, serta rusaknya lingkungan akibat aktivitas masyarakat sebelumnya (industrial).

Kelima masyarakat evolutif Lenski ada di Indonesia, berkelindan satu sama lain, kendati kuantitas penganutnya berbeda satu sama lain. Masyarakat pemburu dan peramu hingga kini masih dapat ditemui di pedalaman Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Kendati jumlahnya kian sedikit, terhimpit proses pembukaan wilayah oleh masyarakat pendatang, mereka tetap masyarakat Indonesia yang punya hak hidup, bermata pencaharian, serta mengembangkan kebudayaannya. Masyarakat hortikultural Indonesia ditandai konsep umum perladangan berpindah. Masyarakat seperti ini terutama masih terdapat di wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Masyarakat pastoral terdapat di kepulauan Nusa Tenggara, wilayah Indonesia yang punya padang rumput yang luas guna mempraktekkan kehidupan menggembala. Masyarakat agraris (termasuk nelayan) masih merupakan elemen terbesar masyarakat Indonesia dan ini ditandai masih adanya Kementerian Pertanian serta Kementerian Kelautan dan Perikanan, kendati ditandai perhatian mereka yang setengah hati. Masyarakat industrial menempati ruang hidup di kota-kota besar. Masyarakat Posindustrial menggejala di kota-kota industri Indonesia, yang kendati kuantitas definitifnya sulit diprediksi, tetapi dipastikan meningkat seiring mewabahnya penggunaan teknologi virtual communication, data digital, telepon seluler, dan didukung pengembangan backbone-backbone kabel internet yang massif.

Dalam konteks Indonesia aneka masyarakat ala Lenski, tidak jelas garis yuridiksinya. Masyarakat tersebut saling berkelindan, jenis yang satu ada bercampur di sisi jenis lainnya. Namun, karakteristik mereka yang cukup berlainan menghendaki penyikapan yang berbeda. Dalam konteks perbedaan ini negara hadir sebagai regulator dan antisipator masalah.

 

Karl Marx dan Peran Konflik dalam Perubahan Masyarakat

Menurut perspektif ini, sejarah masyarakat ditandai pertentangan kelas. Klasifikasi Lenski atas keenam jenis masyarakat yang didasarkan pengaruh teknologi (material) atas cara produksi, membuat analisis masyarakat lewat perspektif konflik lebih mudah dipahami. Marx adalah teoretisi konflik paling terkemuka, dan bahkan sejak awal telah meringkas perubahan masyarakat versi Lenski ke dalam konsepnya: Materialisme historis. Konsep ini menjelaskan bahwa sejarah masyarakat tidak lain tersusun berdasarkan cara-cara produksi material. Materialisme historis beroperasi dalam kaidah materialisme dialektis. Materialisme dialektis menyatakan bahwa setiap cara produksi di setiap tahapan perkembangan masyarakat menghasilkan struktur-struktur sosial khas yang saling bertentangan. Masyarakat baru kemudian muncul sebagai buah pertentangan antar struktur masyarakat lama.

Cara produksi memburu hewan dan mengumpulkan tanaman menciptakan masyarakat pemburu dan peramu, yang menciptakan kelas tetua suku dan anggota suku. Cara produksi cocok tanam dan domestikasi hewan menciptakan masyarakat hortikultural dan pastoral, yang menciptakan kelas tuan dan budak. Cara produksi pertanian menetap memunculkan masyarakat agraris, yang menciptakan kelas tuan feodal dan penggarap. Cara produksi menggunakan mesin dan buruh yang mengoperasikannya memunculkan masyarakat industrial, yang menciptakan kelas borjuis (juga kapitalis) dan proletar. Cara produksi menggunakan komputer dalam mengolah informasi menciptakan masyarakat posindustrial, yang menciptakan kelas produsen dan konsumen informasi. Menurut Marx, periode masyarakat yang berbeda tersebut ditandai satu kesamaan: Struktur kelas yang terbentuk adalah cermin cara produksi yang berlaku, dalam mana masing-masingnya bertentangan satu sama lain secara diametral dalam konflik abadi. Bagi Marx, kelestarian konflik hanya akan ada selama masyarakat komunis yang egaliter belum tercipta.

Akibat perbedaan penikmatan keuntungan hasil produksi dan waktu luang yang dimiliki, satu kelas selalu lebih beruntung ketimbang kelas lain. Hal ini membuat struktur sosial senantiasa timpang. Ketimpangan sosial ini bersifat permanen di setiap masyarakat sekaligus merupakan inti pendekatan konflik yang digagas oleh Marx. Ketimpangan sosial senantiasa membuat hubungan antar kelas ekonomi berada dalam ketegangan. Dua kelas selalu berhadapan secara diametral.

Bagi Marx, bukan gagasan yang menciptakan masyarakat melainkan cara-cara produksi material-lah yang menciptakan gagasan. Justru cara-cara produksi-lah yang menciptakan aneka gagasan manusia seputar masyarakat. Inilah penjelasan singkat mengenai materialisme historis. Karena Marx menggunakan cara produksi ekonomi sebagai monofaktor kekuatan penggerak perubahan masyarakat maka ia dikenal menganut determinisme ekonomi.

Marx lalu membelah struktur masyarakat menjadi dua: Infrastruktur dan suprastruktur. Infrastruktur merupakan basis (dasar) suatu masyarakat yaitu cara produksi di bidang ekonomi. Suprastruktur terdiri atas: (1) Lembaga sosial dan (2) Gagasan dan nilai. Infrastruktur adalah fundamen yang membentuk suprastruktur.

Cara produksi ekonomi memunculkan aneka institusi sosial seperti politik, agama, pendidikan, atau keluarga. Institusi-institusi tersebut lalu mengembangkan gagasan dan nilai-nilai aktual yang berlaku di tengah masyarakat. Menurut Marx, gagasan dan nilai-nilai dalam suatu masyarakat hanya dibuat oleh kelas dominan dalam cara produksi. Hanya mereka yang sempat merancang hukum dan aneka peraturan karena waktu luang yang mereka miliki lebih banyak. Akibatnya, gagasan serta nilai apapun yang muncul melulu merupakan instrumen guna memelihara status quo. Di dalam masyarakat industrial, kelas tersebut adalah kapitalis. Kelas ini sengaja menciptakan aneka institusi sosial, gagasan, agama, dan nilai-nilai masyarakat guna mempertahankan ketimpangan struktur sosial yang ada agar dominasi kelas tetap terpelihara. Bahkan, menurut Marx, negara pun tidak lain merupakan instrumen kelas borjuis dan kapitalis untuk memastikan kepatuhan kelas proletar agar terus bekerja sesuai kepentingan mereka.

Telah dipaparkan bahwa suprastruktur yang terdiri atas intitusi sosial, gagasan, serta nilai hanya beroperasi (atau tercipta) guna mendukung cara produksi ekonomi yang ada. Dengan demikian, suprastruktur tidak lain merupakan cerminan dari infrastruktur. Jika infrastruktur mengandung hubungan sosial antarkelas yang konfliktual, maka suprastruktur sekadar merupakan instrumen demi melestarikan posisi keberuntungan kelas dominan dan mempertahankan hubungan konfliktual tersebut. Perubahan masyarakat atau perombakan suprastruktur hanya mungkin jika infrastruktur direvolusi.

Marx hidup di dalam masyarakat industrial yang tengah berkembang. Dalam masyarakat ini, menurut Marx, terdapat dua kelas utama yaitu kelas yang berkuasa (kapitalis, pemilik alat produksi) dan kelas yang teropresi (proletar, tidak punya alat produksi, pekerja/buruh). Kelas terakhir sekadar menjual tenaga kepada kelas pertama. Marx mempersamakan hubungan kapitalis-protelar era industrial serupa dengan tuan-budak di zaman kuno ataupun tuan tanah feodal-penggarap di era agraris. Kapitalis memperlakukan proletar tidak lebih sebagai alat produksi. Hubungan konfliktual antara kapitalis-proletar bersumber pada penguasaan alokasi kekuasaan dan kesejahteraan hanya di satu kelas. Hubungan yang mungkin hanyalah satu kelas mempertahankan, kelas lain berupaya merebutnya.

Situasi konfliktual ditandai pula peran uang yang telah muncul sebelumnya. Secara pesimis, Marx melihat uang sebagai tanda keterasingan manusia dari lingkungannya. Saat uang belum ditemukan, kepemilikan ditandai benda-benda riil misalnya ternak, gandum, gerobak, yang menunjukkan hubungan langsung manusia dengan alam. Saat uang ditemukan, ternak dikonversi menjadi uang, gandum dikonversi menjadi uang, dan gerobak dikonversi menjadi uang. Manusia tidak lagi berhubungan dengan benda-benda riil (alamiah) melainkan lewat simbol-nya: Uang. Manusia dijauhkan dan menjadi terasing dari alam. Konversi benda riil menjadi uang menambah peluang akumulasi kekayaan secara lebih timpang. Apa yang diwakili uang tidak lagi tepat melukiskan kondisi riil benda alamiah. Dalam kasus upah pekerja misalnya, kapitalis memberikannya dalam nilai uang yang ketika dikonversi pekerja menjadi benda alamiah (sembako misalnya) ternyata tidak cukup guna menghidupi diri dan keluarganya. Selain uang, sebagai penyebab keterasingan manusia, Marx juga merinci keterasingan (alienasi) lain dalam masyarakat industrial.

  • Alienasi dari tindakan bekerja. Ideal Marx adalah, dalam bekerja orang bisa memenuhi kebutuhan sekaligus mengembangkan potensi individualitas. Namun, dalam pola kerja pabrik pekerja tidak menghasilkan barang dan skill yang dibutuhkan untuk bekerja sehingga menyebabkan kemampuan kreatifnya stagnan.
  • Alienasi dari hasil pekerjaan. Produk yang dihasilkan pekerja bukan milik si pekerja melainkan milik si kapitalis. Produk tersebut dijual oleh kapitalis demi profit. Bagi Marx, semakin banyak si pekerja menginvestasikan tenaganya dalam proses produksi, sesungguhnya ia semakin banyak kehilangan hasilnya.
  • Marx merinci kondisi ini dengan teorinya tentang nilai lebih (surplus value).
  • Alienasi dari pekerja lain. Lewat tindakan bekerja, bagi Marx, orang seharusnya mampu membangun ikatan sosial dalam komunitas. Dalam masyarakat industrial, pekerja satu dengan pekerja lain justru malah terpisah dan diperparah oleh pola hubungan sosial yang kompetitif sehingga kesempatan membangun ikatan komunitas menjadi kecil atau cenderung tidak ada.
  • Alienasi dari potensi kemanusiaan. Masyarakat industrial ibarat mesin. Pekerja baru merasakan kedirian manusianya kala jam istirahat saja.

Max Weber dan Peran Gagasan dalam Perubahan Masyarakat

Max Weber mengakui peran teknologi bagi perkembangan masyarakat. Weber juga mengakui konflik bersifat inheren di tiap masyarakat. Namun, Weber tidak sepakat dengan determinisme ekonomi Marx. Jika Marx menganut materialisme historis, maka Weber dapat dikatakan menganut idealisme historis. Bagi Weber, masyarakat terbentuk lewat gagasan atau cara berpikir manusia. Dalam hal ini, Weber bertolak belakang dengan Marx yang justru mengasumsikan gagasan tidak lebih proyeksi cara-cara produksi ekonomi.

Konsep yang diperkenalkan Weber adalah tipe ideal (ideal typhus). Makna ideal typhus adalah pernyataan abstrak mengenai ciri-ciri esensial tiap fenomena sosial. Masyarakat pemburu dan peramu, hortikultural dan pastoral, agraris, industrial, dan posindustrial adalah contoh dari tipe ideal. Ideal, dalam maksud Weber, bukan berarti baik atau buruk. Tipe ideal lebih merupakan cara mendefinisikan sesuatu. Dengan mengajukan tipe ideal atas setiap fenomena sosial, seseorang dapat melakukan perbandingan antara masyarakat satu dengan masyarakat lain, atau bahkan mendorong perubahan suatu masyarakat kepada tipe ideal yang dikehendaki. Tipe ideal atas suatu fenomena sosial mendorong terciptanya gagasan baru: Tipe ideal adalah gagasan.

