Dampak Imperialisme dan Kolonialisme pada Bangsa Indonesia
Posted on: November 5, 2018, by : g3wgj

Dampak Imperialisme dan Kolonialisme pada Bangsa Indonesia

Bentuk karya sastra layaknya cerpen, esai, dan yang lain, sejatinya, merupakan peninggalan “tidak langsung” berasal dari zaman pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1659, Belanda sebabkan surat kabar pertama yang diberi nama Bataviasch Courant. Surat kabar ini lah yang selanjutnya jadi wadah kami untuk berekspresi secara tulisan. Baik untuk membagi berita, hingga penyebaran agama kristen. Secara tidak langsung juga, kehidupan sosial budaya kami terpengaruh olehnya.

Nah, kamu rela mengerti nggak apa saja efek imperialisme dan kolonialisme pada Indonesia di bidang lain? Yuk kami bahas satu per satu.

Disadari atau tidak, wujud pemerintahan kami sekarang terhitung merupakan “warisan” berasal dari pemerintahan kolonial Belanda. Zaman dahulu, sistem kepemimpinan kami berbentuk pamong praja. Jabatan yang sifatnya turun-temurun dan upetinya didapat berasal dari rakyat. Artinya, kalau kamu baru bisa jadi “penguasa” kalau kamu keturunan raja. Kalau tidak, ya tidak.

Daendels dan Raffles kemudian mengubahnya jadi pemerintahan modern. Bupati dijadikan pegawai negeri dan digaji. Bagi mereka, bupati adalah alat kekuasaan. Ya, baik Belanda maupun Inggris melaksanakan intervensi pada kerajaan. Alhasil, elit kerajaan tidak cukup leluasa di dalam pergerakan politik.

Imperialisme dan kolonialisme yang pernah mendera Indonesia terhitung sebabkan hal lain: kesibukan pemerintahan berpusat di jawa. Hal ini selanjutnya terbawa hingga sekarang. Meskipun selagi ini kami udah melaksanakan desentralisasi, namun senantiasa menjadi bahwa wilayah Jawa seakan adalah pusat pemerintahan.

Tentu, selagi pemerintah kolonial Belanda menguasai Indonesia, tidak sedikit perlawanan yang menghadang. Salah satunya adalah perlawanan ciamik lewat dunia politik. Kebanyakan rakyat bergerak lewat organisasi di dalam maupun luar negeri.

Sayangnya, kehadiran kolonial memperburuk sosial budaya kita. Adanya Belanda sebabkan kami terbiasa hidup di dalam kotak-kotak masyarakat. Mereka, bersama dengan sengaja sebabkan kasta antargolongan. Buat mereka, bangsa eropa adalah yang tertinggi. Disusul Asia, Timur Jauh, dan, kasta terendah adalah kaum pribumi.

Tidak cuma itu, penindasan dan pemerasan secara kejam terhitung terjadi. Upacara adat di istana-istana kerajaan dihilangkan. Merka menggantinya bersama dengan tradisi pemerintahan Belanda.

Kebiasaan pemerintah Kolonial pakai bahasa Belanda, di segi lain, mempunyai efek tersendiri. Sedikit banyak kami memiliki bahasa serapan yang berasal berasal dari bahasa Belanda. Kantor yang berasal berasal dari kata “Kantoor”. Dan koran yang berasal berasal dari kata “krant”.

Pengaruh lain berasal dari Belanda tersedia pada karya sastra kita. Belanda yang memperkenalkan surat kabar pada tahun 1659 tentu mendukung di dalam penyebaran informasi. Bahkan, penyebaran Katolik dan Protestan terhitung bisa ditemui berasal dari koran.

Karena target Belanda di Indonesia untuk melacak rempah-rempah, mereka perlu sebabkan infrastruktur untuk mengangkut pasokan bahan makanan. Makanya, mereka memiliki andil di dalam pembuatan pembangunan rel kereta dan jalan raya. Bahkan mereka terhitung membangun waduk dan saluran irigasi. Selain itu. Mereka terhitung membangun industri bertambahnya bersama dengan membuka kilang minyak bumi di Tarakan, Kalimantan Timur.

Oke, barangkali paragraf di atas sebabkan kamu menjadi kalau “Belanda itu baik” dikarenakan membangun infrastruktur dan perekonomian kita. Tapi, satu hal yang perlu diingat adalah, cara mereka memperlakukan rakyat kita. Kebijakan tanam paksa dan ekonomi liberal yang mereka wujud sebabkan rakyat Indonesia dipaksa jadi penghasil bahan mentah aja. Alhasil, kami tidak memiliki jiwa “Entrepreneur”. Lha, wong disuruh menanam pala terus.

Yah, monopoli dagang yang dibikin VOC terhitung sebabkan perdagangan Nusantara di kancah internasional jadi mundur. Karena kami cuman mengerti bikin bahan mentah, namun tidak mengerti cara produksi lebih lanjut.

Di bidang pendidikan, Pemerintah Kolonial berhasil pakai rakyat kami untuk dijadikan pegawai administrasi yang terdidik, terampil, namun dihargai murah. Secara pendidikan formal, Belanda menyusun kurikulum pengajarannya sendiri hingga abad ke-19. Makanya, tersedia kecenderungan politik dan kebudayaan yang dimasukkan lewat pendidikan.

Masalahnya, akses untuk pendidikan ini dibatasi oleh mereka. Belanda lagi-lagi sebabkan sekat dan kasta. Karena mereka was-was kalau rakyat kami benar-benar pintar, kami bisa bersatu untuk menggulingkan kekuasaan mereka. Makanya, cuma orang-orang “berada” yang bisa masuk. Seperti keturunan raja, bangsawan, dan entrepreneur kaya.

Lama-kelamaan, hal ini sebabkan sebagian kalangan jadi geram. Alhasil, menjadi bermunculan akademisi yang mementingkan pendidikan di Indonesia. Mulai berasal dari bedirinya Budi Utomo. Masuknya pendiidikan berbasis agama layaknya Muhammadiyah. Dan, tentu saja, lewat papa pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara.

Selengkapnya : https://www.ruangguru.co.id/