Organisasi rasional Weber merupakan contoh dari gagasan. Saat menggagasnya, organisasi ini belum muncul di kenyataan tatkala Weber mengamati pola kerja pegawai publik dalam Dinasti Hohenzollern yang saat itu menjalankan pemerintahan Prussia.[16] Sistem kerja dinasti tersebut bercorak patrimonial di mana ketaatan seorang pejabat publik bukan pada pekerjaan melainkan pada personalitas tokoh-tokoh politik (patron). Gagasan Weber adalah cara kerja ini harus digantikan dengan yang lebih rasional, di mana ketaatan kepada personal harus digantikan dengan ketaatan atas peraturan impersonal. Organisasi yang diajukan Weber adalah organisasi legal-rasional. Kata birokrasi bukan berasal dari Weber karena ia tidak pernah menyebut kata birokrasi dalam karyanya. Namun, kata birokrasi kini kerap dihubung-hubungkan dengan gagasan Weber.

Dalam menganalisis masyarakat, Weber menekankan bagaimana orang berpikir tentang dunia kontekstualnya. Individu dalam masyarakat pra industri terikat oleh tradisi, sementara pada masyarakat industrial diikat rasionalitas. Tipe ideal Weber mengenai tradisi adalah nilai serta kepercayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Masyarakat tradisional terbentuk tatkala para anggotanya diarahkan oleh masa lalu atau merasakan ikatan kuat pada cara hidup yang sudah bertahan lama (tradisi). Gagasan seperti tindakan baik atau buruk ditentukan apa yang telah diterima dari masa sebelumnya. Sebaliknya, orang-orang yang hidup di masa lebih kemudian (modern), lebih mengedepankan rasionalitas, yang maknanya adalah – menurut Weber – cara berpikir yang menekankan kesengajaan, berupa perhitungan pasti seputar cara-cara yang lebih efektif dalam merampungkan pekerjaan.

Ketergantungan pada hal-hal sentimentil pada masyarakat tradisional tidak beroleh tempat di masyarakat modern. Orang modern berpikir dan bertindak berdasarkan efeknya bagi masa kini dan masa mendatang, bukan masa lalu. Dengan demikian, Weber mengajukan pendapatnya mengenai rasionalisasi masyarakat yang didefinisikannya sebagai perubahan historis gagasan manusia (idealisme historis) dari tradisi menuju rasionalitas. Weber menggambarkan masyarakat modern sebagai sama sekali baru karena mengembangkan cara pikir ilmiah yang menyapu jauh-jauh segala ikatan sentimental atas masa lalu.

Apakah digunakannya suatu teknologi mengindikasikan modern-nya suatu masyarakat? Bagi Weber jawabannya belum tentu karena teknologi hanya maksimal dimanfaatkan jika masyarakat penggunanya paham akan peran teknologi tersebut bagi dunianya. Apa gunanya komputer bagi masyarakat yang masih menggantungkan dirinya pada hubungan langsung dengan alam seperti masyarakat pemburu-peramu?

Dalam menyikapi masyarakat industrial Weber berbeda pendapat dengan Marx. Weber memandang masyarakat industrial sepenuhnya rasional karena kapitalis punya kemampuan mengkalkulasi aspek untung-rugi suatu kegiatan produksi. Kalkulasi mereka lakukan sebelum uang diinvestasikan ke dalam kegiatan produksi. Sebaliknya, Marx justru menganggap masyarakat industrial sebagai irasional karena masyarakat ini gagal memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mayoritas anggotanya.

Konsep Weber selanjutnya adalah organisasi sosial rasional. Tekanannya atas rasionalitas sebagai ciri masyarakat modern, mendorong Weber mengidentifikasi tujuh ciri organisasi sosial yang dibentuk masyarakat modern, yaitu:

Munculnya lembaga sosial spesifik. Dalam masyarakat tradisional, keluarga adalah satu-satunya pusat kegiatan dalam masyarakat. Secara berangsur, sistem agama, politik, dan ekonomi mulai memisahkan diri dari sistem keluarga. Aneka sistem yang memisahkan diri ini lalu menjadi otonom bahkan menciptakan regulasi otentiknya masing-masing. Sistem-sistem baru menjamin terpenuhinya kebutuhan anggota masyarakat secara lebih efektif dan efisien.

Organisasi skala besar. Masyarakat modern ditandai menyebarnya aneka organisasi sosial berskala besar. Contohnya birokrasi negara yang mampu menjangkau wilayah luas dan berpopulasi (anggota organisasi) besar, organisasi industri yang mempekerjakan ribuan orang, ataupun lembaga pendidikan yang mendidik anggota masyarakat lintas keturunan keluarga.

Spesialisasi pekerjaan. Masyarakat modern dicirikan diferensiasi dan speasialisasi tugas yang semakin rumit. Dalam masyarakat modern tidak aneh ada profesi penyapu jalan, penjaga WC umum, tukang sampah hingga presiden.
Disiplin pribadi. Disiplin pribadi merupakan hal yang dihargai dalam masyarakat modern. Namun, kedisiplinan juga ditentukan oleh nilai-nilai budaya yang dianut, semisal prestasi atau kesuksesan yang dipandang tinggi suatu masyarakat.

Penghargaan atas waktu. Masyarakat tradisional dicirikan ketundukan pada peredaran matahari atau musim. Masyarakat modern melangkah lebih jauh dengan membagi waktu berdasarkan jam bahkan menit (kadang detik, dalam dunia teknologi informasi). Siklus kerja masyarakat modern tidak lagi ditentukan peredaran matahari dan musim. Dalam pabrik misalnya, dikenal tiga shift: Pagi, siang, dan malam.

Kompetensi teknis. Masyarakat tradisional ditengarai oleh latar belakang keluarga (keturunan siapa). Masyarakat modern ditengarai oleh latar belakang kompetensi teknis, kemampuan melakukan suatu pekerjaan. Profesionalitas menjadi alat ukur utama dalam memandang seseorang, bukan asal-usul keturunannya (bibit).
Impersonalitas. Masyarakat modern menentukan pola hubungan berdasarkan profesionalitas (kemampuan teknis) dalam pasar kerja. Dengan demikian, manusia menjadi impersonal akibat hanya dikenali berdasarkan kemampuan teknis bukan kediriannya yang utuh. Perasaan semakin dijauhkan dalam hubungan masyarakat rasional.

Bagi Weber, kapitalisme, birokrasi, dan ilmu pengetahuan adalah ekspresi (perwujudan) dari gagasan utama masyarakat modern: Rasionalitas. Namun, layaknya Marx, Weber juga menemukan potensi alienasi (keterasingan) individu di dalam masyarakat yang rasional ini. Jika Marx menjelaskan alienasi tercipta akibat ketimpangan ekonomi, maka bagi Weber alienasi tercipta sebagai hasil operasi organisasi rasional. Organisasi rasional memperlakukan manusia melulu sebagai angka, tugas, jabatan, atau kompetensi ketimbang keunikan individualitas manusiawi mereka. Kepastian, impersonalitas, keterukuran, dan predictability masyarakat modern yang rasional membuat Weber khawatir manusia kehilangan aspek kemanusiaannya.

Emile Durkheim dan Peran Peralihan Solidaritas Sosial dalam Perubahan Masyarakat

Bagi Emile Durkheim, masyarakat berbeda dengan individu. Masyarakat berada di luar (beyond) individu. Masyarakat ada sebelum, di tengah, dan setelah kehadiran individu di dunia. Masyarakat akan tetap ada kendati individu-individu sudah tidak lagi menjadi anggotanya. Masyarakatlah yang punya kekuasaan mengarahkan pemikiran dan tindakan manusia. Sebab itu, kajian psikologi atau biologi dianggap tidak pernah bisa menangkap inti pengalaman sosial seseorang. Segera setelah dibentuk oleh sekumpulan orang, masyarakat seterusnya bergerak secara mandiri. Bahkan, masyarakat menuntut kepatuhan dari orang-orang yang telah membentuknya.

Bagi Durkheim, struktur sosial adalah pola perilaku manusia yang meliputi norma, nilai, dan kepercayaan. Pola perilaku tersebut dikodifikasi di dalam budaya. Struktur sosial juga disebut Durkheim sebagai fakta sosial. Fakta sosial adalah struktur sosial yang benar-benar ada di luar individu, sifatnya permanen, bukan trend. Selain struktur, masyarakat juga punya fungsi. Fungsi ini memastikan masyarakat mampu beroperasi. Salah satu fakta sosial adalah kriminalitas. Bagi Durkheim, secara sosial fungsi kriminalitas tidaklah abnormal. Eksisnya kriminalitas menunjukkan kemampuan masyarakat dalam mendefinisikan moralitas. Sanksi yang diberikan sanksi masyarakat atas para pelaku kriminal menunjukkan eksistensi norma sosial yang harus dipatuhi setiap anggotanya.

Durkheim juga menyatakan, masyarakat tidak hanya berada di luar individu melainkan juga di dalam-nya. Personalitas pribadi merupakan representasi masyarakat di dalam diri individu. Konsekuensi logisnya, apapun yang individu lakukan, bayangkan, pikirkan, putuskan, sesungguhnya dipengaruhi apa yang masyarakat introjeksikan kepadanya. Masyarakat-lah yang mengatur apa yang boleh diinginkan individu, bagaimana cara mencapainya, serta apa saja batasannya.

Durkheim juga menyorot integrasi sosial. Pandangan menarik Durkheim mengenai ini adalah kasus bunuh diri. Menurut Durkheim, bunuh diri lebih banyak terjadi dalam masyarakat yang lemah integrasi sosialnya. Dalam sebuah penelitian – dimuat dalam karya tulisnya, Suicide – tingkat bunuh diri rendah di kalangan masyarakat Katolik ketimbang Protestan. Bagi Durkheim penyebabnya adalah, penekanan kolektivitas pada masyarakat Katolik lebih besar, sementara Protestan lebih kepada individualitas.

Durkheim berbeda dengan Weber dalam memandang konsep masyarakat tradisional dan modern. Bagi Durkheim, masyarakat modern punya pembatasan yang lebih sedikit atas individu ketimbang yang dilakukan masyarakat tradisional. Akibat sedikitnya keterlibatan masyarakat atas individu modern, masyarakat modern cenderung menciptakan anomie. Anomie adalah kondisi di mana individu hanya sedikit mendapat bimbingan moral dari masyarakat. Akibat anomie, tingkat perceraian, kehamilan di luar nikah, bunuh diri, stress dan depresi individual lebih banyak terdapat di masyarakat modern ketimbang tradisional.

Durkheim juga mengkomparasikan kohesi sosial antara masyarakat tradisional dengan modern. Komparasi Durkheim lakukan atas aspek solidaritas sosial. Pada masyarakat pra-industrial, tradisi bertindak sebagai perekat sosial (kohesi) masyarakat. Masyarakatnya mengembangkan solidaritas-mekanik. Solidaritas-mekanik adalah ikatan sosial berdasarkan nilai-nilai moral dan sentimen bersama dan masih kuat dianut serta dipatuhi oleh para anggota masyarakat. Solidaritas-mekanik sekaligus merupakan produk kesamaan struktur, okupasi, dan proses sosial masyarakat.

 

Sumber: https://pendidikan.co.id/

Konflik Vertikal dan Horizontal di Indonesia

Konflik Vertikal Dan Horizontal Di Indonesia

Konflik Vertikal dan Horizontal di Indonesia

Konflik Vertikal dan Horizontal di Indonesia

Konflik vertikal dan horizontal di Indonesia, sebelum dibedah, alangkah baiknya jika ditentukan terlebih dahulu alat analisisnya yang berupan pendekatan. Pendekatan-pendekatan tersebut adalah sosiologis, sosiologi-politik, ekonomi-politik dan antropologis menjadi inti tulisan ini. Dalam hidup berbangsa, pembangunan konsensus seringkali tidak mudah dicapai. Konflik adalah produk dinamika hubungan antarkelompok, sama halnya dengan konsensus. Konflik dan konsensus muncul bergantian dan sekaligus menandai dinamika hubungan antarkelompok di dalam masyarakat.
Umumnya, konflik termanifestasi ke dalam dua bentuk. Pertama, konflik yang berlangsung damai tanpa menyita cost material dan spiritual seperti kerusuhan, kehilangan jiwa, cedera fisik, terputusnya hubungan antarkeluarga, dan sejenisnya. Konflik semacam ini sifatnya negosiatif dan justru inheren bahkan dianjurkan dalam kehidupan bernegara, terutama dalam praktek-praktek demokrasi liberal. Kedua, konflik yang berwujud vandalistik dan violence. Konflik-konflik seperti ini yang kerap menggelisahkan mayoritas masyarakat dan para pemimpin Indonesia.
Konflik dalam bentuk yang pertama (damai) utamanya berlangsung di level elit, saat negosiasi politik berlangsung. Parlemen dan lembaga-lembaga politik formal adalah struktur penyalur konflik. Konflik dilokalisasi hanya di dalam gedung parlemen ataupun saluran-saluran demokrasi yang ada seperti pers, partai politik, LSM, organisasi kemasyarakatan, dan dialog antartokoh sosial. Konflik yang muncul adalah produk dinamika hubungan, dan konflik menyatakan fakta-fakta yang harus diolah untuk dicarikan resolusinya.
Sebaliknya, konflik dalam pengertian kedua umum terjadi di dataran horisontal, biasanya berupa benturan antara rakyat versus rakyat, di mana yang menjadi korban adalah rakyat pula. Bahkan tidak jarang konflik di dataran horisontal sekadar kembangan sistematis dari konflik level elit. Masih teringat tragedi 1965-1966 di mana massa rakyat di pulau Jawa (juga Bali) melakukan pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia. Konflik tersebut merupakan kembangan dari konflik politik di tingkat elit antara elit pro dan anti status quo.
Dampak konflik paling hebat adalah yang terjadi seiring transisi politik Indonesia di penghujung akhir tahun 1990-an. Ketika rezim otoritarian kontemporer Jenderal Soeharto mulai lemah dalam mengikat konsensus, lalu memainkan sentimen agama sebagai pijakan baru politiknya di satu sisi, sementara di sisi lain pola perpindahan penduduk (lewat transmigrasi dan urbanisasi) membentuk kemajemukan yang kompleks di sejumlah daerah, meletuslah beragam konflik komunal di Indonesia. Dampak konflik bahkan dapat dilihat dalam statistik pertambahan penduduk versi Badan Pusat Statistik edisi September 2011.
Sejak tahun 1983, peningkatan penduduk antartahun naik secara konstan. Namun, trend mengalami gerak balik negatif antara 1999–2000. Jumlah penduduk Indonesia 1999 adalah 207.437.000 sementara 2000 adalah 205.132.000: Penduduk Indonesia tidak menaik! Dapat diingat, hari-hari Indonesia di sekitar 1999 dan 2000 adalah kelam. Pada masa tersebut, marak konflik-konflik horisontal di Indonesia yang seolah menjadi trend jauh dari simpatik bahkan biadab. Jumlah penduduk Indonesia di tahun 1999 baru relatif disamai pada periode 2001 ketika konsensus-konsensus antarkelompok yang bertikai lewat fasilitasi pemerintah dan tokoh masyarakat berhasil mengekang hawa nafsu.
Konflik yang hendak dibicarakan kemudian terletak di bentuk yang kedua, konflik yang disertai vandalism dan violence. Konflik-konflik seperti ini banyak menggejala di masyarakat Indonesia yang katanya ramah itu. Saling bunuh dan saling rusak antarsaudara sesama bangsa terjadi hampir di sekujur pulau-pulau nusantara: Dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Maluku, Jakarta, hingga Papua. Upaya pemotretan atas dinamika sosial dan budaya Indonesia akan kurang lengkap tanpa kajian serius atas akar kemunculan konflik dalam bentuk kedua ini.

Teori-teori yang Menjelaskan Roots of Conflict 

Konflik-konflik yang terjadi di Indonesia umumnya berkembang di sekeliling garis multikulturalitas masyarakat. Nuansa suku bangsa, etnis, agama, dan pelapisan sosial mewarnai konflik-konflik violence sekaligus vandal. Konflik yang menyeret wacana primordial umum terjadi dalam konflik di Kalimantan (antara etnis Madura, Melayu, dan Dayak), di Ambon, Poso, dan Halmahera (kaum migran, pribumi, Muslim, Nasrani, klien-klien elit politik), kerusuhan sosial dan etnis Mei 1998 di Jakarta, konflik Aceh, serta pembantaian 1966 di Jawa dan Bali, adalah sebagian konflik dalam aras ini.
Sebelum dilakukan pembahasan masing-masing konflik, terlebih dahulu dipaparkan sejumlah teori yang berupaya menjelaskan aneka alur konflik. Dari teori, sebab musabab konflik di Indonesia akan lebih mudah dipetakan. Pemahaman atas alur-alur konflik sekaligus diharapkan mampu memberi sumbangan bahwa kendati integrasi nasional Indonesia telah dibakukan, di arus bawah (juga level elit) konsensus nasional sesungguhnya masih terus berproses menjadi: Belum ada fase selesai. Untuk keperluan teori ini, akan diikuti alur pikir dari Patrick Baron, Claire Q. Smith, and Michael Woolcock, yang membagi empat cara pandang dalam melihat fenomena konflik violence. Keempat cara pandang tersebut adalah sosiologis, politik, politik-ekonomi, dan antropologi.

Pendekatan Sosiologis 

Dalam cara pandang sosiologis, konflik dikaitkan dengan masalah primordial. Ia menyatakan bahwa keunikan dan eksistensi budaya membatasi interaksi antarkelompok. Penjelasan konflik dari pendekatan ini berkisar pada unsur psikologi dan budaya, dengan mana individu masing-masing kelompok memahami diri dan pihak lain.
Dalam konteks primordial, pendekatan sosiologis mengungkap masalah prejudis (prasangka) dan stereotip. Prejudis mengacu pada sikap bermusuhan yang ditujukan terhadap suatu kelompok akibat adanya dugaan kelompok tersebut mempunyai ciri yang tidak menyenangkan.[3] Ia disebut prejudis akibat dugaan yang diajukan tidak didasarkan pada pengetahuan, pengalaman ataupun bukti sahih. Prejudis juga berarti kesimpulan kaku dan tidak adil atas suatu kategori manusia yang dianggap keseluruhan.[4] Prejudis tidak adil karena akibat kategori tertentu atas satu atau beberapa individu, semua anggota kelompoknya secara kaku digeneralisasi sebagai identik. Generalisasi pun hanya didasarkan sedikit bukti ataupun bukti yang sifatnya tidak langsung. Prejudis dapat ditujukan pada orang dengan orientasi seksual, usia, afiliasi politik, ketidaklengkapan fisik, ras, ataupun etnis spesifik.
Prejudis dapat bersifat positif ataupun negatif. Prejudis positif cenderung menambahi kelebihan pada orang-orang yang serupa dengan dirinya sendiri. Prejudis yang negatif cenderung mengutuki orang-orang selain dirinya sendiri. Prejudis negatif berkisar dari sekadar menunjukkan sikap tidak suka yang samar hingga permusuhan konfrontatif. Sulitnya, prejudis seringkali berakar di dalam budaya suatu kelompok sehingga setiap anggotanya – sekurangnya – pasti memiliki prejudis. Dalam masalah prejudis terdapat sejumlah teori turunannya, yaitu: (1) Scapegoat Theory, (2) Authoritarian Personality Theory, (3) Culture Theory, dan (4) Conflict Theory.[5]
Teori Kambing Hitam (Scapegoat Theory) menjelaskan munculnya prejudis tidak lain akibat rasa frustrasi orang atau kelompok yang mengalami ketidakberuntungan. Kambing hitam adalah orang atau kategori orang, yang umumnya punya kekuasaan kecil, yang secara tidak adil dipersalahkan akibat ketidakberuntungan yang menimpa kelompok lain. Karena hanya punya kekuasaan kecil, suatu kelompok menjadi kambing hitam yang aman. Tidak aneh jika kelompok minoritas kerap dijadikan kambing hitam. Demikian pula dalam konteks ras ataupun etnis, etnis mayoritas yang mengalami ketidakberuntungan ekonomi atau politik kerap secara picik menyalahkan etnis-etnis lain yang lebih kecil atau tidak berdaya sebagai penyebabnya.
Teori personalitas otoritarian diungkap Theodor Adorno tahun 1950. Teori ini juga disebut prejudis ekstrem, sebagai sifat pribadi individu-individu tertentu. Menurut Adorno, orang yang mengekspresikan prejudis ekstrem atas satu minoritas cenderung melakukannya atas minoritas-minoritas lain. Individu atau kelompok yang mengidap personalitas otoritarian menganut nilai-nilai budaya konvensional secara kaku. Mereka melihat masalah moral secara sederhana sebagai benar dan salah atau hitam-putih. Individu pengidap personalitas otoritarian memandang masyarakat sebagai kompetitif dan hirarkis, dengan orang-orang yang lebih baik (seperti diri dan kelompoknya) di peringkat atas dan (harus) mendominasi orang atau kelompok lain yang tidak serupa atau sepaham dengan mereka. Sebaliknya, menurut Adorno, orang yang mengekspresikan toleransi atas satu minoritas cenderung dapat menerima keberadaan minoritas-minoritas lain. Mereka cenderung fleksibel dalam melakukan penilaian moral sekaligus menyikapi orang lain secara setara. Individu yang kurang terdidik ataupun dididik oleh orang tua yang sikapnya dingin serta penuntut, cenderung mengembangkan personalitas otoritarian. Situasi psikologis mereka penuh kemarahan dan kegelisahan masa kecil, yang setelah dewasa berkembang menjadi pribadi yang penuh permusuhan, agresif, dan selalu mencari kambing hitam.
Teori budaya menganggap bahwa kendati prejudis ekstrim ditemui pada diri individu, prejudis serupa juga ditemui pada orang-orang yang mereka timpakan prejudis tersebut. Persamaan ini muncul akibat prejudis sesungguhnya bagian tak terpisahkan dari budaya dari mana mereka berasal. Bukti bahwa prejudis bersarang dalam budaya adalah fakta bahwa minoritas pun memiliki prejudis atas mayoritas atau minoritas lain. Individu memiliki prejudis karena mereka hidup dalam suatu budaya prejudis, budaya yang diajarkan oleh masyarakat kepada mereka seputar apa yang lebih baik atau lebih buruk dari orang atau kelompok lain.
Teori konflik melihat prejudis seringkali digunakan sebagai alat kelompok yang berkuasa untuk menindas subordinatnya. Sebaliknya, kalangan minoritas memberdayakan kesadaran ras atau etnis mereka untuk merebut privilese dan kekuasaan yang lebih besar. Gerakan Zionis merupakan contoh mekanisme ini. Mereka adalah etnis minoritas tetapi memegang kekuasaan ekonomi baik di Amerika Serikat, Inggris, dan sejumlah negara Barat lain. Sebagai minoritas mereka mengexercise prejudis secara negatif, dengan klaim mereka adalah korban prejudis pihak lain (biasanya mayoritas) karena masalah ras atau etnisnya. Holocaust seringkali digunakan Zionis untuk justifikasi tindak kolonial mereka atas Palestina.
Dalam pembicaraan prejudis, terkembang pula konsep stereotip. Prejudis juga kerap mengambil bentuk stereotip. Stereotip (stereotype) berasal dari kata Yunani yang berarti solid. Stereotip adalah citra kaku mengenai suatu kelompok ras atau budaya yang dianut tanpa memperhatikan kebenaran citra tersebut. Stereotip biasanya diaplikasikan atas suatu ras atau etnis, sementara prejudis lebih kepada individu dan kelompok sosial yang lebih kecil. Stereotip ada dua jenis yaitu positif dan negatif. Tipe positif misalnya pandangan bahwa orang Cina dan Padang pintar berdagang, orang Batak adalah pengacara handal, orang Bugis dan Makassar pelaut dan perantau pemberani, orang Jawa ulet dan tinggi kemampuan adaptasinya, dan sejenisnya. Sementara tipe negatif misalnya pandangan bahwa orang Polandia itu kotor, bodoh, atau kasar, orang Inggris dan Perancis sombong, atau orang Jepang otoriter.

Pendekatan Sosiologi-Politik 

Pendekatan ini menyatakan bahwa sifat etnis yang sudah terbangun secara sosial dan intensitas konflik yang muncul kemudian, punya basis instrumental (diaplikasikan untuk tujuan tertentu). Basis instrumental ini menjadi mekanisme individu atau kelompok guna memenuhi kepentingan mereka.
Suku bangsa (etnis) dianggap sebuah bentuk jadi, produk hasil riwayat pembentukan panjang. Proses menjadi yang menciptakan sebuah suku bangsa akibat adanya gerakan di dalam masyarakat. Misalnya, Jong Sumatranen Bond 1920-an di Indonesia, terbentuk akibat keinginan peleburan etnis Sumatera yang berbeda-beda (Batak, Padang, Palembang, Aceh) ke dalam satu suku bangsa saja: Sumatera. Pada perkembangannya, kelompok sosial yang terbentuk bukan lagi pada sesuatu yang given semisal etnis Batak, Minangkabau, atau Betawi, tetapi dialiri oleh faktor politik, baik yang bercorak positif maupun negatif. Dalam konteks yang serupa pun dapat dicontohkan mekanisme terbangunnya bangsa Indonesia.
Sebab itu, dalam pendekatan sosiologi-politik dikenal dua arus pergerakan. Pertama, pergerakan peran elit intelektual dan politik dalam membentuk dan memelihara konsepsi diri dan kelompok. Kedua, pergerakan budaya, yang merupakan derivasi (turunan) dari power relation (hubungan kekuasaan) dominan di dalam suatu komunitas. Sebab itu, formasi budaya dan dinamika yang kemudian berkembang merupakan wujud struktur kekuasaan dan power relations yang ada. Termasuk ke dalam pendekatan ini teorisasi Indonesia sebagai masyarakat majemuk dan multikultural. Dalam masyarakat majemuk dikenal pula pola hubungan mayoritas-minoritas yang dominatif dan eksklusif. Dalam masyarakat multikultural, hubungan mayoritas-minoritas dianggap setara dan toleran.
James M. Henslin memetakan pola umum hubungan mayoritas-minoritas.[6] Pola Henslin diletakkan ke dalam sebuah kontinum. Kontinum di sebelah kiri merepresentasikan hubungan ekstrim yang melakukan penolakan dan tidak manusiawi, sementara yang kanan merepresentasikan posisi menerima dan manusiawi, seperti tampak pada gambar:
Dalam menyikapi konflik yang muncul, segmen-segmen dalam masyarakat memiliki metode sendiri-sendiri dalam menyikapi hubungan mayoritas-minoritas. Klasifikasi hubungan yang terbentuk dipengaruhi oleh hubungan antaragama, etnis ataupun ras aktual di dalam masyarakat yang berbeda. Hal yang perlu diingat, hubungan mayoritas-minoritas sekadar pucuk dari pusaran masalah hubungan agama, etnis, atau ras di masing-masing masyarakat. Masyarakat satu bisa berbeda dengan masyarakat lain dalam hubungan mayoritas-minoritas ini. Pembahasan dilakukan dari kontinum di ekstrim kanan ke kiri.
Multikultural adalah kondisi hubungan mayoritas-minoritas dalam mana individu aneka ras dan etnis yang ada di suatu wilayah diakui berbeda tetapi saling berbagi pijakan sosial yang sama. Individu yang ras dan etnisnya berbeda ini, saling berbagi sumber daya secara setara. Di Indonesia kondisi ini merupakan das zein dan disimbolkan dalam slogan: Bhinneka Tunggal Ika. Dengan lain perkataan, dalam masala keragaman ras dan etnis Indonesia (secara ideologis) mengambil pijakan multikultural. Multikulturalitas Indonesia adalah sebuah fakta, das zein. Perilaku hubungan mayoritas-minoritas aktualnya mengikuti slogan ini. Persoalannya, apakah das zein tersebut juga telah terintrojeksi ke dalam kesadaran masyarakat Indonesia sebagai sebuah konsensus ataukah konflik, koeksistensi ataukah kompetisi? Apakah di setiap propinsi, kabupaten atau kota, hubungan mayoritas-minoritas ditandai saling berbagi sumber daya secara setara ataukah dominasi?
Menurut Henslin, kendala suatu bangsa yang mengambil pijakan multikultural diurai menjadi tiga.[10] Pertama, kendati umumnya etnis dan ras diberi kesempatan yang sama dalam mengembangkan tradisi dan kebiasaan turun-temurun mereka, beberapa di antaranya (individu atau kelompok di dalam setiap etnis dan ras) tetap menginginkan ras atau etnis lain-lah yang harus mengikuti tradisi dan kebiasaan mereka. Kedua, membesarnya kuantitas ras atau etnis minoritas di suatu daerah, membuat ras atau etnis status quo dominan mempertanyakan eksistensi mereka sehingga mendorong sikap reaktif. Ketiga, adanya fakta ras atau etnis yang berlainan punya pijakan sosial yang sungguh tidak serupa. Ketiga kendala inilah yang seringkali membuat hubungan mayoritas-minoritas tidak harmonis secara alamiah.
Asimilasi adalah proses dengan mana minoritas secara bertahap mengadopsi budaya kelompok dominan. Atau, kelompok dominan menyerap kelompok minoritas ke dalam tubuhnya. Corak asimilasi bisa berupa konversi agama, cara berpakaian, penganutan nilai, perubahan bahasa, ataupun pergaulan. Asimilasi ditentang pendukung multikulturalisme karena seringkali menganggap minoritas-lah sumber masalah, bukan mayoritas. Multikulturalis juga memandang ada ketidakadilan di dalam proses asimilasi, dalam mana minoritas-lah yang wajib melakukan perubahan sesuai kebiasaan mayoritas, tidak pernah sebaliknya. Di dalam kenyataan, memang minoritas-lah yang kerap mengasimilasi budaya mayoritas. Bagi Macionis, asimilasi hanya mungkin dalam konteks etnis tetapi tidak dalam ras.[11] Contohnya, seorang Skandinavia yang mengubah namanya menjadi nama Jawa, mempraktekkan kebudayaan Jawa, pandai berbahasa Jawa, dan beragama layaknya orang Jawa umumnya dapat saja terasimilasi menjadi etnis Jawa dan diakui oleh etnis Jawa lainnya. Aspek sosialnya mungkin berubah tetapi tidak ciri-ciri fisiknya (ras): Ia tetap Skandinavia. Namun, kendati lambat, lewat proses alamiah seperti perkawinan antar ras kendala fisik ini sesungguhnya dapat teratasi.
Segregasi adalah pemisahan fisik berdasarkan kategori biologis atau sosial tertentu. Mekanisme ini dapat dilakukan baik oleh mayoritas maupun minoritas. Jika multikulturalisme mengupayakan tetapnya keunikan tanpa merugikan minoritas, segregasi melakukan pemisahan resmi berdasarkan keunikan tersebut. Contoh segregasi adalah masyarakat Amerika Serikat pra 1964 di mana hubungan sosial dipisahkan berdasarkan ras (kulit berwarna dan putih). Jika segregasi yang dipilih sebagai metode hubungan mayoritas-minoritas, ketegangan-ketegangan sosial akan laten, iklim curiga berkembang, dan akhirnya meletupkan konflik yang besar cost sosial dan ekonominya. Indonesia di masa kolonial juga terkena segregasi, dalam mana hubungan sosial ditentukan oleh ras: Eropa, Cina, Arab, dan Pribumi. Ras ini menentukan bagaimana posisi individu di mata hukum, politik, dan pendidikan.[12]
Kolonialisme Internal. Kategori ini banyak dianut sosiolog aliran konflik, yang menganggap bangsa Industri maju mengeksploitasi yang kurang terindustrialisasi.[13] Kolonialisme internal adalah konsep yang menggambarkan kelompok dominan suatu masyarakat melakukan tindak eksploitasi atas minoritas demi keuntungan ekonomi. Kelompok dominan ini (tidak melulu harus berjumlah mayoritas) memanipulasi lembaga-lembaga sosial demi menindas minoritas (non dominan) lewat penghambatan akses menuju posisi yang lebih menguntungkan minoritas ini. Sistem apartheid Afrika Selatan, cultuur-stelsel di era kolonial Belanda, penjajahan Palestina oleh Zionis, kerja rodi dan romusha Indonesia di era kolonial, atau perbudakan, adalah contoh hubungan ini. Konsepsi masyarakat majemuk kiranya hadir dari pola konolialisme internal ini.
Transfer Populasi terdiri atas dua jenis yaitu langsung dan tidak langsung. Transfer populasi tidak langsung terjadi saat minoritas terpaksa memindahkan diri dari lokasi lama ke lokasi baru akibat perlakuan mayoritas. Transfer populasi langsung terjadi saat minoritas dipindahkan secara terang-terangan oleh mayoritas dari lokasi lama ke lokasi baru. Kasus pengungsia akibat konflik adalah contoh transfer populasi berpola tidak langsung. Kasus Palestina adalah contoh transfer populasi berpola langsung. Berdirinya Pakistan adalah contoh transfer populasi berpola langsung dan tidak langsung.
Genosid adalah pembunuhan (penghilangan nyawa) sistematis atas suatu kelompok masyarakat oleh kelompok masyarakat lain. Genosid adalah bentuk terburuk hubungan mayoritas-minoritas. Kendati tidak bisa dibenarkan, bahkan secara universal dikutuk, genosid seringkali terjadi dari dulu hingga kini. Dalam sejarah, genosid berkali-kali terjadi, misalnya atas ras Yahudi Jerman di masa Hitler (1935–1945), pembunuhan sistematik atas tiga puluh juta musuh nyata dan tidak nyata Stalin di Uni Sovyet, pembunuhan dua juta kaum yang oleh dicurigai borjuis oleh Pol Pot (1975–1980), pembantaian rakyat Polandia oleh Rusia di Katyn, termasuk perkembangan terkini dimana suku Hutu membersihkan Tutsi di Rwanda, Serbia membersihkan Bosnia di Balkan, serta pembersihan etnis non Arab oleh etnis Arab di Darfur, Sudan.
Dari keempat bentuk hubungan mayoritas-minoritas, multikultural dan asimilasi adalah metode yang lebih manusiawi ketimbang dalam kontinum segregasi hingga genosid. Namun, kedua hubungan yang lebih positif tersebut membutuhkan kesalingpengertian dan kerjasama yang saling memahami antara mayoritas etnis atau ras dengan saudaranya yang minoritas. Selain itu, kedua hubungan tersebut memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Pendekatan Ekonomi Politik 

Pendekatan ekonomi-politik menggeser fokus perhatian dari aktor individual kepada struktur masyarakat yang dianggap memberikan insentif material sebagai penyebab konflik. Kelangkaan sumber daya serta sulitnya distribusi kemakmuran jadi perhatian utama pendekatan ini. Bagi ekonomi politik, selama masih ada situasi dominasi dan eksploitasi dalam masyarakat, konsensus akan terus instabil dan konflik inheren. Ketimpangan distribusi pendapatan serta tersendatnya akses sejumlah kelompok atas sumber daya langka, adalah rangkaian variabel penyebab konflik yang dilansir pendekatan ini.
Analisis akar konflik – baik vertikal maupun horisontal – di Indonesia juga umumnya menggunakan pendekatan ini. Dalam menjelaskan konflik Poso misalnya, Thamrin Amal Tomagola maupun George Junus Aditjondro, menempatkan analisis ketimpangan distribusi pendapatan antara masyarakat Poso pendatang – yang lebih menguasai sektor perdagangan dan ekonomi umum – dengan masyarakat asli Poso yang kurang beruntung dalam kuasa material ekonomi sebagai variabel utama penyebab konflik. Selain itu, prejudis yang saling menegasikan muncul serta membesar dalam bayang ketimpangan ini. Penduduk asli Poso menganggap pendatang bertindak eksploitatif atas wilayah mereka. Pendatang, di lain pihak, menganggap penduduk asli tidak mau mengubah nasibnya sendiri. Selubung agama yang mengitari konflik Poso, adalah sekadar kabut – bukan raison d’etre konflik. Dalam konflik lain di Indonesia, baik vertikal maupun horisontal, analisis atas pola perebutan sumberdaya material ekonomi langka serta ketimpangan distribusinya juga umum digunakan.

Pendekatan Antropologis 

Sesuai namanya, pendekatan antropologis fokus pada aspek manusia selaku sumber konflik. Perhatian diberikan pada ada tidaknya mekanisme resolusi konflik dalam masyarakat. Akar-akar konflik yang diidentifikasi pendekatan ini umumnya adalah terdiri atas sengketa batas wilayah antarkelompok, kepemilikan sumberdaya, pola pengairan tanah, kepemimpinan, atau dinamika keluarga (prosedur warisan, pertikaian rumah tangga, dan hubungan antara laki-laki dan perempuan).
Keuntungan dari penekanan atas aspek manusia dalam terdiri atas dua. Pertama, fokus pada how to solve conflict dengan mengajukan pertanyaan langsung seperti apakah faktor penyebab konflik keragaman agama, etnis, bahasa, distribusi sumber daya, atau masalah yang berkaitan dengan faktor geografis? Kedua, menolak penjelasan konflik yang state-centric. Untuk ini, negara diposisikan hanya sebagai fasilitator, sementara tokoh-tokoh masyarakat dari pihak yang berkonflik diperlakukan sebagai subyek: Mereka duduk satu meja untuk mencari akar masalah dan resolusinya. Hal ini misalnya tampak jelas saat proses penyelesaian konflik Poso dan Maluku lewat Deklarasi Malino I dan II. Yusuf Kalla (wapres saat itu, mewakili negara) bertindak sebagai fasilitator sementara pihak-pihak yang dipertemukan adalah wakil-wakil masyarakat yang benar-benar terlibat dan memahami konflik.
Keempat pendekatan konflik yang telah terpapar, diharapkan bermanfaat dalam menyelidiki aneka konflik yang berkembang di Indonesia. Terkadang, beberapa pendekatan saling tumpang-tindih saat menjelaskan satu fenomena konflik. Tumpah-tindih sulit dihindari akibat konflik antara manusia bukanlah hal sederhana atau melulu monofaktor.

Pengertian Istilah Sistem, Informasi, dan Manajemen Menurut Ahli

Pengertian Istilah Sistem, Informasi, dan Manajemen Menurut Ahli

Pengertian Istilah Sistem, Informasi, dan Manajemen Menurut Ahli
Pengertian Istilah Sistem, Informasi, dan Manajemen Menurut Ahli

 

Pengertian Istilah Sistem, Informasi, dan Manajemen 

Informasi memegang peranan yang penting dalam setiap kehidupan manusia, begitu pula dalam setiap organisasi senantiasa memerlukan organisasi. Karena hampir semua bidang kegiatan dalam suatu orgnisasi tidak akan terlepas dari informasi sebagai sarana penunjang kelancaran kegiatan kinerja pegawai yang telah ditetapkan sebelumnya didalam tubuh organisasi.
Sistem Informasi Manajemen terdiri dari tiga kata yang berlainan arti yang masing-masing kata tersebut mempunyai pengertian. Untuk mengetahui pengertian dari ketiga kata tersebut peneliti akan sajikan secara terperinci sebagai berikut:

Sistem

Menurut pendapat Oemar Hamalik dalam buku Pengelolaan Sistem Informasi (1993:19), mendefinisikan sebuah sistem sebagai berikut:
Sistem adalah suatu keseluruhan atau totalitas yang terdiri dari bagian-bagian atau sub-sub sistem atau komponen yang saling berintelerasi dan berinteraksi satu sama lain dan dengan keseluruhan itu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Gordon B. Davis dalam buku Management Information System yang diterjemahkan oleh Andreas Adiwardana dalam buku Kerangka Dasar Sistem Manajemen Jilid I (1999:67) mengemukakan pengertian sistem sebagai berikut: Sistem adalah abstrak maupun fisik, abstrak adalah suatu susunan teratur gagasan atau konsepsi yang saling tergantung.
Menurut pendapat Onong Uchjana Effendy dalam buku Sistem Informasi Manajemen (1989:53) mengemukakan pengertian sistem sebagai berikut:
Sistem adalah suatu totalitas himpunan bagian-bagian yang satu sama lain berinteraksi dan bersama-sama beroperasi mencapai suatu tujuan tertentu didalam suatu lingkungan. Bagian-bagian atau sub-sub sistem tersebut merupakan suatu kompleksitas tersendiri, tetapi dalam kebersamaan mencapai suatu tujuan tersebut berlangsung secara harmonis dalam ketentuan yang pasti.
Menurut pendapat Onong Uchjana Effendy dalam buku Sistem Informasi Manajemen (1989:54) mengemukakan, bahwa model sebuah sistem adalah input, proses, dan output, hal ini sudah tentu merupakan sebuah sistem dapat mempunyai beberapa masukan dan keluaran.
Input merupakan suatu komponen dimana sistem tersebut dioperasikan, sedangkan output merupakan hasil dari operasi. Dalam pengertian sederhana output berarti yang menjadi sebuah tujuan, sasaran, atau target pengoperasian dari suatu sistem. Sementara proses merupakan aktivitas yang dapat mentransfer masukan input menjadi sebuah output. Dengan demikian jelaslah bahwa suatu sistem atau sub sistem dapat terdiri dari beberapa proses yang merubah input menjadi output dan proses tersebut disebut parameter sistem yang merupakan unsur-unsur pembentuk sistem. Dari pendapat diatas, peneliti menyimpulkan bahwa suatu sistem merupakan kumpulan dari unsur-unsur, bagian-bagian, sub sistem atau komponen yang saling berkaitan satu dengan yang lain dalam menunjang pencapaian suatu tujuan.
Peneliti akan mengemukakan definisi sistem menurut Azhar Susanto dalam bukunya Sistem Informasi Manajemen Konsep dan Pengembangannya (2002:18), yaitu :
Sistem adalah kumpulan atau group dari sub sistem atau bagian atau komponen apaupun baik fisik maupun non fisik yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerjasama secara harmonis untuk mencapai tujuan yang tertentu.
Jogiyanto Hartono dalam buku Pengenalan Komputer (2000:683) mendefinisikan suatu sistem, yaitu :
Suatu sistem dapat didefinisikan sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari dua atau lebih komponen atau sub sistem yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.
Sistem juga didefinisikan oleh Edhy Susanta dalam bukunya Sistem Informasi Manajemen (2003:4), menyatakan :
Sistem adalah sebagai sekumpulan hal atau kegiatan atau elemen atau subsistem yang saling bekerja sama atau yang dihubungkan dengan cara-cara tertentu sehingga membentuk satu kesatuan untuk melaksanakan suatu fungsi guna mencapai suatu tujuan.
Menurut Atin Hafidiah, Drs., Msi. dan Dusa Sumartaya, SE., Msi., Ak. dalam buku Sistem Informasi Manajemen Untuk Organisasi bisnis (2003:51-52), sistem dapat diklasifkasikan dari beberapa sudut pandang, diantaranya sebagai berikut:

1. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem abstrak dan sistem fisik

Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak nampak secara fisik. Misalnya sistem teologi, yaitu sistem yang berguna bagi pemikiran-pemikiran hubungan antara Tuhan dengan manusia. Sistem fisik merupakan sistem yang ada secara fisik. Misalnya sistem komputer, sistem akuntansi, sistem produksi dan sebagainya.

2. Sistem alamiah dan sistem buatan manusia

Sistem alamiah adalah sistem yang terjadi melalui proses alamiah, tidak dibuat manusia. Misalnya sistem perputaran bumi. Sistem buatan manusia adalah sistem yang dirancang dan dibuat manusia melibatkan interaksi antara manusia dengan mesin (human machine system). Sistem akuntansi adalah bentuk human machine system karena menyangkut penggunaan komputer yang berinteraksi dengan manusia.

3. Sistem tertentu (deterministic system) dan sistem yang memungkinkan (probabilistic system)

Sistem tertentu beroperasi dengan tingkah laku yang sudah dapat diprediksi. Interaksi diantara bagian-bagiannya dapat dideteksi dengan pasti, sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan. Sistem komputer adalah deterministic system karena berdasarkan program-program yang dijalankan menghasilkan output yang dapat dipastikan. Sedangkan sistem yang probabilistik adalah sistem yang output yang dihasilkan tidak dapat diprediksi dengan kepastian yang tinggi. Misalnya sistem akuntansi secara manual.

4. Sistem sederhana, kompleks dan sangat kompleks

Klasifikasi ini didasarkan atas banyaknya sub sistem dan hubungan yang terjadi antara sub sistem yang ada pada sistem sederhana memiliki sub sistem yang sedikit dengan hubungan yang sedikit atau sederhana. Sedangkan sistem yang kompleks memiliki sub sistem dan hubungan yang lebih banyak dibandingkan dengan sistem sederhana, demikian juga sistem yang sangat kompleks memiliki sub sistem dan hubungan yang lebih banyak daripada sub sistem kompleks hubungan antara tingkat determinasi dan kompleksitas sistem.

5. Sistem terbuka dan sistem tertutup

Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak berhubungan dan tidak terpengaruh dengan lingkungan. Sistem ini bekerja secara otomatis tanpa campur tangan dengan pihak luarnya. Sistem ini dapat berdiri sendiri. Sistem ini tidak mengadakan pertukaran bahan, informasi, atau tenaga dengan lingkungan. Contohnya sistem reaksi kimia dalam suatu botol tertutup. Sistem tertutup demikian pada akhirnya akan menjadi tidak teratur. Secara teoritis sistem tertutup ini ada, tapi dalam kenyataannya tidak ada sistem yang benar-benar tertutup. Sistem terbuka mengadakan pertukaran bahan, informasi dan energi dan lingkungan luarnya, oleh karena itu harus mempunyai sistem pengendalian yang baik. Sistem terbuka cenderung mengadakan penyesuaian diri, yang berarti sistem tersebut dapat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan guna melangsungkan eksistensinya. Sistem terbuka mengatur sendiri dan mengubah organisasinya untuk menanggapi kondisi yang berbeda.
Baca Juga : 

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi Menurut Ahli

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi Menurut Ahli

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi Menurut Ahli
Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi Menurut Ahli

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi 

Secara sederhana informasi dapat dipahami sebagai data yang diberi makna. Artinya informasi merupakan bentuk ‘olahan’ dari data yang diperuntukan untuk tujuan tertentu agar penerima dapat mengerti arti dan makna dari data tersebut. Sedangkan menurut businessdictionary.com informasi didefinisikan sebagai berikut:
“Data that is (1) accurate and timely, (2) specific and organized for a purpose, (3) presented within a context that gives it meaning and relevance, and (4) can lead to an increase in understanding and decrease in uncertainty.”
Definisi di atas jelas memperlihatkan bahwa informasi merupakan bentuk pemaknaan dari data dalam konteks tertentu yang ditujukan agar dapat meningkatkan pemahaman dan mengurangi ketidakpastian atau ketidakjelasan.
Informasi secara prinsip sebetulnya ‘hanya’ terdiri dari dua jenis yakni informasi lisan dan informasi terekam. Informasi lisan merujuk pada informasi yang disampaikan secara lisan dan merupakan bentuk komunikasi di dalam masyarakat. Sedangkan informasi terekam merujuk kepada informasi yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, jurnal, compact disc, ataupun bentuk lainnya. Perpustakaan sebagai lembaga pusat sumber informasi biasanya lebih banyak mengelola informasi terekam bukan informasi lisan.
Informasi yang terekam dalam perpustakaan dapat dilihat dalam berbagai bentuk koleksi ataupun media seperti koleksi buku fiksi, koleksi buku non fiksi, koleksi media cetak non buku, koleksi multimedia, dan koleksi digital/online. Koleksi buku non fiksi biasanya menyimpan informasi fiktif, inspiratif, dan rekreatif yang berupa buku cerita, novel, dan lain-lain. Sedangkan koleksi buku non fiksi biasanya menyimpan informasi yang lebih bersifat informatif, edukatif, dan ilmiah yang berupa buku teks, buku referensi, buku pedoman, buku manual, dan lain-lain.
Adapun koleksi media non buku biasanya berupa terbitan berkala, leaflet, pamlet, brosur, poster, kliping, lukisan atau gambar, peta, globe bahkan alat peraga. Koleksi multimedia merupakan satu bentuk informasi terekam dalam berbagai media yang mengandalkan teknologi elektronik seperti video cassette, audio cassette, CD, DVD, media mikro, audio reader, slide suara, audio book, dan lain-lain. Bahkan kemajuan internet telah membuat informasi dapat diakses secara online melalui situs web, video onine, audio online, journal online, database online, majalah online, koran online dan media online lainnya.
Keberadaan informasi dalam keanekaragaman bentuk media atau sumber tentu menjadikan masalah tersendiri dalam bagaimana menemukan kembali informasi yang ada. Apalagi apabila jumlah informasi yang beredar sudah mencapai ribuan, jutaan bahkan milyaran. Hal inilah yang kemudian mengapa diperlukan adanya media atau strategi untuk mendapatkan informasi secara cepat, tepat dan akurat. Proses dalam menemukan informasi inilah yang sering disebut sebagai temu kembali informasi, dimana secara spesifik juga akan menyangkut penelusuran informasi.
Temu kembali informasi sendiri merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan dan memasok informasi bagi pemakai sebagai jawaban atas permintaan atau berdasarkan kebutuhan pemakai (Sulistyo-Basuki, 1992). “Temu balik informasi” merupakan istilah yang mengacu pada temu balik dokumen atau sumber atau data dari fakta yang dimiliki unit informasi atau perpustakan. Sedangkan penelusuran informasi merupakan bagian dari sebuah proses temu kembali informasi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai akan informasi yang dibutuhkan, dengan bantuan berbagai alat penelusuran dan temu kembali informasi yang dimiliki perpustakaan / unit informasi.
Penelusuran informasi menjadi penting karena “ruh” atau “nyawa” dari sebuah layanan informasi dalam unit informasi atau perpustakaan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan informasi yang diminta pemakai, bagaimana menemukan informasi yang diminta pemakai, dan bagaimana memberikan “jalan” kepada pemakai untuk menemukan informasi yang dikehendaki. Proses penelusuran informasi menjadi penting untuk menghasilkan sebuah temuan atau informasi yang relevan, akurat dan tepat. Proses dan penggunaan alat yang tepat akan menghasilkan informasi yang tepat pula.

Tipe Penelusuran Informasi

Dari pola telusurnya, penelusuran dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:
1. Telusur dokumen: penelusuran dimulai dengan identifikasi dokumen dan / atau sumber, baru dari sini dihasilkan informasi aktual.
2. Telusur informasi: penelusuran dimulai dengan informasi yang diperoleh dari bank data, kumpulan data, atau perorangan.
Selain itu sebetulnya dilihat dari cara dan juga alat yang digunakan, maka penelusuran dapat pula dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:
1. Penelusuran Informasi Konvensional: penelusuran yang dilakukan dengan dan melalui cara-cara konvensional/manual seperti menggunakan kartu katalog, kamus, ensiklopedi, bibliografi, indeks, dan sebagainya.
2. Penelusuran Informasi Digital: penelusuran yang dilakukan dengan dan melalui media digital atau elektronik seperti melalui OPAC (Online Public Access Catalog), Search Engine (di Internet), Database Online, Jurnal Elektronik, Reference Online, dan informasi lain yang tersedia secara elektronik/digital.
Namun pada layanan penelusuran informasi, pembedaan tersebut seringkali diabaikan dikarenakan banyak pemakai yang memilih menggunakan berbagai cara untuk memperoleh apa yang dikehendaki. Bahkan seringkali terjadi penelusuran informasi menggunakan kombinasi dari perangkat penelusuran konvensional dan digital untuk mendapatkan data atau informasi setepa mungkin.

Penelusuran Informasi Konvensional

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa penelusuran informasi konvensional merupakan satu jenis penelusuran yang memanfaatkan sumber-sumber informasi dan atau sumber-sumber penelusuran yang sifatnya konvensional atau offline atau ‘tercetak’. Penelusuran dilakukan dengan menggunakan berbagai media penelusuran seperti katalog tercetak, bibliografi, indeks atau kumpulan indeks, kumpulan abstrak, ensiklopedia atau kamus, dan media lain yang sifatnya ‘manual’ atau dengan teknik-teknik klasik tanpa bantuan teknologi informasi/computer.
Pada penelusuran konvensional pengguna dan juga pustakawan atau petugas perpustakaan dituntut mampu memahami masing-masing fungsi sumber informasi atau sumber penelusuran serta karakteristiknya sehingga mampu menemukan informasi dengan benar, tepat dan akurat. Sebagai Contoh:
“Pengguna harus tahu bahwa untuk mencari koleksi buku/pustaka di sebuah perpustakaan maka yang perlu dilakukan pertama adalah menentukan apa (judul, subyek, penulis) yang akan dicari, kemudian alat apa yang dapat membantu dalam melakukan pencarian. Dalam hal ini biasanya pengguna/petugas paling tidak sudah mempunyai sebuah catatan tentang subyek, judul, penulis atau kata kunci yang akan digunakan untuk menelusur. Sedangkan alat yang digunakan cukup sebuah katalog tercetak (katalog subyek, katalog judul, kataloh pengarang), karena memang yang diperlukan hanya itu. Nah setelah ditemukan, pengguna/petugas juga perlu tahu bagian informasi mana yang perlu ‘diambil’ dan ‘dicatat’ untuk menemukan buku/pustaka yang dimaksud dalam katalog. Biasanya call number atau nomer panggil-lah yang menjadi ‘alat’ terakhir bagi pengguna/petugas untuk menemukan koleksi buku/pustaka yang dimaksud, untuk itu nomer panggil inilah yang perlu diperhatikan selanjutnya oleh pengguna. Sehingga pada kasus ini maka pengguna atau petugas mempunyai dan atau mendapatkan informasi berupa judul/ subyek/pengarang, katalog tercetak, nomer panggil, dan tanda penomoran rak yang akan mengantarkannya kepada koleksi buku/pustaka yang diinginkan.”
Teknik melakukan penelusuran informasi konvensional akan dibahas dalam bagian tersendiri dalam tulisan ini.

Penelusuran Informasi Digital/Online

Adapun penelusuran informasi digital atau elektronik, seperti disebutkan di atas merupakan satu metode penelusuran informasi yang menggunakan teknologi informasi dan computer terutama untuk keperluan penelusuran koleksi atau sumber-sumber informasi yang berupa file elektronik atau digital. Sehingga pada penelusuran informasi digital atau elektronik ini, apa yang dicari dan alat yang digunakan untuk dicaripun sama-sama merupakan hasil dari sebuah pengembangan teknologi informasi dan komputer yang berupa digital atau elektronik.
Sumber-sumber digital sendiri sebetulnya sangat beragam, akan tetapi setidaknya ada beberapa yang mungkin sering digunakan oleh para praktisi dan akademisi yakni:
a) OPAC (Online Public Access Catalog)
OPAC merupakan alat penelusuran informasi yang bersifat elektronik dan digital yang dapat digunakan untuk menemukan informasi pustaka/koleksi baik dalam bentuk tercetak maupun elektronik/digital. Namun memang pada kenyataannya untuk saat ini OPAC ini masih banyak digunakan ‘hanya’ untuk keperluan temu kembali informasi pustaka terutama yang tercetak atau dengan kata lain fungsinya tak lain hanya sebagai pengganti katalog tercetak.
b) E-Journal (Electronic Journal)
Journal elektronik atau orang sering menyebut sebagai e-journal merupakan satu bentuk sumber digital yang dapat digunakan dalam penelusuran informasi yang berasal dari jurnal ilmiah atau popular, baik jurnal tercetak yang dielektronikan maupun jurnal yang memang ‘hanya’ terbit secara elektronik.
c) E-Book
E-book atau buku elektronik merupakan satu sumber digital atau elektronik yang dapat digunakan oleh pengguna yang ingin mendapatkan informasi dari sebuah buku yang dikemas dalam format elektronik atau digital. Pengguna dapat melakukan penelusuran sekaligus membaca bahkan mendownload file buku elektronik yang tersedia di banyak situs di internet. Buku elektronik ini bisa berasal dari buku tercetak yang dielektronikan atau didigitalkan, atau bisa juga hanya terbit dalam versi digital/elektronik.
d) E-Publications
E-Publications atau publikasi elektronik merupakan sumber informasi digital yang diterbitkan oleh berbagai institusi atau penerbit atau organisasi atau bahkan perorangan baik yang bersifat ilmiah atau tidak. Bentuknya dapat apapun seperti e-news, e-newspaper, e-bulletine, e-gallery dan sebagainya.
e) Online Database
Online Database atau Basis Data Online merupakan sumber informasi digital/elektronik yang berisi berbagai macam jenis informasi digital seperti e-journal, e-book, e-proceeding, e-articles, abstracts, images, dan publikasi lainnya yang dapat diakses dari satu situs web atau pangkalan data elektronik. Basis data ini seringkali mengalami distorsi pengertian dengan e-journal, hal ini dikarenakan memang sebagian besar informasi yang ada di dalamnya berupa jurnal elektronik. Namun perlu ditekankan bahwa basis data online (database online) ‘berbeda’ dengan e-journal.
Database online ini kebanyakan merupakan layanan berbayar atau berlangganan tapi ada pula yang tidak alias gratis.
Secara garis besar tiap-tiap database biasanya mempunyai keunikan dan spesialisasi dalam bidang ilmu tertentu. Akan tetapi kadang beberapa database juga merupakan database yang sifatnya general sehingga kadang akan ditemukan beberapa overleaping antara satu database dengan database lainnya. Atau dengan kata lain, ada beberapa sumber informasi digital yang dapat ditemukan dalam berbagai database online yang tersedia. Untuk itu perlu sebuah kejelian dan evaluasi mendalam ketika akan melanggan database online, terutama untuk menghindari banyaknya sumber digital yang sama dalam database berbeda yang dilanggan.
Sedangkan dalam hal teknik penelusuran, pada prinsipnya antara satu database dengan database yang lain, biasanya mempunyai metode pencarian yang sama. Artinya tidak akan berbeda jauh walaupun mungkin hanya berbeda istilah. Sehingga yang perlu dipelajari dalam sebuah penelusuran melalui media online atau elektronik adalah metode yang biasa digunakan dalam penelusuran online, seperti penggunaan tanda wildcard, penggunaan truncation, penggunaan Boolean, dan sebagainya. Jadi mau anda akan menggunakan akses melalui Database Ebsco, Proquest, Jstor, ScienceDirect, IEEE, Westlaw, Scopus maupun jenis database lainnya, maka anda hanya perlu memahami satu metode penelusuran saja, yang lainnya anda tinggal menyesuaikan.
f) Other Resources & Searches Tools
Internet telah memberikan kita kesempatan untuk menikmati berbagai sumber informasi digital dan juga alat untuk menemukan sumber informasi digital/elektronik yang berjumlah jutaan bahkan miliaran itu. Nah, ada beberapa sumber informasi digital dan juga alat penelusuran digital yang dapat dimanfaatkan selain beberapa yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, diantaranya adalah:
a. Search Engine & Meta-Search Engine
Search Engines atau disebut sebagai piranti pencari, merupakan sebuah alamat web yang mempunyai fungsi pencarian sumber-sumber informasi yang terkandung di dalam jaringan internet. Cara kerjanya menggunakan dan membaca informasi yang ada di dalam tag-tag metadata yang tersedia dalam sebuah alamat situs atau web. Selain itu ada satu buah piranti yang bekerja dengan memanfaatkan banyak search engines, yakni apa yang disebut dengan meta-search engines. Meta Search Engines merupakan piranti pencarian yang menggunakan banyak search engines sebagai sumber data untuk pencarian oleh penggunanya. Jadi, ketika kita mencari sebuah topic tertentu menggunakan meta search engines, maka dia akan mencari ke seluruh search engines yang berada dalam jangkauannya.
b. Subject Directories
Subject Directories merupakan sumber informasi digital yang menyediakan informasi dengan metode penyajian menggunakan direktori atau folder dengan topic-topik tertentu yang telah ditetapkan. Dibuat dan dikelola oleh manusia bukan mesin atau program (berbeda dengan search engine yang dikelola oleh program/mesin) dengan mengklasifikasikan subyek ke dalam kategori subyek. Cakupannya tentu lebih sempit dari search engines, akan tetapi secara kualitas isi dan sumber informasi yang ada di dalamnya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Hanya sayang dalam direktori subyek ini, dokumen atau informasi yang ditampilkan jarang sekali dalam bentuk fulltext.
c. Newsgroups dan Mailing-List
Newsgroups atau Mailing-List merupakan komunitas atau kelompok diskusi dalam bidang dan minat tertentu di internet. Keduanya sangat potensial juga untuk digunakan dalam penelusuran informasi digital atau elektronik. Paling tidak interaksi diskusi yang dilakukan melalui keduanya dapat memberikan keuntungan apabila kita membutuhkan informasi tertentu yang bisa jadi dimiliki oleh anggota lain dalam kelompok diskusi tersebut.
Alat dan Teknik Penelusuran Informasi
Bentuk sumber informasi yang beraneka ragam menuntut adanya alat atau piranti atau media untuk menemukan kembali informasi tersebut secara tepat dan benar. Sehingga, bentuk informasi yang akan dicari juga akan menentukan alat apa yang paling cocok digunakan sebagai alat penelusuran dan atau temu kembali informasi.

Daftar Pustaka

  • Gash, Sarah. 2000. Effective Literature Searching for Research. Second Edition. Hampshire: Gower
  • Sulistyo-Basuki. 1992. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Yusuf, Pawit M. 1988. Pedoman mencari sumber informasi. Bandung: Remadja Karya
  • Internetworldstat.com – diakses tanggal 22 Mei 2013
  • Businessdictionary.com – diakses tanggal 22 Mei 2013

Sumber : https://www.dosenmatematika.co.id/

PENGERTIAN SEARCH ENGINE OPTIMIZATION MENURUT AHLI

PENGERTIAN SEARCH ENGINE OPTIMIZATION MENURUT AHLI

PENGERTIAN SEARCH ENGINE OPTIMIZATION

Dalam dunia website/weblog sekarang ini, khususnya bagi para publisher dan blogger diperlukan pengetahuan tentang Search Engine Optimization, website/weblog yang telah sobat buat tugas selanjutnya adalah mendaftarkan website/weblog sobat ke mesin pencari Google atau yang lainnya. Sebelum mendaftarkan website/weblog yang telah dibuat; sekarang yang menjadi pertanyaan apa itu search engine optimization, cara kerja dan fungsi suatu search engine.

Pengertian Search Engine

Mesin pencari web atau yang lebih dikenal dengan istilah web search engine merupakan program komputer yang dirancang untuk mencari informasi yang tersedia didalam dunia maya. Berbeda halnya dengan direktori web (seperti dmoz.org) yang dikerjakan oleh manusia untuk mengelompokkan suatu halaman informasi berdasarkan kriteria yang ada, web search engine mengumpulkan informasi yang tersedia secara otomatis.

Cara Kerja Search Engine

Mesin pencari web bekerja dengan cara menyimpan hampir semua informasi halaman web, yang diambil langsung dari www. Halaman-halaman ini diambil secara otomatis. Isi setiap halaman lalu dianalisis untuk menentukan cara mengindeksnya (misalnya, kata-kata diambil dari judul, subjudul, atau field khusus yang disebut meta tag).

Data

tentang halaman web disimpan dalam sebuah database indeks untuk digunakan dalam pencarian selanjutnya. Sebagian mesin pencari, seperti Google, menyimpan seluruh atau sebagian halaman sumber (yang disebut cache) maupun informasi tentang halaman web itu sendiri.
Ketika seorang pengguna mengunjungi mesin pencari dan memasukkan query, biasanya dengan memasukkan kata kunci, mesin mencari indeks dan memberikan daftar halaman web yang paling sesuai dengan kriterianya, biasanya disertai ringkasan singkat mengenai judul dokumen dan terkadang sebagian teksnya.
Mesin pencari lain yang menggunakan proses real-time, seperti Orase, tidak menggunakan indeks dalam cara kerjanya. Informasi yang diperlukan mesin tersebut hanya dikumpulkan jika ada pencarian baru. Jika dibandingkan dengan sistem berbasis indeks yang digunakan mesin-mesin seperti Google, sistem real-time ini unggul dalam beberapa hal seperti informasi selalu mutakhir, (hampir) tak ada broken link, dan lebih sedikit sumberdaya sistem yang diperlukan (Google menggunakan hampir 100.000 komputer, Orase hanya satu.). Tetapi, ada juga kelemahannya yaitu pencarian lebih lama rampungnya.
Komponen utama dalam Search Engine
Sebuah search engine memiliki beberapa komponen agar dapat menyediakan layanan utamanya sebagai sebuah mesin pencari informasi. Komponen tersebut antara lain :

Web Crawler

Web crawler atau yang dikenal juga dengan istilah web spider bertugas untuk mengumpulkan semua informasi yang ada di dalam halaman web. Web crawler bekerja secara otomatis dengan cara memberikan sejumlah alamat website untuk dikunjungi serta menyimpan semua informasi yang terkandung didalamnya. Setiap kali web crawler mengunjungi sebuah website, maka dia akan mendata semua link yang ada dihalaman yang dikunjunginya itu untuk kemudian di kunjungi lagi satu persatu.
Proses web crawler dalam mengunjungi setiap dokumen web disebut dengan web crawling atau spidering. Beberapa websites, khususnya yang berhubungan dengan pencarian menggunakan proses spidering untuk memperbaharui data data mereka. Web crawler biasa digunakan untuk membuat salinan secara sebhagian atau keseluruhan halaman web yang telah dikunjunginya agar dapat dip roses lebih lanjut oleh system pengindexan. Crawler dapat juga digunakan untuk proses pemeliharaan sebuah website, seperti memvalidasi kode html sebuah web, dan crawler juga digunakan untuk memperoleh data yang khusus seperti mengumpulkan alamat e-mail.
Web crawler termasuk kedalam bagian software agent atau yang lebih dikenal dengan istilah program bot. Secara umum crawler memulai prosesnya dengan memberikan daftar sejumlah alamat website untuk dikunjungi, disebut sebagai seeds. Setiap kali sebuah halaman web dikunjungi, crawler akan mencari alamat yang lain yang terdapat didalamnya dan menambahkan kedalam daftar seeds sebelumnya.
Dalam melakukan prosesnya, web crawler juga mempunyai beberapa persoalan yang harus mampu di atasinya. Permasalahan tersebut mencakup :
  • Halaman mana yang harus dikunjungi terlebih dahulu.
  • Aturan dalam proses mengunjungi kembali sebuah halaman.
  • Performansi, mencakup banyaknya halaman yang harus dikunjungi.
  • Aturan dalam setiap kunjungan agar server yang dikunjungi tidak kelebihan beban.
  • Kegagalan, mencakup tidak tersedianya halaman yang dikunjungi, server down, timeout, maupun jebakan yang sengaja dibuat oleh webmaster.
  • Seberapa jauh kedalaman sebuah website yang akan dikunjungi.
  • Hal yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan web crawler untuk mengikuti
  • perkembangan teknologi web, dimana setiap kali teknologi baru muncul, web crawler harus dapat menyesuaikan diri agar dapat mengunjungi halaman web yang menggunakan teknologi baru tersebut.
Proses sebuah web crawler untuk mendata link – link yang terdapat didalam sebuah halaman web menggunakan pendekatan regular expression. Crawler akan menelurusi setiap karakter yang ada untuk menemukan hyperlink tag html (<a>). Setiap hyperlink tag yang ditemukan diperiksa lebih lanjut apakah tag tersebut mengandung atribut nofollow rel, jika tidak ada maka diambil nilai yang terdapat didalam attribute href yang merupakan sebuah link baru.

Pengertian Ketenagakerjaan

Pengertian Ketenagakerjaan

Pengertian Ketenagakerjaan
Pengertian Ketenagakerjaan

Pada dasarnya setiap manusia hidup harus bekerja dan mempunyai pekerjaan. Hal ini dimaksudkan agar dapat memenuhi kebutuhan hidup baik untuk dirinya sendiri maupun untuk diri orang lain, dan atau kedua-duanya. Masalah pekerjaan ini merupakan masalah yang kompleks dan serius. Nah, pada kesempatan kali ini saya akan mencoa membahas mengenai Ketenagakerjaan. Semoga bermanfaat.

Pengertian Ketenagakerjaan

Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja. Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun – 64 tahun. Bagaimana dengan penduduk yang berumur kurang dari 15 tahun dan lebih dari 64 tahun? Tentu saja mereka tidak termasuk kelompok tenaga kerja.

Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang penting bagi setiap negara. Tanpa adanya tenaga kerja, faktor produksi alam dan faktor produksi modal tidak dapat digunakan secara optimal. Tenaga kerja dibagi atas kelompok angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.

Pemerintah terus mengupayakan peningkatan mutu tenaga kerja dengan cara membekali masyarakat dengan keterampilan sehingga dapat memasuki lapangan pekerjaan sesuai yang dikehendaki. Bahkan, pemerintah sangat mengharapkan agar masyarakat mampu menciptakan lapangan kerja sendiri dengan memanfaatkan peluang yang ada atau membuka kesempatan kerja. Kesempatan kerja mempunyai dua pengertian, yaitu:

  1. dalam arti sempit, kesempatan kerja adalah banyak sedikitnya tenaga kerja yang mempunyai kesempatan untuk bekerja,
  2. dalam arti luas, kesempatan kerja adalah banyak sedikitnya faktor-faktor produksi yang mungkin dapat ikut dalam proses produksi.

Klasifikasi Ketenagakerjaan

Pada dasarnya ketenagakerjaan dapat diklasifikasikan minimal menjadi tiga macam yakni tenaga kerja terdidik (skill labour), tenaga kerja terlatih (trainer labour), tenaga kerja tidak terlatih (unskill labour).

  1. Tenaga kerja terdidik (skill labour)

Tenaga kerja terdidik (skill labour) adalah tenaga kerja yang pernah memperoleh pendidikan formal dalam bidang tertentu tetapi mereka belum pernah dilatih dalam bidang tersebut.

Tenaga kerja terdidik ini diidentikkan dengan tenaga kerja yang belum berpengalaman. Keuntungan di dalam memilih tenaga kerja yang belum berpengalaman ini antara lain:

  • Tenaga kerja yang belum berpengalaman relatif lebih murah harganya karena tidak mempunyai kekuatan posisi tawar yang tinggi terhadap balas jasa atau upah yang diinginkan.
  • Tenaga kerja yang belum berpengalaman relatif banyak tersedia di masyarakat sehingga perusahaan akan lebih leluasa memilih tenaga kerja yang dianggap memenuhi persyaratan dan berpotensi untuk bisa ikut memajukan perusahaan.
  • Tenaga kerja yang belum berpengalaman lebih mudah untuk dibentuk dan diarahkan sesuai dengan tujuan perusahaan.

Sedangkan kelemahannya adalah:

  • Perusahaan harus merencanakan membuat program pelatihan tertentu kepada tenaga kerja yang belum berpengalaman agar benar-benar terampil dan menguasai di bidangnya.
  • Perusahaan harus rela mengeluarkan sejumlah uang guna membiayai jalannya program pelatihan yang telah direncanakan.
  • Untuk menjadikan tenaga kerja terdidik menjadi terlatih memerlukan proses waktu yang lama sehingga hasil yang dicapai oleh perusahaan tentu tidak seperti ketika merekrut tenaga kerja terlatih.
  1. Tenaga kerja Terlatih (trained labour)

Yang dimaksud tenaga kerja terlatih adalah tenaga kerja yang telah bekerja dan pernah mengikuti latihan sesuai dengan bidangnya, misalnya seorang yang telah menamatkan studinya dalam bidang akuntansi, maka mereka dapat digolongkan sebagai tenaga kerja terlatih. Tenaga kerja terlatih ini dapat disamakan dengan tenaga kerja yang sudah berpengalaman.

Keuntungan dalam memilih tenaga kerja yang sudah berpengalaman ini antara lain:

  • Tenaga kerja yang sudah berpengalaman mempunyai tingkat produktivitas tinggi sehingga dapat secara langsung memberikan sumbangan yang besar bagi perusahaan.
  • Tenaga kerja yang sudah berpengalaman ini tidak memerlukan pelatihan khusus dan hanya memerlukan penyesuaian-penyesuaian tertentu sehingga perusahaan tidak perlu membuat program pelatihan seperti yang terjadi pada tenaga kerja yang belum berpengalaman.
  • Sebagai akibatnya perusahaan tidak harus mengeluarkan biaya untuk pelatihan khusus bagi tenaga kerja yang sudah berpengalaman tersebut.

Sedangkan kelemahannya adalah :

  • Tenaga kerja yang sudah berpengalaman ini pada dasarnya lebih sulit diperoleh atau didapat karena jumlahnya tidak banyak.
  • Tenaga kerja yang sudah berpengalaman mempunyai daya tawar tinggi terhadap balas jasa atau upah yang diinginkan. Dengan demikian untuk mendapatkannya perusahaan harus siap memberikan imbalan yang cukup besar.
  • Tenaga kerja yang sudah berpengalaman pada umumnya sudah terbentuk karakternya dan sudah jadi sehingga jika terjadi ketidaksesuaian dengan keinginan perusahaan biasanya sulit untuk diarahkan dan dibelokkan.
  1. Tenaga kerja tidak terlatih (unskill labour)

Yang dimaksud tenaga kerja tidak terlatih adalah tenaga kerja di luar tenaga kerja terdidik dan juga tenaga kerja terlatih. Tenaga kerja tidak terlatih ini merupakan bagian terbesar dari seluruh tenaga kerja yang ada.

Mereka umumnya hanya mengenyam pendidikan formal pada tataran tingkat bawah dan tidak mempunyai keahlian yang memadai karena memang belum ada pengalaman kerja, sehingga pekerjaan yang dikerjakannyapun umumnya tidak memerlukan keahlian secara spesifik. Misalnya seorang pelajar (Tingkat Sekolah Dasar, Tingkat Sekolah Menengah, Tingkat Sekolah Lanjutan Atas) droup out, maka mereka dapat digolongkan pada tenaga kerja tidak terlatih.

Keuntungan di dalam memilih tenaga kerja yang tidak terlatih antara lain:

  • Tenaga kerja yang tidak terlatih ini sangat murah harganya karena di samping tidak mempunyai pendidikan formal tingkat tinggi juga keterampilan yang dimiliki tidak ada. Dengan demikian posisi kekuatan tawar menawar menjadi sangat lemah dibanding dengan tenga kerja terdidik dan tenaga kerja terlatih.
  • Tenaga kerja yang tidak terlatih ini paling banyak tersedia di masyarakat, bahkan melebihi dari kapasitas tenaga kerja yang dibutuhkan, sehingga perusahaan akan sangat leluasa sekali untuk memilih tenaga kerja yang dianggap benar-benar memenuhi persyaratan dan berkomitmen untuk ikut mengembangkan perusahaan.
  • Tenaga kerja yang tidak terlatih ini sangat mudah untuk diarahkan sesuai tujuan perusahaan.

Sedangkan kelemahannya adalah :

  • Tenaga kerja yang tidak terlatih ini hanya dapat menjalankan perkerjaan yang bersifat umum dan tidak memerlukan keahlian.
  • Tenaga kerja tidak terlatih ini hanya dapat menjalankan pekerjaan yang bersifat rutin dan umunya tingkat inisiatif daya kreativitasnya rendah sehingga bila terjadi kendala di lapangan mereka akan merasa kesulitan untuk mencari jalan keluarnya
  • Tenaga kerja tidak terlatih ini kurang bisa menjalankan tugas dan tanggungjawabnya, sehingga perlu pengawasan yang lebih teratur dari pihak perusahaan.

 

Baca Artikel Lainnya:

Memindahbukukan Jurnal Ke Buku Besar

Memindahbukukan Jurnal Ke Buku Besar

Memindahbukukan Jurnal Ke Buku Besar

Pengertian Buku Besar

Memindahbukukan Jurnal Ke Buku Besar – Buku besar (ledger) adalah tempat menampung seluruh transaksi yang telah diklasifikasikan melalui jurnal atau sebuah buku yang berisi kumpulan akun atau perkiraan (accounts). jadi seluruh jurnal dimasukkan ke dalam buku besar dengan cara memindahbukukan (posting) jurnal ke buku besar.  Akun (rekening) tersebut digunakan untuk mencatat secara terpisah aktiva, kewajiban, dan ekuitas. Dengan demikian, akun merupakan kumpulan informasi dalam sebuah sistem akuntansi. Misalnya, kas dicatat dalam akun kas, piutang dicatat dalam akun piutang, tanah dicatat dalamakun tanah, dan sebagainya untuk akun-akun yang termasuk dalam kelompok akun aktiva. Kelompok akun kewajiban akan dijumpai akun hutang, pinjaman jangka panjang, dan lain-lain sesuai dengan jenis kewajiban tersebut. Demikian pula, modal dicatat dalam akun ekuitas Sistem pemprosesan transaksi dalam perusahaan dapat dilakukan secara manual maupun komputerisasi.

Sistem Pemprosesan

Dua system pemprosesan tersebut akan mempengaruhi input,proses,output,menejemen data dan pengendaliannya.

  1. Sistem pemprosesan transaksi secara manual

Transaksi secara manual dimulai dari dokumen sumber transaksi akan dicatat dalam jurnal khusus dan jurnal umum sesuai dengan tipe transosesmpraksinya.

  1. Sistem pemprosesan transaksi berkomputerisasi

Sistem pemprosesan transaksi terkomputerisasi pada dasarnya memiliki proses yang sama dengan system pemprosesan transaksi secara manual.

Beberapa klsifikasi perkiraan dapat dijelaskan sebagai berikut :

1)    Klasifikasi menurut pelaporan keuangan :

  1. Perkiraan aktiva yaitu semua perkiraan yang mencatat aktiva yang mencatat (asset accounts).
  2. Perkiraan utang atau kewajiban (liabilities accounts).
  3. Perkiraan modal (capital accounts).
  4. Perkiraan biaya (expense accounts).
  5. Perkiraan penghasilan (revenue accounts).

2)    Klasifikasi menurut perlakuan jurnal.

Perkiraan biaya dapat dikelompokkan dalam satu golongan apabila ditinjau dari segi perlakuan jurnal. Apabila perkiraan ini bertambah maka dibukukan di debet dan sebaliknya apabila berkurang dibukukan di kredit.

3)    Dilihat dari segi pemecahannya perkiraan dibagi dua yaitu ;

  1. Perkiraan kontrol (controlling/general ledger account).
  2. Perkiraan pembantu (subsidiary account)

4)    Lain – lain, Kita mengenal perkiraan netral (neutral account).

Perkiraan ini merupakan perkiraan yang disajikan ke dalam laporan keuangan. Dia hanya di pakai sewaktu proses akuntansi sebagai perkiraan yang dipakai dalam proses penyusunan laporan keuangan.

Buku besar merupakan suatu buku yang berisi kumpulan akun atau perkiraan yang telah dicatat dalam jurnal. Akun – akun tersebut digunakan untuk mencatat secara terpisah antara aktiva, kewajiban atau hutang dan ekuitas.

Sumber: https://sel.co.id/

Dampak Mobilitas Sosial

Dampak Mobilitas Sosial

Dampak Mobilitas Sosial

Dampak Mobilitas Sosial – Menurut Horton dan Hunt ( 1987 ), ada beberapa konsekuensi negatif dari adanya mobilitas sosial vertical , antara lain sebagai berikut:

  1. Adanya kecemasan akan terjadi penurunan status bila terjadi mobilitas menurun.
  2. Timbulnya ketegangan dalam mempelajari peran baru dari status jabatan yang meningkat
  3. Keretakan hubungan antaranggota kelompok primer, yang semula karena seseorang berpindah ke status yang lebih rendah.

Dampak mobilitas sosial bagi masyarakat terdiri dari dua macam, yaitu dampak positif dan dampak negatif, yang antara lain sebagai berikut:

Dampak Positif

  • Mendorong seseorang untuk lebih maju

terbukanya kesempatan untuk pindah dari strata satu ke strata yang lain menimbulkan motivasi yang tinggi pada diri seseorang untuk maju dalam berprestasi agar memperoleh status yang lebih tinggi.

  • Mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik

dengan mobilitas, masyarakat selalu dinamis bergerak menuju pencapaian tujuan yang diinginkan.

  • Meningkatkan integrasi sosial

terjadinya mobilitas sosial dalam suatu masyarakat dapat meningkatkan integrasi sosial.

Dampak Negatif

  • Timbulnya konflik

Konflik yang ditimbulkan oleh mobilitas sosial dapat dibedakan menjadi 3 bagian,yaitu sebagai berikut :

1)    Konflik antarkelas

apabila terjadi perbedaan kepentingan antarkelas sosial, maka bisa memicu terjadinya konflik antarkelas. dengan adanya keadaan seperti itu keseimbangan dalam masyarakat menjadi terganggu. contohnya konflik antara majikan dan buruh dalam suatu perusahaan.

2)    Konflik antarkelompok sosial

Konflik ini dapat berupa:

  1. Konflik antara kelompok sosial yang masih tradisional dengan kelompok sosial yang modern.
  2. Proses suatu kelompok sosial tertentu terhadap kelompok sosial lain yang memiliki wewenang.

 3)    Konflik antargenerasi

a.Berkurangnya Solidaritas Kelompok

Dampak lain mobilitas sosial dari faktor psikologis

Dampak lain mobilitas sosial dari faktor psikologis antara lain sebagai berikut :

  1. Menimbulkan ketakutan
  2. Adanya gangguan psikologis bila seseorang turun dari jabatannya ( post power syndrome )
  3. Mengalami frustasi.

Sumber: https://duniapendidikan.co.id/